gambar

JADWAL RETRET SMA 2 WONOSARI 2013

DARTAR ACARA retret new

DIKTAT KELAS XII SMA N 2 WONOSARI

DIKTAT

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XII

SMA NEGERI 2 WONOSARI GUNUNGKIDUL

TEMA 1

NILAI-NILAI PENTING DALAM MASYARAKAT YANG HARUS DIPERJUANGKAN

BAB 1

MEMPERJUANGKAN KEADILAN

  1. KOMPETENSI
    1. Standar Kompetensi   :

Memahami makna firman Allah, ajaran Yesus dan ajaran Gereja dalam mengembangkan kehidupan bersama sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

  1. Kompetensi Dasar

Memahami arti perjuangan untuk menegakkan keadilan, kejujuran, kebenaran, perdamaian dan keutuhan ciptaan sesuai dengan iman dan peranannya.

  1. Indikator
    1. Menyebutkan sasaran yang dikritik Nabi Amos, bentuk-bentuk ketidakadilan yang dikecam Amos
    2. Menjelaskan makna keadilan
    3. Menjelaskan berbagai upaya negara menjamin keadilan warganya
  1. Uraian Tujuan

Masyarakat manusia memiliki nilai-nilainya sendiri keadilan, kejujuran, kebenaran, persaudaraan perdamaian dan cinta lingkungan. Dalam pelajaran ini siswa diajak mendalami nilai-nilai tersebut dalam terang Kitab Suci, meresapkan dan melakukannya, sehingga Kerajaan  dapat tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat kita.

  1. RINGKASAN MATERI
    1. Kasus-kasus ketidakadilan di Tanah Air
    2. Akar masalah ketidak adilan
    3. Ketidakadilan dalam terang Kitab Suci.
    4. Bentuk ketidakadilan yang dikecam Amos
    5. Perjuangan menegakkan keadilan
      1. Arti dan makna keadilan

b.Distingsi Keadilan

  1. c.           Landasan Keadilan

d.Keadilan dasar dan landasan Negara

e.Landasan Keadilan

  1. Perjuangan Gereja Memperjuangkan Keadilan.
  1. PENJELASAN TEORI
  1. 1.      Kasus-kasus ketidakadilan di Tanah Air
    1. Perampasan dan penggusuran hak milik orang, pencurian, perampokan dan korupsi,
    2. Pemerasan, KKN dan rekayasa
    3. Keengganan membayar utang (kredit macet) yang merugikan rakyat kecil
    4. Sikap diskriminatif dan tidak berperikemanusiaan terhadap kaum perempuan, pendatang, imigran.
    5. Penganiaayaan karena perbedaan etnis, atau suku yang kadang-kadang berakibat pada pembunuhan missal.
    6. Penganiayaan terhadap orang-orang yang menganut kepercayaan tertentu oelh kelompok-kelompok “penguasa” karena merasa diri terancam.
    7. Perlakuan semena-mena terhadap orang-orang dari aliran politik tertentu
    8. Penolakan terhadap oranng-orang jompo, yatim piatu, orang sakit dan cacat.
    9. Tidak memberi kesempatan bersuara, sehingga mereka menderita tanpa mampu berbuat apa-apa.
  1. 2.      Akar masalah ketidak adilan

a.Sistem dan struktur sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang diciptakan oleh “penguasa”, yang sadar atau tidak dibangun oleh penguasa dan pengusaha untuk menciptakan ketergantungan di kalangan rakyat jelata.

b.Pembangunan saat ini belum memberikan kesempatan yang luas bagi “orang-orang kecil”. Baik di lingkup yang besar (percaturan bangsa-bangsa) maupun lingkup yang kecil (di lingkungan kita sendiri)

  1. 3.      Ketidakadilan dalam terang Kitab Suci.

Dalam Kitab Amos 1-6 diceritakan Amos yang tampil di Israel saat Israel mencapai puncak kemakmuran sekitar tahun 750 SM. Ia diutus  mengingatkan bangsa Israel akan kelakuan mereka yang tidak berkenan kepada Allah, untuk menegakkan keadilan.

Situasi masyarakat/bangsa Israel pada zaman Nabi Amos tampil :

  1. Kekayaan dikuasai oleh sekelompok kecil orang yang merusak hidup mereka sendiri.
  2. Penguasa dan orang kaya menipu dan memeras orang-orang kecil
  3. Upacara keagamaan yang meriah menjadi kedok untuk menutupi kejahatan. Menjadi ibadat yang dibenci Tuhan.

Nabi Amos juga memberi jalan keluar yang harus ditempuh untuk menghindari hukuman dari Allah, yaitu: pertobatan mendasar (Am 5:4-6). Pada akhir masa baktinya nabi Amos menjanjikan keselamatan dari Allah bagi sisa-sisa Israel. (Am 9:11-15)

  1. 4.      Perjuangan menegakkan keadilan
    1. Arti dan makna keadilan

1)      Adil berarti memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, baik itu hak asasi maupun hak yang didasarkan pada tindakan bebas manusia.

2)      Keadilan menunjuk pada seuatu keadaan, tuntutan akan keutamaan.

a)      Sebagai keadaan, semua pihak memperoleh apa yang menjadi hak mereka dan diperlakukan sama.

b)      Sebagai tuntutan : menuntut agar keadaanm adil diciptakan baik dengan mengambil tindakan yang diperlukan maupun menjauhkan diri dari tindakan yang tidak adil.

c)      Sebagai keutaman, keadilan adalah sikap, tekad, niat untuk melakukan apapun yang adil.

b.Distingsi Keadilan

Perbedaan keadilan komutatif, distributif  dan keadilan legal

1)      Keadilan Komutatif, menuntuk kesamaan dalam pertukaran, mislanya mengembalikan pinjaman atau melakukan jual beli dalam batas kepantasan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

2)      Keadilan distributive menuntut kesamaan dalam membagikan apa  yang menguntungkan dan dalam menuntut pengorbanan. Misalnya kekayaanalam  dinikmati bersama secara adil, dan pengorbanan pembangunan ditanggung bersama secara adil.

3)      Keadilan legal, menuntut kesamaan hak dan kewajiban terhadap Negara sesuai dengan aturan dan undang-undang yang berlaku.

  1. c.                    Keadilan dasar dan landasan Negara

1)      Keadilan adalah keutamaan sosial yang paling mendasar, dan khas manusiawi, dengan sadar (menggunakan akal budi dan kehendak bebas) manusia mampu mengakui hak orang lain.

2)      Keadilan adalah prinsip menata dan membangun masyarakat manusiawi.

3)      Keadilan mengatur kehidupan bersama antar manusia.

d. Landasan Perjuangan Keadilan

1)      Negara

a)      Dalam Pembukaan UUD 1945 dikatakan bahwa menciptakan keadilan sosial adalah salah satu tugas utama Republik Indonesia

b)      Tuntutan keadilan sosial dijabarkan dalam pasal 33-34 tentang menyusun perekonomian nasional. Ayat 1 pasal 33 tentang semangat kekeluargaan yang harus menjiwai perekonomian nasional. Kekeluargaan berarti dalam menjalankan produksi untuk kepentingan bersama. Passal 34, Negara diwajibkan memperhatikan orang-orang atau kelompok yang tidak berdaya.

2)      Gereja

a)      Kel 20:15 dan Ul 5:19   “Jangan mencuri”  dalam arti aslinya jangan mencuri orang/menculik.dan menjualnya sebagai budak.

b)      Ensiklik-ensiklik para Paus dan pernyataan dari konferensi Uskup-uskup merupakan tanggapan atas keprihatinan Gereja terhadap masalah keadilan sosial. Misalnya :

  1. Ensiklik Rerum Novarum (Paus Leo XIII) dan Qudragesimo Anno (Pius XI) berbicara tentang keadilan terhadap para buruh.
  2. Ensiklik Pacem in Terris (Yohanes XXIII) berbicara tentang perdamaian antara bangsa-bangsa dalam kebenaran, keadilan dan kemerdekaan.
  3. Ensiklik Populorum Progressio Paulus V) Berbicara tentang kesenjangan Negara-negara kaya dan Negara-negara miskin.
  1. SAJIAN CONTOH
    1. Bagaimana kesan dan perasaanmu sesudah mengamati cerita bergambar “TANAH KAMI” ?

Jawaban : Keadaan ironis. Pembangunan tidak membuat orang sejahtera, justru menjadi korban dari pembangunan tersebut.

  1. Sebutkanlah kasus-kasus lain yang mirip dengan kisah tersebut !

Jawaban : Penggusuran-penggusuran. Alih fungsi lahan.

  1. Dalam kasus-kasus itu, siapa yang menindas dan yang ditindas ?

Jawaban : Yang menindas pemerintah dan pengusaha. Yang ditindas rakyat kecil

  1. Mengapa sering terjadi ketidakadilan ?

Jawaban : Karena kebijakan pembangunan darfi pemerintah tidak berpihak pada rakyat kecil. Potensi dan peluang untuk berkembang dihambat.

  1. LATIHAN SOAL
    1. Sebutkan kasus-kasus ketidakadilan dalam bidang :
      1. Ekonomi

b.Sosial

  1. c.   Budaya
  2. Keagamaan
  3. Politik
  1. Apa akar ketidakadilan ?
  2. Apa arti keadilan ?
  3. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan?
  4. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan legal?
  5. Sebutkan sasaran yang dikritik Nabi Amos!
  6. Apa bentuk-bentuk ketidakadilan yang dikecam Amos?
  7. Jelaskan arti keadilan sebagai dasar dan landasan Negara!
  8. Sebutkan landasan menegakkan keadilan menurut :
  9. Jelaskan berbagai upaya Negara menjamin keadilan warganya
    1. Negara
    2. Kitab Suci
    3. Gereja

 

 

 

TEMA 1

NILAI-NILAI PENTING DALAM MASYARAKAT YANG HARUS DIPERJUANGKAN

BAB 2

MEMPERJUANGKAN KEBENARAN

  1. KOMPETENSI
  2. Standar Kompetensi   :

Memahami makna firman Allah, ajaran Yesus dan ajaran Gereja dalam mengembangkan kehidupan bersama sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

  1. Kompetensi Dasar

Memahami arti perjuangan untuk menegakkan keadilan, kejujuran, kebenaran, perdamaian dan keutuhan ciptaan sesuai dengan iman dan peranannya.

  1. Indikator

Memperjuangkan kebenaran

  1. Menjelaskan arti dan bentuk-bentuk kebohongan yang terjadi dalam masyarakat.
  2.  Menjelaskan makna firman kedelapan: Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu
  1. Uraian Tujuan

Masyarakat manusia memiliki nilai-nilainya sendiri keadilan, kejujuran, kebenaran, persaudaraan perdamaian dan cinta lingkungan. Dalam pelajaran ini siswa diajak mendalami nilai-nilai tersebut dalam terang Kitab Suci, meresapkan dan melakukannya, sehingga Kerajaan  dapat tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat kita.

  1.   ISI MATERI

Memperjuangkan Kebenaran

  1. Arti Kebohongan
  2. Bentuk-bentuk kebohongan yang terjadi dalam masyarakat.
  3. Sebab Kebohongan
  4. Akibat kebohongan
  5. Makna firman kedelapan: jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
  1. PENJELASAN TEORI
  1. Arti kebohongan :

Kebohongan adalah, menyembunyikan atau tidak mengatakan kebenaran seperti apa adanya.

  1. Bentuk-bentuk Kebohongan yang terjadi dalam masyarakat:
  2. Berdusta dan Saksi Dusta: Berdusta berarti mengatakan yang tidak benar untuk menyesatkan, melawan kebenaran untuk menyesatkan seseorang yang berhak mengetahui kebenaran.
  3. Rekayasa atau manipulasi:  menyiasati atau mengarahkan orang lain ke tujuan yang menguntungkan dirinya sendiri meskipun barangkali orang lain merugi.
  4. Asal Bapak Senang (ABS), kata-kata dan sikap yang manis yang dilakukan hanya untuk menyenangkan atasan, meskipun jauh dari kebenaran.
  5. Fitnah dan umpatan, mengatakan hal yang tidak benar tentang seseorang saat orang tersebut tidak ada sehingga tidak dapat membela diri atau menyatakan kebenarannya.
  1. Sebab-sebab Kebohongan
    1. Berbohong sekedar iseng, menikmati kesenangan karena ora terperdaya dan tertipu atau terpedaya.
    2. Berbohong untuk memperoleh keuntungan tertentu: Para pedagang supaya mendapat untung lebih besar.
    3. c.       Berbohong karena takut dalam situasi terjepit, untuk menyelamatkan diri dari situasi yang sulit sehingga terpaksa berbohong.

 

  1. Akibat Kebohongan

a.Bagi Diri Sendiri

1)Mendapat kenikmatan semu dalam jangka pendek

2)Mengalami bencana pribadi dalam jangka panjang

3)Kehilangan kredibilitas dan kepercayaan

b.Bagi yang Dibohongi

1)      Mendapat gambaran yang salah dan bisa mengambil tindakan yang fatal bagi dirinya dan orang lain.

2)      Masuk dalam komunikasi dan relasi yang semu dengan pihak yang membohongi

c. Bagi Masyarakat luas

Penipuan, rekayasa, dan manipulasi amat merugikan masyarakat luas.

  1. Makna firman kedelapan: jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
    1. a.  Kebohongan dan Kebenaran Menurut Terang Kitab Suci

1)      Dalam Kitab Suci kebenaran berarti ambil bagian dalam kehidupan Allah, karena Allah adalah sumber kebenaran.

2)      Dalam Kitab Suci dinyatakan saksi dusta tentang sesamamu manusia, karena menyangkut kesaksian di pengadilan. Masalah pokoknya adalah kepastian hukum yang dapat dijungkirbalikkan oleh kebohongan. Kel 23:1-3. 6-8

3)        Ul 16-19, 16:19 Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap” Inilah maksud firman ke delapan. Di muka pengadilan orang harus menyatakan kesetiaan, terhadap terdakwa, sesama manusia, dan masyarakat serta umat Allah.

b. Kebenaran dan kebohongan dalam Gereja

1)      Dalam Tradisi Gereja  : Bagi orang Kristen mengatakan kebenaran adalah ungkapan cinta kasih. Jujur tidak hanya berarti bicara sesua kenyataan, melainkan harus mengungkapkan semangat cinta kasih.

2)      Dalam Perjanjian Lamai: Kebenaran  tidak hanya sesuai dengan kenyataan,  kebenaran ada pada Allah, karena Allah memenuhi janjiNya, yaitu tetap setia pada janjiNya.

3)      Dalam Perjanjian Baru: Yesus adalah kebenaran. Ia dibenarkan oleh Allah dengan kebangkitanNya

  1. SAJIAN CONTOH

Teks cerita “Raksasa di Sungai”

Imam di desa terganggu doanya karena anak-

Anak ramai bermain-main di sebelah

rumahnya. Untuk menghalau anak-anak itu ia

berseru:”Hai, ada raksasa mengerikan di

sungai bawah sana. Bergegaslah ke sana!

Nanti kamu akan melihatnya sedang

Menyemburkan api lewat lubang hidungnya.”

Sebentar saja semua orang kampong

Sudah mendengar tentang munculnya raksasa

Itu. Mereka cepat-cepat berlari menuju

Sungai. Ketika imam itu melihat hal itu, ia ikut

Bergabung bersama banyak orang. Sambil

Berlari sepanjang jalan menuju ke sungai

yang enam kilometer jauhnya, ia kembali

berpikir:”Memang benar, aku sendiri yang

membuat cerita. Tetapi barangkali benar

juga,…siapa tahu?”

(Sumber:A. de Mello,SJ. Burung Berkicau. CLC

Pertanyaan untuk mendalami cerita:

  1. Bagaiman kesanmu terhadap cerita tersebut ?

Jawaban : Bruder yang membuat kebohongan ternyata tidak sadar tertipu oleh kebohongannya sendiri, karena dia lupa bahwa dialah yang membuat cerita bohong tersebut.

  1. Apa pesan cerita tersebut ?

Jawaban : Kebohongan akan membuahkan kebohongan.

  1. Sebutkan bentuk kebohongan yang sering terjadi dalam masyarakat !

Jawaban : Asal Bapak Senang, Rekayasa, fitnah, manipulasi.

  1. Sebut dan jelaskan sebab akibat dari kebohongan !
  1. SOAL LATIHAN
    1. Apa arti Kebohongan ?
    2. Sebutkan bentuk-bentuk kebohongan yang terjadi dalam masyarakat dan jelaskan!
    3. Apa sebab Kebohongan?
    4. Apa akibat kebohongan?
    5. Mengapa oranng melakukan kebohongan ?
    6. Bagaimana kebenaran dan kebohongan menurut Gereja?
    7. Apa makna firman kedelapan: jangan bersaksi dusta tentang sesamamu?

TEMA 1

NILAI-NILAI PENTING DALAM MASYARAKAT YANG HARUS DIPERJUANGKAN

BAB 3

MEMPERJUANGKAN KEJUJURAN

  1. KOMPETENSI
    1. Standar Kompetensi   :

Memahami makna firman Allah, ajaran Yesus dan ajaran Gereja dalam mengembangkan kehidupan bersama sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

  1. Kompetensi Dasar

Memahami arti perjuangan untuk menegakkan keadilan, kejujuran, kebenaran, perdamaian dan keutuhan ciptaan sesuai dengan iman dan peranannya.

  1. Indikator
    1. Menyebutkan berbagai bentuk ketidakjujuran dan dampak bagi hidup bersama.
    2. Menyebutkan dan menjelaskan bentuk-bentuk ketidakjujuran yang dikecam Yesus serta alasannya.
    3. Menjelaskan makna kejujuran dan menyebutkan usaha-usaha memperjuangkan kejujuran.
  1. Uraian Tujuan

Masyarakat manusia memiliki nilai-nilainya sendiri keadilan, kejujuran, kebenaran, persaudaraan perdamaian dan cinta lingkungan. Dalam pelajaran ini siswa diajak mendalami nilai-nilai tersebut dalam terang Kitab Suci, meresapkan dan melakukannya, sehingga Kerajaan  dapat tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat kita.

  1. ISI MATERI
  2. Bentuk-bentuk ketidakjujuran
  3. Dampak ketidakjujuran
  4. Bentuk ketidakjujuran yang dikecam Yesus dan alasannya
  5. Makna kejujuran
  6. Usaha-usaha memperjuangkan kejujuran
  1. PENJELASAN TEORI
  2. 1.       Bentuk-bentuk Ketidakjujuran

Ketidakjujuran di bidang politik

  1. Penguasa bersikap curang, korup, untuk kepentingan diri dan golongannya sendiri. Memanipulasi undang-undang dan peraturan atau menggunakan agama untuk kepentingan politik.
  2. Rakyat jelata menghadapi kekuasaan sewenang-wenang akan bersikap munafik, formalistic, ABS dan sebagainya.

Ketidakjujuran di Bidang Ekonomi

  1. a.      Penguasa dan pengusahan akan bersikap korup, melakukan mark up, kredit macet, menggelapkan uang Negara dan sebagainya.
  2. b.      Rakyat berusaha menyuap, bersikap ABS, menipu dan sebagainya.

 

Ketidakjujuran di Bidang Budaya/Pendidikan

  1. Penguasa merekayasa pendidikan, termasuk undang-undangnya, mentolerir budaya tertentu dan mendeskreditkan budaya tertentu untuk kepentingan tertentu.
  2. Rakyat dan anak didik bersikap formalistic.
  1. Dampak ketidakjujuran

Bagi Para pelaku

  1. Meskipun berkelimpahan belum tentu bahagia
  2. Hati nurani matai bila ketidakjujuran dilakukan berulang-ulang.
  3. Moral dan kepribadian akan merosot
  4. Akan menimbulkan penederitaan dalam jangka waktu panjang.

Bagi Masyarakat Luas

a. Krisis multidimensi,

b.krisis di bidang politik/hukum,

c. ekonomi,

d.lingkungan hidup,

e.budaya

  1. Bentuk ketidakjujuran yang dikecam Yesus

a. Kemunafikan, orang menganggap dirinya suci sehingga sangat sulit bertobat, mengandalkan kekuatannya sendiri, merasa tidak membutuhkan Allah, merebut keselamatan dengan jasa dan kekuatan mereka sendiri. (Luk 18:9-14).

b.Sumpah Palsu Mat 5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37)

  1. Makna Kejujuran

Dalam kamus bahasa Indonesia jujur berarti tidak curang dn tidak berbohong, satu kata dengan perbuatan.

  1. Kejujuran menjadi modal perkembangan pribadi dan kemajuan kelompok.
  2. Kejujuran menimbulkan kepercayaan, yang menjadi landasan dari pergaulan.
  3. Kejujuran memecahkan banyak persoalan baik pribadi, kelompok, masyarakat maupun Negara. Krisis multi dimensi dapat teratasi
  1. Usaha-usaha memperjuangkan kejujuran

Hal yang diperklukan dalam memperjuangkan Kejujuran

  1. Kejujuran adalah sikap, yang dicapai gerakan moral yang menggunakan berbagai jejaring dan melibatkan sebanyak mungkin orang dan perlu waktu yang panjang.
  2. Gerakan moral ini murni gerakan moral, yang harus menghindarkan institusional.
  3. Gerakan moral yang bermuara pada aksi pembaruan dan pembangunan masyarakat yang sejahtera dan adil.
  4. Gerakan moral diinspirasikan dan diprakarsai dari atas dan harus bertumbuh dari akar rumput atau kalangan bawah.
  5. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan proses yang komunikatif dari situasi yang memprihatinkan. Gerakan yang otentik tumbuh dan muncul dengan bebas tidak diperintahkam atau diintruksikan.
  6. Gerakan moral harus dimulai dari kelompok itu sendiri, mulai dengan pola alternative yang mempunyai daya pikat.
  1. SAJIAN CONTOH

         Bacalah cerita-cerita ini !

BILL DARI LOS ANGELES

Bill, Seorang Negro, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Los Angeles. Ia bekerja untuk menghidupi keluarganya dan tiga anaknya. Pada sutau hari, dia melihat uang sebesar $240.000,00 dalam bentuk uang kecil jatuh dari sebuah kendaraan bank. Bill mengambil uang itu dan mengembalikannya kepada pemiliknya. Banyak orang yang memujinya dengan surat atau lewat telpon dan tidak sedikit yang dating sendiri. Tetapi banyak pula yang mengatakan:”Bodoh kamu Bill! Menemukan uang sebanyak itu dan mengembalikannya.”

Bill menegaskan:”bagaimana mungkin saya tidak mengembalikan uang itu ? Ini toh bukan uang saya, maka saya harus mengembalikannya.”

Kemudian, orang banyak memperbincangkan dan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang peristiwa itu. Banyak tanggapan yang diberikan, antara lain:”Saudara telah melakukan pelayanan yang baik. Perbuatan saudara ini benar-benar mengena pada suara hati roang banyak.”Tanggapan lain berbunyi:”saya gembira karena setidak-tidaknya masih terdapat seorang jujur di sini. Jangan kau biarkan orang-orang lain memerosotkan kamu!” Seorang lain lagi mengatakan:”Ketika mengetahui bahwa ada orang seperti saudara, saya merasa semakin mempunyai harapan kepada dunia ini. Terima kasih kepada hidup ini! Saya gembira bahwa saudara telah lahir di dunia ini.”

Bill terkejut mendengar begitu banyak pujian. Ia menegaskan bahwa “Mengembalikan uang itu bukan merupakan perbuatan besar seperti yang dikira orang. Saya hanya mengembalikan uang yang saya temukan. Itu kan perbuatan biasa saja.”

 

SOPIR COLT DARI TARAKAN

Ketika sAya tiba di rumah, sopir colt turun menurunkan barang-barangku dari colt  yang saya tumpangi. Sesudah colt itu pergi, baru saya teringat bahwa ada sesuatu yang lupa diturunkan dari colt tadi. Benar juga. Masih ada dua bungkusan; radio-tape dan bungkusan tikar serta paying.

Hati saya menjadi gelap dan sedih. Nomor colt tidak kucatat. Dan di dalam colt masih ada sepasang suami istri. Selama satu jam saya menunggu di terminal sambil mengingat-ingat warna colt dn sopirnya. Karena hari sudah gelap saya pergi ke simpang empat. Satu jam lagi saya menunggu di simpang empat. Saya sudah  putus asa dan sudah mulai lelah.

Tetapi pada waktu itu tiba-tiba saya melihat sebuah colt yang warnanya mirip dengan colt yang saya tumpangi tadi. Ia sedang melaju di jalan menuju ke rumahku. Tetapi setelah kira-kira lima meter melewati tempat saya berdiri, colt itu berhenti dan sopir  melihat saya lalu memanggil,”Pak, mari naik. Saya dating mengembalikan barang baoak.”

Hati saya jadi lega. Saya berlari ke colt itu.”HAmpir-hampir barang bapak hilang”, cerita pak sopir setelah saya duduk disampingnya. “Tadi saya berdebat dengan suami istri yang saya antar ke selatan tadi. Mereka mengaku bahwa itu barang mereka. Tetapi saya ingat, ketika mereka naik ke terminal pertama, mereka tidak membawa barang-barang. Dan ketika bapak naik, saya mengatur barang bapak. Jadi, saya masih ingat. Mereka bersikeras bahwa barang-barang itu milik mereka. Kemudian saya mengajak keduanya naik colt untuk menghadap bapak atau polisi. Mereka diam dan langsung masuk ke rumahnya.”

Saya diam saja mendengnar cerita pak sopir yang baik hati itu. Saya tidak tahu lagi bagaimana mengungkapkan kegembiraan hati saya. Sementara itu pak sopir dengan jujur berkata:”Kalau bapak naik colt saya, jangnan kuatir bila ada barang-barang yang ketinggalan dalam colt saya. Kalau saya tahu pemiliknya pasti saya segera mengembalikannya atau saya serahkan kepada polisi penjaga terminal terdekat.”

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut !

  1. Jika kamu menulis kepada kedua tokoh dalam cerita tersebut bagaimana isi suratmu?

Jawaban : Betapa kejujuran itu sesuatu hal yang sederhana namun kadang menjadi sesuatu yang sangat rumit dan sulit untuk dilakkukan.

  1. LATIHAN SOAL
    1. Apa arti kejujuran ?
    2. Sebutkan dan jelaskan bentuk-bentuk ketidakjujuran !
    3. Sebutkan ketidakjujuran yang sering terjadi dalam :

a.Keluarga

b.Sekolah

c. Masyarakat.

  1. Mengapa orang sering tidak jujur?
  2. Apa dampak ketidakjujuran bagi :

a.Diri sendiri

b.Orang lain

c. Masyarakat

  1. Apa bentuk ketidakjujuran yang dikecam Yesus? Mengapa Yesus mengecamnya?
  2. Apa makna kejujuran ?
  3. Usaha-usaha apa yang dapat dilakukan untuk memperjuangkan kejujuran

TEMA 1

NILAI-NILAI PENTING DALAM MASYARAKAT YANG HARUS DIPERJUANGKAN

BAB 4

MEMPERJUANGKAN PERDAMAIAN DAN PERSAUDARAAN SEJATI

  1. KOMPETENSI
    1. Standar Kompetensi   :

Memahami makna firman Allah, ajaran Yesus dan ajaran Gereja dalam mengembangkan kehidupan bersama sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

  1. Kompetensi Dasar

Memahami arti perjuangan untuk menegakkan keadilan, kejujuran, kebenaran, perdamaian dan keutuhan ciptaan sesuai dengan iman dan peranannya.

  1. Indikator
    1. Menjelaskan sebab terjadinya pertikaian dalam masyarakat
    2. Menjelaskan dampak terjadinya pertikaian bagi kehidupan bersama.
    3. Menjelaskan pengertian shalom dalam perjanjian lama
    4. Menjelaskan pandangan Yesus dan ajaran Gereja tentang perdamaian
    5. Menjelaskan berbagai upaya menegakkan perdamaian dan persaudaraan sejati
  1. Uraian Tujuan

Masyarakat manusia memiliki nilai-nilainya sendiri keadilan, kejujuran, kebenaran, persaudaraan perdamaian dan cinta lingkungan. Dalam pelajaran ini siswa diajak mendalami nilai-nilai tersebut dalam terang Kitab Suci, meresapkan dan melakukannya, sehingga Kerajaan  dapat tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat kita. Dengan demikian tercipta persaudaraan sejati.

  1. ISI MATERI
    1. Sebab terjadinya pertikaian
    2. Dampak terjadinya pertikaian
    3. Pengertian Shalom dalam Perjanjian Lama
    4. Pandangan Yesus dan Ajaran Gereja tentang Perdamaian
    5. Upaya menegakkan Perdamaian dan Persaudaraan Sejati
  1. PENJELASAN TEORI
    1. Sebab terjadinya pertikaian.
      1. Fanatisme agama dan suku:, karena kepicikan dan perasaan bahwa dirinya terancam.
      2. Sikap arogansi/angkuh
      3. Keserakahan: karena mau merebut ‘harta karun’ tertentu.
      4. Merebut kemerdekaan dan mempertahankan hak: kadang-kadang perang terpaksa dilaksanakan untuk merebut kemerdekaan dan mempertahankan hak!
  1.  Dampak terjadinya pertikaian bagi kehidupan bersama.
    1. Kehancuran secara jasmani dan fisik. Perang menyebabkan kehancuran.
    2. Kehancuran secara rohani: trauma dan luka perkosaan terhadap martabat dan peradaban manusia.
  1. Pengertian shalom dalam perjanjian lama

Kata shalom berarti

  1. Berarti kesejahteraan pribadi dan masyarakat.

b.Damai berarti sehat jasmani dan kesejahteraan keluarga.

  1. c.   Shalom juga mengandung makna “Tuhan Sertamu!”

d.Damai sertamu merupakan salam umum pengharapan supaya manusia memperoleh kebaikan hidup. (bdk hak 6:12; Mzm 129:7-8)

e. Damai berhubungan dengan ketiadaan cacat-cela keadilan.

  1. Damai dalam arti sesungguhnya berupa persetujuan atau persesuaian dengan keteraturan batiniah, penolakkan terhadap ketidakadilan.
  1. Pandangan Yesus dan ajaran Gereja tentang perdamaian
    1. Damai yang diajarkan Yesus membersihkan dunia ini dari segala macam kejahatan dan kedurhakaan. Damai itu benar-benar damai bagi yang sejiwa dengan Yesus. Damai adalah hasil suatu pencapaian kebenaran dan hasil perjuangan melawan pergulatan batin.
    2. Damai berarti ketenangan hati karena orang memiliki hubungan yang bersih dengan Tuhan, sesama dan dunia; damai sejahtera yang menampakkan Kerajaan Allah. Damai harus diuji dengan derita. Damai yang dimiliki para murid berasal dari Yesus sendiri.
    3. Damai yang sedemikian kuatnya sehingga kejahatan dibalas dengan kebaikan. Yesus menolak setiap kekerasan dalam pewartaan.
    4. Damai berarti situai selamat sejahtera dalam diri manusia. Perdamaian adalah keadilan, hasil tata masyarakat manusia yang haus akan keadilan yang lebih sempurna.
    5. Perdamaian akan terwujud apabila kesejahteraan pribadi-pribadi terjamin, dan manusai dengan saling percaya melakukan tukar menukar jiwa dan baatnya.
    6. Syarat terciptanya perdamaian adalah tekad yang kuat untuk menghormati martabat orang dan bangsa lain serta semangat persaudaraan.
    7. Damai merupakan kesejahteraan tertinggi yang sangat diperlukan demi perkembangan manusia dan lembaga-lembaga kemanusiaan. Setiap manusia sadar atau tidak mempunyai empat relasi dasar, yaitu: relasi dengan Tuhan atau diri’dunia atas’, relasi dengan sesama, relasi dengan alam semesta, dan relasi dengan diri sendiri.
    8. Upaya menegakkan perdamaian dan persaudaraan sejati
      1. Mempelajari dan melakukan ajaran Yesus, ajaran Gereja dan ajaran tokoh-tokoh pejuang perdamaian tentang arti dan makna perdamaian.
      2. Menjadikan suatu gerakan moral, bukan indoktrinasi.
      3. Menggunakan berbagai jaringan dan melibatkan sebanyak mungkin orang tanpa membedakan agama, suku/etnis dan ideology.
      4. Membangun gerakan moral mulai dari akar rumput.
      5. Mulai dari diri, dan golongan sendiri untuk menghayati budaya damai dan membangun persaudaraan sejati.
  1. SAJIAN CONTOH

Bacalah cerita berikut !

MAHATMA GHANDI

Waktu bangsa India memperjuangkan kemerdekaan negaranya, ada yang ingin melawan Inggris dengan kekerasan dan senjata. Tetapi Ghandi berkata:”kamu semua harus siap menghadapi maut, tetapi kamu sendiri tidak boleh membunuh. Anggaplah musuhmu sebagai saudaramu yang bodoh. Kita hanya memenangkan perjuangan, jika kita dapat membunuh rasa benci dalam hati sanubari musuh kita. ‘

Ghandi mulai memimpin suatu gerakan massa untuk menentang pertauran-peraturan pemerintah Inggris yang tidak adil, tetapi tanpa memakai kekerasan. Ia sering pergi mengunjungi kota lain untuk bertemu dengan para pengikutnya agar mereka tetap menjalankan ajarannya. Hal itu dibuatnya melalui pidato-pidato, tulisan-tulian, dan terutama melalui contoh teladan hidupnya.

Akhirnya, tibalah saat yang dinantikannya yakni pada tahun 1947, India mendapat kemerdekaan setelah perjuangan yang sangat lama. Orang yang paling berjasa dalam meraih kemerdekaan itu ialah Mahatma Ghandi. Setelah memperoleh kemerdekaan di negeri itu timbul perselisihan antar orang-orang yang beragama Hindu dan Islam. Ada sebagian warga Hindu yang menyangka bahwa Ghandi terlalu lunak dan memihak orang islam. Pada tanggal 30 Januari 1948 Ghandi ditembak mati oleh pemuda Hindu yang fanatik. Begitulah akhir hidup salah seorang tokoh pejuang tanpa kekerasan. Ia mati terbunuh karena kekerasan.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

  1. Bagaimana perasaanmu setelah membaca kisah Mahatma Ghandi?

Jawaban : Keadaan yang tragis dan ironis. Seorang yang memperjuangkan perdamaian dan persaudaraan sejati, harus meninggal karena hal yang dia perjuangkan.

  1. Bagaimana Ajaran Ghandi tentang perjuangan dengan cara damai ?

Jawaban : Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Perjuangan tanpa kekerasan. Tapi dengan membunuh kebencian dalam hati.

  1. Apa yang dapat kita lakukan untuk menegakkan perdamaian dan persaudaraan sejati ?

Jawaban : Tetap berbuat baik kepada orang yang tidak sepaham dengan kita. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi dengan kebaikan.

  1. SOAL LATIHAN
    1. Sebutkan fakta-fakta pertikaian yang sering terjadi di Indonesia!
    2. Sebutkan dan jelaskan sebab terjadinya pertikaian !
    3. Apa dampak terjadinya pertikaian ?
    4. Jelaskan pengertian Shalom dalam Perjanjian Lama !
    5. Apa pandangan Yesus tentang perdamaian ?
    6. Apa  Ajaran Gereja tentang Perdamaian?
    7. Bagaimana upaya menegakkan Perdamaian dan Persaudaraan Sejati ?

TEMA 2

MENGHARGAI, BERDIALOG, DAN KERJA SAMA DENGAN UMAT BERAGAMA, DAN KEPERCAYAAN LAIN

BAB 7

BERDIALOG DENGAN UMAT KRISTEN PROTESTAN

  1. A.       TUJUAN/KOMPETENSI
  2. Standar Kompetensi

Memahami makna firman, ajaran Yesus dan ajaran Gereja dalam mengembangkan kehidupan bersama sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

  1. Kompetensi Dasar

Menghargai dan bersedia berdialog serta bekerja sama dengan umat beragama atau berkepercayaan lain

  1. Indikator
    1. Menyebutkan beberapa persoalan yang sering muncul dalam hubungan antar Gereja Kristen Protestan dengan Gereja Katolik.
    2. Menjelaskan berbagai cirri protestanisme.
    3. Menjelaskan persamaan antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan.
    4. Menjelaskan perbedaan antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan.
  1. Uraian Tujuan :

Pada bab terdahulu siswa mempelajari tentang menciptakan masyarakat yang adil, jujur damai dan mencintai lingkungan hidupnya. Dalam bab ini siswa siswa diajak mempelajarai bagaimana umat beragama dapat saling menghargai, berdialog dan bekerjasama walaupun berbeda agama dan kepercayaan.

  1. B.      ISI / RINGKASAN MATERI
    1. Perpecahan Gereja

1)                        Gereja Lutheran

2)                        Gereja Kalvinis

3)                        Gereja Anglikan

4)                        Gereja Katolik

  1. Ciri-ciri Protestanisme
  2. Perbedaan Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan
  3. Persamaan Gereja Katolik dan Gereja Lristen Protestan
  4. Ekumene sebagai Usaha Dialog dan Kerja Sama Antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan.

a)      Arti dan Kegiatan Gerakan Ekumene

b)      Gereja-Gereja Kristen Di Indonesia.

  1. C.      PENJELASAN TEORI/MATERI
  1. Perpecahan Gereja

1)      Gereja Lutheran

Keadaan Gereja abad XVI :

a)      karena terlibat dalam urusan duniawi

b)      terjadi pemilihan paus yang tidak Pantas yaitu Paus Aleksander VI dan Leo IX.

c)       Sering terjadi korupsi dan komersialisai jabatan Gereja.

d)      Banyak pejabat Gereja melalaikan tugas rohani.

e)      Imam-imam paroki tidak terdidik, hidup dengan istri gelap, bodoh, tidak mampu berkotbah, tidak mampu mengajar umat.

f)       Teologi skolastik mandul dan menjadi dogmatis dianggap sebagai perdebatan tentang hal sepele antara aneka aliran teologis.

g)      Banyak persoalan teologis mengambang,

h)      Kebiasaan dalam umat belum seragam,

i)        Iman bercampur tkhayul,

j)        Kesalehan berbaur dengan kepentingan duniawi.

Dalam keadaan ini Martin Luther  dari Jerman muncul dengan gagasan yang menolak ajaran maupun otoritas Gereja Katolik: (Anggotanya melalukan protes maka disebut Protestan)

a)      Menyerang masalah penjualan indulgensi.

b)      Membela pandangan baru, khususnya ajaran tentang “pembenaran hanya karena iman” sola fide).

c)       Menyerang wewenang Paus

d)      Menolak beberapa ajaran teologi sebelumnya dan hanya bertumpu pada Alkitab sesuai tafsiran sendiri.

e)      Indulgensi, stipendia untuk misa arwah, sumbangan pembangunan Gereja dan patung-patung, pajak untuk Roma, ziarah dan puasa, relikui dan kaul-kaul semua tidak berguna bagi keselamatan.

f)       Keselamatan hanya karena iman (sola fide) bukan karena perbuatan (sola gratia)

g)      Tujuh Sakramen tidak penting,

h)      selibat tidak berguna, hidup membiara tidak berarti.

Pendukung Gerekan/gagasan Martin Luther:

a)      Para bangsawan yang mengingini milik biara,

b)      Warga kota yang ingin bebas berpikir,

c)       Petani yang ingin lepas dari kerja rodi dan pajak,

d)      Nasionalis yang membenci privilege Roma,

e)      Humanis yang ingin membuang kungkungan teologi skolartik,

f)       Pemerintahan kota dan kerajaan yang ingin memperluas kewenangan.

Luther diekskomunikasi oleh Paus tahun 1520 dan dikucilkan kaisar 1523, namun tidak dapat membendung Luther dan mulai menyerang uamt yang setia pada paus. Tuntutannya semakin radikal. Persatuan gereja diboikot. Para bangsawan dan pendukungnua tidak tertarik pada persatuan kembali, karena tidak mau mengembalikan milik Gereja yang sudah mereka rampas. Unsur keagamaan, politis, dan pribadi di kedua pihak menyulitkan persatuan kembali. Reformasi selesai; umat terpecah belah ke dalam kelompok Katolik, Luteran, Kalvinis, Anglikan dan sebagainya

2)      Gereja kalvinis

Tokoh Yohanes Calvin (1509-1564). Ingin membaharui Gereja dalam terang Injil. Dalam bukunya yag berjudul Institutio Christianae Religionis menggambarkan Gereja dalam dua dimensi:

a)      Persekutuan orang-orang sejak awal dunia yang hanya dikenal Allah

b)      Kumpulan mereka yang dalam keterbatasannya di dunia mengaku diri sebagai penganut Kristus

Ciri-Ciri :

a)      Pewartaan Injil

b)      Pelayanan sakramen-sakramen.

Pengaturan Gereja oleh struktur empat jabatan, yakni:

a)      Pastor,

b)      Pengajar,

c)       Diakon

d)      Penatua.

3)      Gereja Anglikan

Anglikanisme bermula pada pemerintahan Henry VII 1509-1547. Di Inggris raja Henry VII menobatkan diri sebagai kepala Gereja karena Paus di Roma menolak perceraiannya. Anglikantisme menyerap pengaruh reformasi, namun memperahankan beberapa corak gereja (Uskup-Imam-Diakon), sehingga berkembang dengan warna yang khas.

4)      Gereja Katolik

Reaksi Gereja Katolik terhadap gerakan reformasi adalah:”Kontra – Reformasi” atau “Gerakan Pembaharuan Katolik.” Melalui Konsili Trente (1545-1563), dengan hasil :

a)       “Menyingkirkan kesesatan-kesesatan dalam gereja dan menjaga kemurnian Injil.”

b)      Konsili menegaskan posisi Katolik dalam hal-hal yang disangkal oleh pihak Reformasi (Kitab Suci dan tradisi, Penafsiran kitab Suci, pembenaran, jumlah sakramen-sakramen, kurban misa, imamat dan tahbisan, pembedaan imam dan awam dan lain-lain.)

c)       Gereja sebagai penjaga iman yang benar dan utuh, ditandai dengan sakramen-sakramen. Khususnya ekaristi yang dimengerti dan dirayakan sebagai kurban sejati.

d)      Gereja bercorak hierarkis dilengkapi dengan jabatan-jabatan Gerejani dan imamat yang berwenang khusus dalam hal merayakan ekaristi, pengakuan dosa;

e)      Gereja adalah kelihatan dan ini menjadi jelas dalam lembaga kepausan sebagai puncaknya;

f)       Gereja mewujudkan diri sebagai persekutuan para kudus lewat penhormatan pada para kudus; Gereja menghormati Tradisi.

  1. Ciri-ciri Protestanisme

1)      Gereja diadakan oleh rahmat Tuhan, pilihan, sabda, Sakramen, dan anugerah iman. Gereja yang benar tidak kelihatan dan tidak identik dengan Gereja-Gereja yang kita ketahui anggota dan susunannya.

2)      Gereja yang kudus adalah persekutuan yang benar-benar beriman di segala tempat dan pada segala zaman.

3)      Gereja memberitakan sabda Allah “secara murni” dan melayani sakramen Pembabtisan dan Perjamuan Tuhan “dengan tepat”, yakni ‘sesuai dengan Alkitab’

4)      Kitab Suci adalah satu-satunya sumber ajaran dan susunan Gereja. Sola Scriptura (diselamatkan karena Kitab suci) adalah prinsip formal Protestanisme.

5)      Pembenaran orang dari semula sampai selesai semata-mata rahmat ilahi (sola gratia). Maka keselamatan hanya dari sabda ilahi bukan oleh perbuatan.

6)      Sabda ilahi satu-satunya rahmat yang berbentuk alkitab, khotbah, sakramen, dan pembicaraan rohani. Sakramen adalah sabda ilahi dalam bentuk kelihatan, artinya bukan hanya didengar tapi dialami.  Selain Pembabtisan, dirayakan juga Perjamuan Tuhan yang tidak mengenal perubahan ke tubuh dan darah Kristus. Kritus diimani hadir dalam Perjamuan Tuhan

7)      Imamat umum semua orang beriman saja yang diakui, sehingga pendeta dan orang awam hanya berbeda menurut fungsi saja tanpa perbedaan rohani secara eksistensial.

  1. Persamaan Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan:

Persamaan pada hal-hal yang mendasar  atau fundamental :

a) Iman berdasar pada Yesus Kristus.

b)                        Pengakuan pada nabi

c) Dasar Kitab Suci yang sama

d)                        Pengakuan akan syahadat.

e)                        Perayaan hari Besar.

  1. Perbedaan Antara Gereja Katolik dan Gereja Protestan:

Perbedaan lebih pada penafsiran dan penekanan dalam hal-hal tertentu.

KATOLIK

PROTESTAN

Tekanan ada pada sakramen dn pada segi sakramen (tanda kelihatan) dari karya keselamatan Allah Tekanan pada sabda/pewartaan dan pada segi misteri karya Allah
Kultis, yang mementingkan korban (Ekaristei) Hubungan dengan menentukan hubungan dengan Kristus Profetis, yang terpusat pada sabda (pewartaan). Hubungan dengan Kristus menentukan hubungan dengan Gereja
Gereja secara hakiki bersifat hierarkis Segala pelayanan gerejawi adalah ciptaan manusia
Kitab Suci dibaca dan dipahami di bawah pimpinan hierarki. Setiap orang membaca dan mengartikan Kitab Suci
Jumlah Kitab Suci 73, termasuk Deuterokanonika yaitu:1,2 Makabe, Sirakh, kebijaksanaan, Tobit, Yudith dan Barukh Jumlah Kitab Suci 66, tidak termasuk Deuterokanonika
Ada 7 sakramen Ada 2 sakramen, yaitu sakramen babtis dan Ekaristi/perjamuan.
Ada devosi kepada para kudus Tidak menerima devosi kepada para kudus.
  1. Ekumene sebagai usaha usaha kerjasama dan dialog antar sesame Gereja Kristus.

a)Arti dan Kegiatan Ekumene

 

“Gerakan Ekumenis” adalah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk mendukung kesatuan umat Kristen. Hal-hal yang dapat kita lakukkan untuk mendukung ekumene:

a)      Menghindari kata-kata, penilaian dan perbuatan yang dapat menimbulkan hubungan yang kurang baik antar umat Kristiani.

b)      Melaksanakan dialog, terutama dialog kehidupan (hidup rukun dengan sesame umat Kristen), dan dialog karya (berkarya bersama demi membantu kesejahteraan bersama)

c)       Di beberapa tempat, gereja-gereja tertentu dapat dilaksanakan di bidang doktrin. Pertukaran dosen teologi dan Kitab Suci di Sekolah Tinggi Teologi, dari kegiatan-kegiatan tersebut, kita dapat saling mengisi.

d)      Menyelenggarakan kerjasama demi kesejahteraan umum.

e)      Doa atau ibadat bersama sejauh memungkinkan (Natal dan Paskah bersama)

b)                        Gereja-Gereja Kristen di Indonesia

a)      Gereja Kristen Protestan yang lahir dari gerakan reformasi. (HKBP, GBKP,GKPI dll)

b)      Gereja Pentakosta (Gereja Pentakosta Indonesia, Gereja Sidang Jemaat Allah, GBIS, GBI, dsb)

c)       Gereja Injili, (Gereja Kalam Kudus, gereja Kristus Tuhan)

D. SAJIAN CONTOH

Contoh 1.

YESUS MENONTON PERTANDINGAN BOLA

Yesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan

pertandingan sepak bola. Maka kami, aku dan teman-

temanku mengajakNya menonton.

Sebuah pertandingan sengit berlangsung

antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu.

Yesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi.

Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak gol.

Dan Yesus bersorak gembira serta melemparkan

Topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang

Yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk

Pundak Yesus dan berkata: “saudara berteriak

Untuk pihak mana?”

“saya?” jawab Yesus, yang rupanya saat itu,

sedang terpesona oleh permainan itu.

“oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak.

Saya hanya senang menikmati permainan ini.”

Penanya itu berpaling kepada temannya

Dan mencemooh Yesus: “Ateis!”

Sewaktu pulang, Yesus kami beritahu tentang situasi agama

Di dunia dewasa ini. “Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan”,

Kata kami. “Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak

Mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.”

Yesus menggangguk setuju. “Itu sebabnya aku tida

Mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya”

Kata-Nya. “Orang lebih penting daripada agama.

Manusia lebih penting daripada hari Sabat.”

“Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu”, kata salah

Seorang di antara kami dengan was-was. “Engkau pernah

Disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.”

“Ya – dan justru itu dilakukan oleh orang-orang

Beragama”, kata Yesus sambil tersenyum kecewa.

(sumber: A.de mello. Burung Berkicau. CLC)

Langkah-langkah pendalaman untuk mendalami cerita !

  1. Apa yang mengesan bagi mu setelah mendengar atau membaca cerita di atas?

Jawaban : Menarik karena member inspirasi baru dalam bersikap terhadap anggota Gereja lain

  1. Pesan apa yang hendak disampaikan melaui cerita di atas?

Jawaban : Yesus tidak membedakan penganutNya berasal dari Gereja mana.

  1. Mengapa ada banyak Gereja di dunia ini?

Jawaban : Karena terjadi perpecahan dalam Gereja akibat keadaan Gereja Katolik yang tidak baik.

  1. Bagaimanakah terjadinya perpecahan di dalam Gereja?

Jawaban : Perpecahan Gereja terjadi pada abad XVI, dipelopori Marthin Luther dari Jerman yang mengkritisi dan menolak praktek kehidupan Gereja saat itu. Kemudian dissusul oleh gerakan-gerakan yang lain.

Contoh 2:

Contoh melalui  “Dekrit-Dekrit tentntag Ekumenis” Art.4 berikut ini!

“Gerakan Ekumenis” adalah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk menanggapi bermacam-macam kebutuhan Gereja dan berbagai situasi dalam rangka mendukung kesatuan umat Gereja, misalnya:

  • Upaya menghindari kata-kata, penilaian, dan tindakan yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan situasi saudara-saudari yan terpisah, dank arena itu mempersukar hubungan-hubungan dengan mereka.
  • Pertemuan-pertemuan umat krisetn dari berbagai Gereja atau jemaat diselenggarakan dalam suasana religius, “dialog” antara para pakar yang kaya informasi, yang memberi ruang kepada setiap peserta untuk secara lebihmendalam menguraikan ajaran persekutuan dan dengan jelas menyajikan corak cirinya, sehingga semua peserta memperoleh pemngertian tentang ajaran dan perihidup kedua persekutuan, dan penghargaan yang lebih sesuai dengan kenyataan.
  • Persekutuan-persekutuan menggalang kerjasama yang lingkupnya lebih luas untuk kesejahteraan umum menurut tuntutan suara hati Kristen. Mengadakan pemeriksaan batintentang kesetiaan mereka terhadap kehendal Kristus mengenai Gereja dan menjalankan dengan tekun usaha pembaharuan dan perombakan.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!

  1. Apa arti Ekumene menurut Dekrit tersebut?

Jawaban : kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha dalam rangka mendukung kesatuan umat Gereja,

  1. Bagaimana gerakan ekumene di Indonesia menurut penilaianmu?

Jawaban : Berjalan dengan baik.

  1. Gereja-Gereja mana yang diharapkan terlibat dalam gerakan ekumene di Indonesia ?

Jawaban : Gereja Kristen Protestan yang lahir dari gerakan reformasi, Pentakosta , Injili,

  1. Apa yang harus dilakukan untuk menggalakkan gerakan ekumene di Indonesia?

Jawaban : mengadakan kerja sama di bidang pendidikan, sosial, pelayanan kesehatan, dialog di bidang doktrin Gereja

  1. SOAL LATIHAN
    1. Sebutkan beberapa persoalan yang sering muncul dalam hubungan antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan di Indonesia?
    2. Mengapa muncul persoalan tersebut ?
    3. Bagaimana awal mula terjadi perpecahan dalam Gereja?!
    4. Apa saja keadaan Gereja Katolik yang dikritisi oleh Martin Luther ?
    5. Bagaimana rekasi Martin Luther terhadap keadaan tersebut ?
    6. Bagaimana reaksi Gereja Katolik terhadap gerakan reformasi yang dipelopori Martin Luther?
    7. Sebutkan Gereja-gerje lain yang mengikuti  gerakan Marthin Luther!
    8. Apakah ciri-ciri khas Protestanisme sejauh kau ketahui?
    9. Sebutkan dan jelaskan persamaan Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan!
    10. Sebutkan perbedaan antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan!
    11. Apa arti Ekumene menurut Dekrit tersebut?
    12. Bagaimana gerakan ekumene di Indonesia menurut penilaianmu?
    13. Gereja-Gereja mana yang diharapkan terlibat dalam gerakan ekumene di Indonesia ?
    14. Apa yang harus dilakukan untuk menggalakkan gerakan ekumene di Indonesia?

TEMA

MENGHARGAI, BERDIALOG, DAN KERJA SAMA DENGAN UMAT BERAGAMA, DAN KEPERCAYAAN LAIN

BAB 8

DIALOG DENGAN UMAT ISLAM

  1. E.      TUJUAN/KOMPETENSI
  2. Standar Kompetensi

Memahami makna firman, ajaran Yesus dan ajaran Gereja dalam mengembangkan kehidupan bersama sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

  1. Kompetensi Dasar

Menghargai dan bersedia berdialog serta bekerja sama dengan umat beragama atau berkepercayaan lain

  1. Indikator
    1. Menyebutkan beberapa faktor penghambat dialog antara Islam dengan katolik
    2. Menjelaskan secara singkat mengenai agama Islam
    3. Menjelaskan Ajaran  gereja Katolik terhadap Islam
    4. Menjelaskan Ajaran  Islam terhadap agama lain
    5. Menjelaskan usaha/bentuk-bentuk  dialog antara umat katolik dengan umat Islam
    6. Menyebutkan fektor pendukung dialog antara umat Katolik dan umat ISlam
  1. Uraian Tujuan :

Pada bab terdahulu siswa mempelajari tentang menciptakan masyarakat yang adil, jujur damai dan mencintai lingkungan hidupnya. Dalam bab ini siswa siswa diajak mempelajarai bagaimana umat beragama dapat saling menghargai, berdialog dan bekerjasama walaupun berbeda agama dan kepercayaan.

  1. URAIAN ISI MATERI
    1. Faktor penghambat dialog antara Islam dan Katolik
    2. Pengertian singkat tentang agama Islam
    3. Ajaran Gereja Katolik tentang agama Islam
    4. Ajaran Islam tentang sikap Islam terhadap agama lain
    5. Bentuk-bentuk dialog dengan agama Islam.
  1. PENJELASAN TEORI
    1. Faktor penghambat dialog antara Islam dan Katolik
    1. Sikap saling curiga satu sama lain
    2. Isue Kristenisasi dan Islamisasi
    3. Takut dan curiga
    4. Menutup diri
    5. Mengangap diri paling baik dan yang lain salah dan sebagainya
  1. Pengertian singkat tentang agama Islam
    1. a.       Islam dan Umat Islam

Islam (bahasa Arab) berarti penyerahan diri kepada Allah, masuk dalam suasana damai, sejahtera dan hubungan serasi, baik antar sesame manusia maupun antara manusia dan Allah. Persekutuan muslimin yang terjalin erat berkat iman pada agama disebut ummah atau ummat, pemimpin disebut khalifah.

  1. b.      Tauhid, nama-Nama, dan Sifat-Sifat Allah

1)      Islam merupakan agama monoteis (disebut tauhid) dengan tekanan amat kuat pada Allah yang mahabesar (Allahu akbar, sering digunakan di mana-mana). Monoteisme sedemikian ditekankan sehingga tidak ada toleransi terhadap hal yang mengaburkan keesaan Allah.

2)      Syirk atau “men-syarikat-kan Allah”, berarti menempatkan sesuatu betapapun kecilnya, di samping atau sejajar denngan Allah. Syirk merupakan dosa terbesar.

3)      Allah diimani mempunyai 20 sifat dan 100 nama indah.

 

  1. c.       Iman Islam

Kesaksian pokok iman Islam :

1)      Dirumuskan dalam 2 kalimat syahadat.

a)      Kalimat pertama kesaksian atas Allah Yang mahaesa,

b)      kalimat kedua kesaksian atas Muhammad sebagai rasul Allah.

2)      Diucapkan pada waktu orang menjadi muslim (sebagai ucapan upacara inisiasi waktu akad nikah)

3)      Salah satu dari enam rukun iman dalam islam.

4)      Kelima rukun iman yang lain adalah : percaya pada malaikat, Kitab Suci, Hari Kiamat, dan Takdir ilahi.

Pemahaman Kitab Suci :

1)      Wahyu yang diberikan Allah memberikan alquran kepada segenap manusia melalui Muhammad, dalam bahasa Arab

2)      Kitab Suci terakhir dan tersempurna dari segala kitab yang pernah ada.

3)      Al-Quran menempati kedudukan central.

a)      Termuat wahyu ilahi secara sempurna, tanpa cacat sedikitpun.

b)      Termuat segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupan baik yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan (ibadah) maupun yang mengatur peri kehidupan antar manusia yang disebut mu’amalat.

c)       Alquran sangat dihormati. Membaca dan mendengarnya merupakan suatu ibadah.

d)      Terdapat tokoh-tokoh Perjanjian Lama.

e)      Isa bin maryam dikemuka sebagai nabi yang istimewa, lahir melalui mukjizat. Tanpa ayah, menngajar dan membuat banyak mukjizat. Ia terberkati, kudus, murni, rasul Allah, jalan orang saleh, pengantara,  bahkan disebut sebagai kalimat Allah dan Roh Allah. Tapi Dia bukanlah Allah. Hubungan Maria dengan Isa al Masih bin Maryam ini, termuat dalam Surah al Maryam.

  1. d.      Arkan al-Islam

Sikap yang tepat bagi seorang muslim adalah :

1)      takwa dan takut kepada Allah, taat kepada segala perintahNya dalam  Al-Quran.

2)      Manusia adalah hamba Allah, kewajiban-kewajiban pokok yang harus dijalankan oleh setiap orang muslim terangkum dalam lima rukun Islam atau pilar penyangga keislaman (arkan al Islam), yakni: syahadat, sholat lima waktu, sam (puasa dalam bulan ramadhan), zakat,dan  haji

  1. e.      Al Ahkan al Khamsa: Hukum Islam

Tujuan hidup manusia adalah mencari ridha ilahi, mencari perkenanan Allah, hidup sedemikian rupa sehingga Allah tidak, melainkan berkenan. Perbuatan yang berkenan kepada Allah  (halal) mendatangkan pahala bagi pelakunya. Sebaliknya, perbuatan yang menimbulkan kemarahan Allah (haram) menimbulkan hukuman pada pelakunya.

Ada 5 hukum Islam yakni :

1. wajib atau fardh                                           : harus dilakukan

2. Sunnah atau Mustahabb                          : sebaiknya dilakukan

3. Mubah atau jaiz                                           : diperbolehkan

4. Makruh                                                            : sebaiknya tidak dilakukan

5. Haram                                                              : dilarang

  1. f.        Tasawwuf : Mistik dalam Islam

1)      Ilmu fiqh (hukum Islam) menempati peran yang utama,

2)      Tasawuff : gerakan mistik dalam umat Islam dan cara penghayatan keagamaan yang menjalankan disebut sufi. Misalnya sebagian dari walisongo.

  1. Ajaran Gereja Katolik tentang agama Islam

Dalam Dekrit Konsili Vatikan II, tentang hubungan Gereja dengan agama-agama bukan Kristen (Nostra Aetate Art 3), sikap gereja Katolik terhadap Islam dirumuskan sebagai berikut:

“Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belas kasihan, mahakuasa. Pencipta langit dan bumi yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham-iman Islam dengan sukarela mengacu kepadanya-telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormatinNya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maria BundaNya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu daengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan hari pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit, maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah, dan berpuasa.

  1. Ajaran Islam tentang sikap Islam terhadap agama lain
    1. a.      Surat Al Baqarah 62

Agama Islam memiliki sikap toleransi yang tinggi. Digariskan langsung oleh allah dalam Al-quran. Misalnya Sura Al Baqarah 62 disebutkan “sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang Yahudi dan Nasrani dan kaum Shobiin itu adalah orang-orang yang percaya kepada Allah, hari kiamat dan beramal soleh maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya, dan tidak ada ketakutan bagi mereka dan juga tidaklah mereka merasa patah hati.”

  1. b.      Surat Al Madiah 83

“Dan sesungguhnya kamu akan mendapatkan orang-orang yang paling dekat rasa kasih sayangnya kepada

  1. Bentuk-bentuk dialog dengan agama Islam.
    1. a.      Dialog Kehidupan

Dalam hidup bermasyarakat dapat terjadi kita bertetangga dan berdampingan dengan saudara islam. Kita dapat berusaha untuk hidup rukun dan salaing menghargai.

  1. b.      Dialog Karya

Ada banyak karya demi kepentingan umum dan demi kemanusiaan yang mendorong kita untuk bekerjasama. Dalam kerja sama itu kita akan lebih dekat dan lebih mengenal satu sama lain.

  1. c.       DialogTteologis (Doktrin)

Ada banyak ajaran Islam yang indah dan menyelamatkan. Konsili Vatikan II menyatakan bahwa dalam Islam pasti ada banyak kebenaran dan keselamatan yang dapat kita timba. Demikian juga sebaliknya.

  1. d.      Dialog Iman

Saling mensharingkan hidup sebagai seorang beriman; saling meneguhkan.

1)      Faktor pendukung dialog antara umat Katolik dan umat islam.

2)      Keterbukaan dan usaha saling menngenal

3)      Saling mengunjungi dalam kesempatan-kesempatan tertentu

4)      Bahu membahu menyelesaikan maslah tertentu

5)      Saling menghormati

  1. SAJIAN CONTOH

Bacalah cerita berikut !

ULURAN TANGANMU MERINGANKAN LANGKAHKU

Kami berdua berjalan tertatih-tatih. Kaki kami sudah melepuh menempuh perjalanan di Kabupaten malang, jawa Timur. Ini adalah perjalanan peziarahan kami. Kami tidak membawa uang dan makanan, minum dan tidur mengandalkan kemurahan hati penduduk di tempat yang kami lewati. Kami sering dicurigai dan ditolak. “Tin, ayo kita cari penginapan!” ujar temanku. “Baik” jawabku singkat. Kami berjalan menuju kampong terdekat.

Kami menemui seorang gadis bernama Miryam, seorang pemudi berjilbab kira-kira 14 tahun umurnya, sedang duduk-duduk di tepi jalan. Dia ramah, tetapi terkejut ketika kami minta berteduh di rumahnya malam itu. Lalu kami diantar ke rumah ketua RT. Sebelum kami mengutarakan maksud kami, ia menunjukkan sikap yang tidak ramah dan kata-kata ketus. Miryam tampak sangat menyesal tidak dapat menolong. Kami pun mengucapkan selamat tinggal.

Kami meneruskan perjalanan. Belum lama kami berjalan, sambil berlari-lari Miryam memanggil kami. Ia berkata bahwa ia melapor pada tantenya dan tantenya akan menjamin kami. Miryam mengantar kami ke kamar mandi umum di kampung dan sesudah kami mandi, kami diantar ke sebuah bangunan yang dindingnya kusam. Pada serambi depan ada sebuah bedug, karena bangunan itu adalah sebuah mushola. Kami duduk di serambi, karena di dalam sedang dipakai sembayang Isya.:”mau sembahyang, kak?” tanya Miryam. Kami menjawab bahwa kami beragama Katolik. Miryam mengangguk-angguk lalu masuk dalam mushola untuk sembahyang. Hari semakin gelap dan kami berdua tenggelam dalam kebisuan masing-masing. Ada kekuatiran kalau-kalau sikap kami memancing sikap kurang bersahabat, malah rasa takut muncul di hati.

Sementara itu, jemaah selesai berdoa dan mereka keluar dari mushola. Tampak Miryam bercakap-cakap dengan mereka dalam bahasa jawa yang tak kami pahami.  Aku begitu was-was ketika Miryam menyebut kata “Kristen”. Aku jadi salah tingkah ketika semua mata memandang kami berdua. Aku bersiap-siap seandainya diusir. Tahu-tahu seorang di antara mereka menyalami kami dengan ramah yang diikuti pula oleh  yang lain. Beberapa dari mereka bercakap-cakap dengan kami.

Ketika tahu bahwa kami belum makan, seorang dari antara mereka pulang ke rumah dan kembali membawakan kami makanan. Bahkan ada yang tinggal sampai jauh malam mengobrol dengan kami. Suasana sangat akrab dan ketegangan dalam diri kami lambat laun mencair.

Miryam dengan uluran tangan dan keterbukaan hatinya mengajariku sesuatu yang berharga. Untuk berjumpa dengan saudara-saudari siapa pun, aku harus melepaskan rasa curiga dan takut, karena curiga dan takut merupakan hambatan untuk membangun cinta persaudaraan. Apalagi dalam konteks perjumpaan antar umat beragama, segala sesuatu akan menjadi  baik kalau tiap orang beriman dibebaskan dari kepicikan dan ketidakdewasaan dalam hidup berimannya.

(Oleh:Tin)

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

  1. Bagaimana kesanmu setelah membaca cerita di atas?

Jawaban: cerita diatas sangat berkesan karena meberikan gambaran tentang keterbukaan penduduk kampong terhadap orang yang berbeda agama.

  1. Bagaimana pengalamanmu bergaul dengan teman-teman dan orang-orang yang beragama Islam?

Jawaban : ada yang tidak nyaman karena kadang tidak diterima dengan baik. Ada juga yang begitu terbuka dan tidak mempersoalkan perbedaan agama.

  1. Mengapa sering timbul rasa curiga dan takut kepada saudara-saudara kita yang beragama Islam?

Jawaban : Karena belum saling mengenal secara lebih mendalam dan secara lengkap ajaran agama islam. Ada ketakutan sebagai kelompok minoritas sering menerima perlakuan yang tidak adil.

  1. Apa saja yang kamu ketahui tentang agama Islam?

Jawaban : Sring soal, berdoa di masjid, naik haji, berpuasa, sholat jumat, berzakat.

  1. SOAL LATIHAN
    1. Sebutkan beberapa faktor penghambat dialog antara Islam dengan katolik !
    2. Jelaskan secara singkat mengenai agama Islam
    3. Bagaimana Ajaran  gereja Katolik terhadap Islam
    4. Apa yang dimaksud Islam dan Umat Islam ?
    5. Apa arti monotheisme dalam agama Islam?
    6. Sebutkan nama Allah dalam agama Islam?
    7. Apa saja sifat-sifat Allah dalam agama Islam?
    8. Sebutkan 5 rukun islam!
    9. Syahadat dalam Islam terdiri dari 2 kalimat, sebutkan isinya!
    10. Kapan syahadat tersebut diucapkan ?
    11. Apa pengertian Islam tentang al’quran?
    12. Sebutkan 5 hukum Islam!
    13. Apa arti tasawuf dalam Islam?
    14. Sebutkan bentuk-bentuk  dialog antara umat katolik dengan umat Islam
    15. Apa faktor  pendukung dialog antara umat Katolik dan umat ISlam

TEMA

MENGHARGAI, BERDIALOG, DAN KERJA SAMA DENGAN UMAT BERAGAMA, DAN KEPERCAYAAN LAIN

BAB 9

BERDIALOG DENGAN UMAT HINDU, BUDHA, KONGHUCU, DAN ALIRAN KEPERCAYAAN

 

  1. J.        TUJUAN/KOMPETENSI
  2. Standar Kompetensi

Memahami makna firman, ajaran Yesus dan ajaran Gereja dalam mengembangkan kehidupan bersama sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

  1. Kompetensi Dasar

Menghargai dan bersedia berdialog serta bekerja sama dengan umat beragama atau berkepercayaan lain

  1. Indikator
    1. Menjelaskan pandangan NA tentang agama Hindu dan Budha
    2. Menjelaskan inti ajaran Kong Hu Cu dan aliran kepercayaan
    3. Menjelaskan bentuk-bentuk dialog dengan umat hindu, Budha, Kong hu Cu dan aliran kepercayaan
    4. Menjelaskan pandangan yang mendukung diadakannya dialog antara umat katolik dan umat Hindu, Budha
  1. Uraian Tujuan :

Pada bab terdahulu siswa mempelajari tentang menciptakan masyarakat yang adil, jujur damai dan mencintai lingkungan hidupnya. Dalam bab ini siswa siswa diajak mempelajarai bagaimana umat beragama dapat saling menghargai, berdialog dan bekerjasama walaupun berbeda agama dan kepercayaan.

  1. URAIAN ISI MATERI
    1. Pandangan NA terhadap Hindu dan Budha
    2. Inti Ajaran agama Hindu
    3. Inti Ajaran Budha
    4. Inti Ajaran Konghucu dan Aliran Kepercayaan
    5. Bentuk-bentuk dialog dengan umat Hindu, Budha, Konghucu dan Aliran Kepercayaan.
    6. Pandangan yang mendukung diadakannya dialog antara umat katolik dan umat Hindu, Budha.
  1. PENJELASAN TEORI
    1. Menjelaskan pandangan NA tentang agama Hindu dan Budha

Nostra Aetete Art,2 berikut!

  1. a.  Hinduisme. Manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha filsafat yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah-tapa atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Allah penuh kasih dan kepercayaan. Sebagai kesadaran dan pengakuan pada yang ilahi dalam kehidupan manusia.

b. Buddhisme dalam berbagai aliran mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau-entah dengan usaha sendiri entah berkat bantun dari atas – mencapai penerangan yang tertinggi.

c. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat di seluruh dunia, dengan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci.

d.Sikap Gereja Katolik :

1)      tidak menolak apap pun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci.

2)      Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang.

3)      Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni:”jalan, kebenaran dan hidup” (lih Yog 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan,” dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya”.

4)      Gereja mendorong umatnya untuk member kesaksian dengan jalan dialog dengan agama-agama lain.

  1. Inti ajaran Agama Hindu Dharma Mahasabda Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tahun 1993, disebut agama Hindu Dharma
    1. Ibadat

Unsur pokok penghayatan agama muncul dalam bentuk ibadat, khususnya upacara-upacara harian yang dilaksanakan di tempat-tempat dan saat-saat yang berkaitan erat dengan irama hidup manusia setiap hari, seperti di sekitar rumah tinggal, sumber-sumber air, persawahan, saat matahari terbit dan tenggelam dan saat waktu-waktu lainnya. Pura menjadi pusat ibadah dan kebudayaan serta hidup sosial.

    1. Kitab-kitabnya

Weda, Usana Bali, dan Uoanisad. Berisi beraneka ragam,  bagian terbesar berupa doa dan himne, dan ajaran mengenai Allah (Brahman), dewa-dewa, alam, dan manusia. Ajaran tersebut tidak mengikat ketat secara dogmatis. sehingga  banyak aliran dan pandangan dalam ajaran Hindu.

    1. Ajaran yang pokok

Tujuan pokok hidup manusia adalah Moksha, yaitu pembebasan dari lingkaran reinkarnasi yang tidak ada habis-habisnya (samsara). Pembebasan dapat dicapai dalam 3 jalan (trimarga), karma-marga, jnana marga, dan  bakti-marga.

1)      karma-marga orang melakukan karya, askese badani, yoga, tapa ketaatan pada aturan kasta. Karya yang paling berharga dalam karma marga adalah samsara, yaitu keduabelas upacara liturgis yang berkaitan dengan tahap-tahap kehidupan seseorang.

2)      jnana-marga, penyucian diri guna mencapai moksha dengan jalan askese budi, mengheningkan cipta dalam meditasi denngan tujuan semakin menyadari kesatuan dirinya dengan Sang Brahma.

3)      Bhakti-marga, orang menyucikan diri dengan penyerahan diri seutuhnya menuju pertemuan dalam cinta kasih dengan Tuhan.

    1. Kasta-kasta

Pembagian masyarakat menjadi 5 kasta (caturwarna);

1)      Brahmana;

2)      Ksatria; (keduanya adalah kasta bangsawan, rajawi),

3)      Waiseya (petani, prajurit, pedagang) dan

4)      Sudra/jaba (rakyat jelata).

5)      Paria (tersisih, tidak mempunyai tempat sosial, marginal, dan terbuang.

    1. Hari Raya

1)      Nyepi  jatuh pada pergantian tahun saka, untuk menyucikan dan memperkuat diri terhadap pengaruh roh-roh jahat. Pada hari itu umat hindu dilarang menyalakan lampu, melakukan pekerjaan, bepergian dan melangsungkan hubungan seks.

2)      Galungan (jatuh hari Rabu Kliwon) dan

3)      Wuku dungulan (setiap 210 hari sekali) untuk memohon kehadapan Ida Sanghyang Widhi, Bhatara-Bhatari dan para leluhur agar pemujaannya dianugerahi selamat.

  1. Inti  Ajaran Budha
    1. a.      Gautama Sidharta Pendiri Agama Budha

Agama Buddha berasal dari Gautama Sidharta Cakyamuni (554-478 SM), seorang –pangeran yang dibesarkan dalam lingkungan agama Hindu di India Utara, Pertemuannya dengan kenyataan hidup yang penuh kepahtian begiti bertolak belakang dengan kemewahan kehidupan istana yang dinikmatinya, mendorong dia meninggalkan semua kemewahan dan mengundurkan diri bertapa di hutan di bawah sebuah pohon yang diberi nama pohon bodhi. Berkat pemusatan dia mendapatkan pencerahan, penerangan (bodhi). Sebagai seorang Buddha (yang memperoleh boddhi, pencerahan, penerangan), dia mengkotbahkan jalan tersebut duna memperoleh kebebasan dari hukum karmasamsara (lingkaran renkarnasi yang ditentukan oleh perbuatan atau karma masing-masing orang selama hidupnya) Dengan usaha sendiri seseorang dapat terbebas dari karmasamsara; tidak ditentukan oleh kedudukannya dalam kasta tertentu seperti dalam Hindu.

  1. Inti  Ajaran Agama Budha

Inti ajaran Buddha tentang hidup manusia tercantum dalam Catur Arya Satya yang berarti Empat Kasunyatan atau Kebenaran Mulia, yaitu:

1)Dukha- Satya: Hidup dalam segala bentuk adalah penderitaan

2)Samudra-Satya: Pednderitaan karena manusia mempunyai keinginan atau nafsu

3)Nirodha-Satya: Penderitaan dapat dilenyapkan (moksha) dan orang mencapai nirvana (kebahagiaan) dengan membuang segala hawa nafsu dan keinginan.

4)Marga Satya, jalan untuk mencapai nirvana adalah Delapan Jalan Utama

5)(asta-arya-marga), yaitu : keyakinan yang benar, pikiran yang benar, perkataan yang benar, perbuatan yang benar, penghidupan yang benar, daya upaya yang benar, pengertian yang benar, dan semedi yang benar.

Dalam hukum karmasamsara manusia terikat oleh perbuatannya (karma) pada roda kehidupan (cakra). Dari lahir sampai kematian manusia berpindah-pindah tempat pada berbagai alam dan ruang yaitu Kamaloka (alam indra dan nafsu) rupaloka (alam tanggapan), arupaloka (alam bebas dari keinginan, nafsu dan pikiran)

Dengan menjalani Marga-Satya orang dapat mencapai penerangan tertinggi (bodhi), yakni bila jiwa, batin atau diri manusia secara sempurna dibebaskan dari segala ikatan ketiga ilusi besar tentang adanya roh, diri, dan dunia, karena ketiga-tiganya sebenarnya adalah maya atau ilusi belaka. Dengan demikian orang mencapai kebahagiaan (suka),  keamanan (bahaya) dan kedamaian (shanty) yang olehnya ketiga ilusi besar tadi diganti dengan ketiga kebenaran, yakni tanpa diri (anatman), tiada apa-apa (anitya), dan kekosonngan sempurna (sunya). Inilah nirvana:kelenyapan diri yang total, jati segala-galanya dan kebahagiaan sempurna.

Tiga aliran pokok dalam Budhisme :

1)      Tryana yaitu Theravada (Hinayana). Pengikutnya mencari keselamatan individual. Hanya sedikit yang mencapai maka disebut Hinayana.

2)       Mahayana dan Wajrayaan (tantrayana). Orang yang sudah memperoleh penerangan tertinggi menunda saat mencapai nirvana guna menolong orang lain yang dapat mencapainya disebut Mahayana. Dalam Mahayana diri Buddha diberi kedudukan transenden dan disembah sebagai dewa yang dapat dimintai pengantaranya, Inilah yang berkembang di Indonesia sehingga tidak kesulitan memasukkan diri dalam agama-agama monotgeis.

3)      Wajrayana (kendaraan intan), Buddha dipandang sebagai dhat (pribadi yang gemilang bagaikan intan yang menjadi asal dan tujuan manusia.

c. Hari Raya

Hari Raya umat Buddha yang terpenting adalah WAISAK. Pesta peringatan kelahiran, pencerahan dan kematian Buddha.

  1. Inti Ajaran Konghucu dan Aliran Kepercayaan
    1. a.       Agama Konghucu

 

1)      Pendirinya

Konghucu adalah nabi dan pendiri agama Konghucu. Lahir di kota Tsow di negeri Lu dataran Cina yang ditinggal bapaknya saat umur 3 tahun, 26 tahun ibunya meninggal. Sejak kecil ia suka Berdoa. Dalam permainan suka berperan sebagai seorang yang memimpin doa. Pada masa mudanya, ia sangat berhasil dalam tugasnya di dinas pertanian dan peternakan dan berhasil menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Konghucu tumbuh sebagai orang yang jujur, hidup sederhana, dan suka memberi nasihat orang lain. Ia dikenal sebagai guru dan pemimpin yang bijaksana.

Ajaran Konghucu terus dipelihara oleh pengikutnya dan dihayati secara pribadi sebagai jalan hidup.

2)      Agama Konghucu di Indonesia

Pada zaman pemerintahan presiden Soekarno diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Karena politik Orde Baru, agama Kongjucu tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Pada pemerintahan Abdurachman Wahid kembali diakui sebagai agama resmi dei Indonesia begitu juga pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Imlek hari raya umat Konghucu dan pergantian tahun baru cina, ditetapkan sebagai hari libur nasional.

3)      Inti Ajaran Konghucu

Konghucu sangat mementingkan ajaran moral. Jika setiap orang dapat mengusahakan keharmonisan dengan sesama, alam dan Tuhan maka akan tercipta perdamaian Allah.

Tujuan hidup yang dicita-citakan dalam Konghucu adalah menjadi seorang kuncu (manusia budiman). Seorang kuncu adalah orang yang memiliki moralitas tinggi mendekati moralitas Sang Nabi (Konghucu). Agama Konghucu sangat menghormati arwah leluhur. Tuhan Yang Maha Esa disebut Tuhan.

  1. b.      Aliran Kepercayaan

Aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa mementingkan sikap batin dan berkisar pada ilham dari diri sendiri, yakni:

  • Peningkatan integrasi diri manusia (melawan pengasingan)
  • Pengalaman batin bahwa diri pribadi beralih ke kesatuam dam persatuan lebih tinggi
  • Partisipasi dalam tata tertib sempurna yang mengatasi daya kemampuan manusia biasa.

Kesempurnaan hidup dilakukan dilakukan secara perseorangan atau dalam kelompok–kelompok perguruan. “Umat” dalam Aliran Kepercayaan sulit dibatasi. Organisasi tidak dipentingkan, sumbernya adalah tradisi agama-agama asli.

Ibadat dan Pembinaan

Unsur yang utama dalam ibadat adalah kesadaran dan keyakinan serta hati nurani, merupakan pengalaman budi luhur bukan kebaktian lahiriah. Pertemuan terutama diarahkan kepada pembinaan hati, meneguhkan tekad dan kewaspadaan betin, serta menghaluskan budi pekerti dalam tata pergaulan. Tujuannya adalah pendidikan, setiap orang menemukan Tuhan dalam hatinya sendiri. Dengan membersihkan hati dan mengembangkan kedewasaan rohani, dengan sendirinya ia berbakti kepada Allah. Kepercayaan kepada Allah diwujudkan dalam perilaku ketakwaan terhadap Tuhan.

  1. Menjelaskan bentuk-bentuk dialog dengan umat hindu, Budha, Kong hu Cu dan aliran kepercayaan
  1. a.       Dialog Kehidupan

 

Hidup bersama dengan umat beragama lain dalam suatu lingkungan, kita bertegur sapa, bergaul dan saling mendukung serta membantu satu sama lain sebagai tuntutan iman.

  1. b.      Dialog Karya

 

Kegiatan sosial kemasyarakatan, sosial karitatif, kegiatan rekreatif. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut kita saling mengenal dan menghargai.

  1. Dialog iman

Kita mempunyai perjuangan yang sama dalam menghayati iman kita. Kita dapat saling belajar, meneguhkan, dan memperkaya. Dari pihak umat Katolik dapat memberikan kesaksian iman tentang bagaimana menghayati nilai-nilai injili seperti: cintakasih, solidaritas, pengampunan, pemaafan, kebernaran, kejujuran dan perdamaian.

  1. Menjelaskan pandangan yang mendukung diadakannya dialog antara umat katolik dan umat Hindu, Budha
  1. Dari agama Hindu dan Buddha (Aliran Kepercayaan) kita dapat belajar penekanan pada hal-hal batin. Karena mereka sangat menekankan doa batin, meditasi, kontemplasi.
  2. Dari agama Konghucu (Buddha), dapat belajar tentang penekanan dan penghayatan pada hidup moral dan perilaku.
  3. Dari Aliran Kepercayaan dan agama asli, dapat belajar tentang kedekatan pada alam lingkungan hidup. Agama asli percaya keharmonisan seluruh kosmis. Ada mata rantai kehidupan yang melingkupi seluruh alam raya, yang tidak boleh dirusakkan. Agama asli selalu membuat upacara sebelum mengolah tanah ataupun menebang pohon.
  1. SAJIAN CONTOH

Mendalami kutipan dari Nostra Aetete Art,2 berikut!

BERBAGAI AGAMA BUKAN KRISTIANI

Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara berbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan  tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikiablah dalam Hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha filsafat yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah-tapa atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Allah penuh kasih dan kepercayaan.

Buddhisme dalam berbagai aliran mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama skali tidk mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau-entah dengan usaha sendiri entah berkat bantun dari atas – mencapai penerangan yang tertinggi. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat di seluruh dunia, dengan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci.

Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun, Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni:”jalan, kebenaran dan hidup” (lih Yog 14:6); dalam Dia manusia meneukan kepenuhan hidup keagamaan,” dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya”.

Maka gereja mendorong para putranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerjasama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya yang terdapat pada mereka.

 

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!

  1. Apa yang dikatakan Nostra Aetete artikel 2 tentang agama Hindu ?

Jawaban : Mengakui dan menghargai  kehadiran Allah diresapi, dirasakan dan dialami sebagai kehadiran yang ilahi dalam setiap peristiwa hidup manusia.

  1. Apa yang dikatakan Nostra Aetete artikel 2 tentang Agama Buddha ?

Jawaban : bahwa dunia yang serba berubah ini sama skali tidk mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau-entah dengan usaha sendiri entah berkat bantun dari atas – mencapai penerangan yang tertinggi.

  1. Apa saja yang kamu ketahui tentang agama Hindu?

Jawaban : Dianut sebagian besar orang bali, beribadah di Pura, Hari raya Nyepi, banyak melakukan sesaji, dan kitab sucinya Weda.

  1. Apa saja yang kamu ketahui tentang agama Buddha?

Jawaban : Beribadah di candi Borobudur, hari Raya Waisak, pemimpin agama adalah Bhiksu, pendiri sidharta Gautama.

  1. SOAL LATIHAN
  1. Jelaskan pandangan NA tentang agama Hindu dan Budha
  2. Jelaskan pandangan Gereja terhadap Hindu dan Budha !
  3. Jelaskan Pokok-pokok ajaran dalam agama Hindu!
  4. Jelaskan Pokok-pokok ajaran dalam agama Budha !
  5. Jelaskan pokok-pokok ajaran Kong Hu Cu dan aliran kepercayaan!
  6. Apa Kitab Suci agama Hindu ?
  7. Apa Kitab Suci Agama Budha ?
  8. Sebutkan hari Raya agama Hindu dan apa yang dirayakan ?
  9. Sebutkan hari Raya agama Budha dan apa yang dirayakan ?
  10. Apa makna Moksa dalam agama Hindu dan bagaimana mencapainya?
  11. Apa puncak kesempurnaan dalam Agama Budha dan bagaimana mencapainya?
  12. Apa makna ibadat dan bentuk ibadat aliran Kepercayaan ?
  13. Apa hubungan aliran kepercayaan dan agama asli ?
  14. Sebutkan bentuk-bentuk dialog dengan umat hindu, Budha, Kong hu Cu dan aliran kepercayaan
  15. Jelaskan pandangan yang mendukung diadakannya dialog antara umat katolik dan umat Hindu, Budha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TEMA

MENGHARGAI, BERDIALOG, DAN KERJA SAMA DENGAN UMAT BERAGAMA, DAN KEPERCAYAAN LAIN

BAB 10

KERJA SAMA ANATAR UMAT BERAGAMA MEMBANGUN PERSAUDARAAN SEJATI

 

  1. O.      KOMPETENSI
  2. Standar Kompetensi

Memahami makna firman, ajaran Yesus dan ajaran Gereja dalam mengembangkan kehidupan bersama sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

  1. Kompetensi Dasar

Menghargai dan bersedia berdialog serta bekerja sama dengan umat beragama atau berkepercayaan lain

  1. Indikator
    1. Menyebutkan faktor yang menghambat upaya membangun kerukunan dan persaudaraan sejati.
    2. Menjelaskan fungsi agama dalam hubungan antar manusia.
    3. Menjelaskan maksud UUD 45 pasal 29 ayat 1 dan 2 dan Nostra Aetate dalam kaitannya dengan kerukunan dan persaudaraan sejati antar umat beragama
    4. Menjelaskan berbagai usaha untuk membangun persaudaraan sejati antar umat beragama
  1. Uraian Tujuan :

Pada bab terdahulu siswa mempelajari tentang menciptakan masyarakat yang adil, jujur damai dan mencintai lingkungan hidupnya. Dalam bab ini siswa siswa diajak mempelajarai bagaimana umat beragama dapat saling menghargai, berdialog dan bekerjasama walaupun berbeda agama dan kepercayaan untuk membangun persaudaraan sejati.

  1. URAIAN ISI MATERI
    1. Fakta Kerusuhan antar Pemeluk Agama
    2. Sebab-sebab Kerusuhan antar Pemeluk Agama
    3. Akibat Kerusuhan Antar Pemeluk Agama
    4. Fungsi Agama-Agama
    5.  Berbagai Pedoman untuk Menghayati Hidup Rukun dalam Semangat Persaudaraan antar Pemeluk Agama.
    6. Usaha-usaha membangun Persaudaraan Sejati antar Pemeluk Agama.
  1. PENJELASAN TEORI
    1. Fakta Kerusuhan antar Pemeluk Agama
    1. Di Irlandia Utara sering terjadi kerusuhan dan perang antara umat katolik dan umat Protestan. Kerusuhan berlangsung lama.
    2. Di Khasmir sering ada kerusuhan dan perang antara umat Hindu dan Islam.
    3. Di Tanah Air dapat dicatat kerusuhan antara umat Islam dan Kristen di Ambon, Poso dan secara laten dan kecil-kecil terjadi di banyak tempat lain.
  1. Sebab-sebab Kerusuhan antar Pemeluk Agama
  2. Agama sering diperalat demi kepentingan lain yang bersifat politis dan ekonomis.
  3. Fanatisme sempit karena kurang memahami agamanya sendiri dan agama orang lain.
  4. Merasa posisi dan pengaruhnya terancam karena adanya agama lain.
  5. Pencemaran symbol-simbol agama oleh pemeluk agama lain. Hal ini membakar emosi massa, karena sering diyakini sebagai benteng terakhir untuk menegakkan martabat pribadi atau kelompoknya.
  1. Akibat Kerusuhan Antar Pemeluk Agama
    1. Hilangnya sekian banyak nyawa secara sia-sia, bahkan nyawa orang-orang yang tidak berdosa.
    2. Terjadinya delombang pengungsian, sebab mereka takut dan sudah kehilangan segala-galanya.
    3. Terjadinya bumi hangus. Segala sarana dan prasarana, termasuk sarana dan prasarana agama, telah habis dibakar.
    4. Trauma yang berkepanjangan bagi mereka yang telah mengalaminya
    5. Segala kegiatan, baik ekonomi, pendidikan, maupun keagamaan tidak dapat berjalan lagi
  1. Fungsi Agama-Agama

Fungsi agama pada dasarnya adalah:

  1. Mewartakan keselamatan. Semua agama mewartakan dan menjanjikan keselamatan, bukan bencana. Manusia memeluk agama karena menjajikan keselamatan.
  2. Mewartakan arti hidup. Agama-agama memberikan pandangan hidup dan meyakinkan penganutnya untuk menghayati pandangan hdiup itu. Agama memberi jawaban atas pertanyaan hidup:dari mana asal hidup manusia, apa makna hidup manusia, apa tujuan hidup manusia. Menghayati pandangan hidup menurut agamanya akan membuat manusia bahagia dan selamat.
  3. Mengajarkan cara hidup. Semua agama mengajarkan cara hidup yang baik, hidup beretika dan hidup bermoral, hidup yang baik akan membahagiakan dan menyelamatkan.

Semua penganut agama diharapkan menyadari fungsi agama yang sebenarnya dan beusaha menjalin kerjasama dalam persaudaraan yang sejati, karena cita-cita semua agama sebenarnya sama yaitu keselamatan manusia. Sehingga tidak akan terjadi kerusuhan dan bencana yang disebabkan agama.

  1.  Berbagai Pedoman untuk Menghayati Hidup Rukun dalam Semangat Persaudaraan antar Pemeluk Agama.
    1. 1.       UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2

 

Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2:

(1)    Negara berdasar atas ketuhanan yang maha esa

(2)    Negara menjamin kemerdekaan tidap-tidap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dengan ayat-ayat itu ingin dikatakan:

  • Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama karena berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa. Maka orang harus beragana atau berkepercayaan.
  • Setiap warga bebas memeluk dan menjalankan ibadat sesuai dengan agama masing-masing.
  • Setiap umat beragama wajib menghormati dan memberi kebebasan pihak lain lain untuk melaksanakan ibadatnya.
  • Setiap agama dilarang memaksa seseorang atau sekelompok untuk menganut agamanya.
  1. 2.       Ajaran/pandangan Gereja Katolik

 

  1. a.      Dari Kitab Suci (Injil)

Gereja berpedoman pada sikap Yesus sendiri. Yesus menyapa dan bersahabat dengan siapa saja apaun keyakinan dan agamanya. Mislanya :

1)      Yesus menyapa dan berdialog dengan wanita samaria (Yoh 4:1-42,)

2)      Yesus menyapa perwira Kapernaun (Mat 8:5-13).

3)      Terhadap wanita siro Fenisia yang meyembah berhala Yesus menyembuhkan anaknya. Untuk menegaskan sikapNya Yesus menceritakan permpamaan tentang orangn samaria yang baik hati (Luk 10:25-37)

  1. 3.       Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II dalam Nostra Aetatae artikel 1 dan 2mengatakan bahwa kita hendaknya menghormati agama-agama dan kepercayaan lain, sebab dalam agama-agama itu terdapat pula kebenaran  dan keselamatan. Kita hendaknya berusaha dan bersatu dalam persaudaraan yang sejati demi keselamatan manusia dan bumi tempat kita tinggal disini.

  1. Usaha-usaha membangun Persaudaraan Sejati antar Pemeluk Agama.
    1. 1.       Usaha-Usaha untuk Menghindari Kerusuhan

a)      Agama tidak diperalat demi kepentingan politik dan ekonomi

b)      Mengnambil sikap untuk menjauhkan diri dari setiap provokasi yang muncul dari fanatisme pula

c)       Menjaga agar tidak terjadi pencemaran terhadap symbol-simbol agama manapun

  1. 2.       Usaha-Usaha Positif Mengadakan Berbagai Bentuk Dialog dan Kerja Sama
  2. a.      Dialog kehidupan

Hidup bersama dengan umat beragama lain dalam suatu lingkungan, kita bertegur sapa, bergaul dan saling mendukung serta membantu satu sama lain. Sebagai tuntutan iman kita. Itulah dialog kehidupan

  1. b.      Dialog Karya

1)      Kita sering diajak bekerjasama demi kepentingan bersama dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, sosial karitatif, kegiatan rekreatif. Dialog Iman

2)      Ada banyak ajaran iman yang sama, juga visi dan misi yang sama. Semua memiliki perjuangan untuk menghayati ajaran imannya. Dalam hal ini kita dapat saling belajar, saling meneguhkan dan memperkaya. Dari umat katolik, kita dapat memberikan nilai-nilai Injili seperti:cinta kasih, solidaritas, pengampunan, pemaafan, kebenaran, kejujuran, perdamaian.

3)      Dari agama Islam, Kita dapat belajar sikap pasrah, kepercayaan yang teguh kepada Tuhan, ketekunan dalam Berdoa secara teratur, dan sikap tegar menolak kemaksiatan.

4)      Dari Agama Hindu dan Buddha, Dari agama Hindu dan Buddha (Aliran Kepercayaan) kita dapat belajar penekanan pada hal-hal batin. Karena mereka sangat menekankan doa batin, meditasi, kontemplasi

5)      Dari agama Konghucu (Agama Buddha) dapat belajar tentang penekanan dan penghayatan pada hidup moral dan perilaku. Mereka sangat menekankan praktek hidup yang baik. Agama Konghucu dan agama Buddha adalah agama moral.

6)      Dari Aliran kepercayaan dan agama asli, kita dapat belajar tentang kedekatan mereka pada alam lingkungan hidup. Agama asli percaya keharmonisan seluruh kosmis. Ada mata rantai kehidupan yang melingkupi seluruh alam raya, yang tidak boleh dirusakkan. Agama asli selalu membuat upacara sebelum mengolah tanah ataupun menebang pohon semacam meminta ijin.

  1. SAJIAN CONTOH

Contoh 1.

PASAR MALAM AGAMA

Aku dan temanku pergi ke “Pasar malam

agama.” Bukan pasar dagang. Pasar agama.

Tetapi persaingannya sama sengitnya

Propagandanya pun sama hebatnya

Di kios Yahudi kami mendapat selebaran

Yang mengatakan bahwa Tuhan itu maha

Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi

Adalah umat pilihanNya. Ya, bangsa

Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang

Terpilih seperti banngsa Yahudi

Di kios Islam kami mendengar, bahwa

Allah itu Maha penyayang dan

Mohammad adalah NAbiNya. Keselamatan

Diperoleh dengan mendengar Nabi

Tuhan yang satu-satunya itu

Di kios Kristen kami menemukan, bahwa

Tuhan adalah cinta dan bahwa di luar

Gereja tidak ada keselamatan. Silakan

Mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin

Mengambil resiko masuk neraka

Di pintu keluar aku bertanya kepada

Temanku:”Apakah pendapatmu tentang

Tuhan?” jawabnya:”Rupanya Ia penipu,

Fanatic dan bengis.”

Sampai di rumah aku bertanya kepada Tuhan:”Bagaimana

Engkau dapat tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah

Engkau tidak tahu, bahwa selama berabad-abad

Mereka memberi julukan jelek kepadaMu?”

Tuhan berkata:”Bukan Aku yang mengadakan Pasar

Malam Agama itu. Aku bahkan merasa terlalu malu

Untuk mengunjunginya.”

(Sumber : A.De Mello. Burung Berkicau)

Jawablah pertanyaan berikut ini!

  1. Bagaimana pikiran dan perasaanmu setelah membaca kisah di atas ?

Jawaban : Sedih karena masing-masing agama hanya memikirkan dirinya sendiri, dan menyombongkan diri dan merasa diri paling benar dan paling baik. Sehingga menimbulkan perpecahan antar pemeluk agama.

  1. Apa saja yang diajarkan oleh agama-agama itu menurut cerita di atas ? Apakah ajaran mereka benar? Mengapa demikian?

Jawaban : Setiap agama merasa agamanya paling benar dan merendahkan agama lain.  Ajaran mereka tidak benar karena merasa diri paling benar. Tuhan tidak pernah mengajarkan pemeluknya menyombongkan diri dan merendahkan agama lain.

  1. Mengapa sering kali kita mengalami  kerusuhan anatara pengnanut-penganut agama itu ?

Jawaban : karena pemeluk agama merasa agamanya paling baik dan paling benar, dan menganggap agama lain salah atau lebih rendah dari agamanya.

  1. Sebutkan dan jelaskan berbagai kerusuhan antara penganut-penganut agama di dunia ini termasuk di tanah Air kita sendiri!

Jawaban : Kerusuhan Ambon, Kasus Temanggung antar umat umat Islam.

  1. Apa kiranya alasan terjadinya berbagai kerusuhan antara penganut agama itu ?

Jawaban : Fanatisme yang sempit, agama menjadi alat kepentingan poilitis dan ekonomi, kepentingan pribadi dan golongan, saling curiga antar pemeluk agama.

Contoh 2.

CERITA DARI CIREBON

                Tahun 1983, bulan November sekelompok remaja yang terdiri atas remaja Islam, protestan, katolik, Hindu dan Budha mengadakan kerjasama sosial anatar umat beragama di Cirebon. Para remaja ini berasal dari kota Bandung. Mereka mengadakan berbagai kegiatan olahraga, lalu mengadakan ceramah-ceramah umum tentang kesehatan ditinjau dari agama Islam, protestan, katolik, Hindu dan Budha. Ceramah diadakan oleh seorang dari tiap-tiap agama di depan pendengar dari berbagai agama. Di samping kegiatan sosial lain seperti kerja bakti di tempat-tempat umum, para remaja yang berjumlah 30 orang itu mengadakan kunjungan ke tempat-tempat ibadah berbagai agama misalnya ke masjid Agung Kasepuhan, ke wihara Dewi Welas Asih yang usianya sudah 3,5 abad, ke Gereja Katolik Santo Yosef, ke gereja Protestan dan ke tempat-tempat pengajian yang sekian banyak jumlahnya. Kegiatan ini berhasil baik, karena masalah inti ajaran agama dan ibadat setiap agama tidak diusik-usik. Itu urusan setiap agama.

(Sumber : Majalah HIDUP)

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini !

  1. Apa tanggapanmu setelah membaca cerita di atas?

Jawaban : Cerita ini menggambarkan kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

  1. Apa yang dapat kamu lakukan di lingkunganmu?

Jawaban : Menghormati  pemeluk agama lain, bekerja sama, gotong royong, saling menyapa.

  1. Mengapa dewasa ini oranng sering mempertanyakan fungsi agama?

Jawaban : Karena sering terjadi perpecahan dan konflik justru antar pemeluk agama. Agama yang semestinya menjadi paying untuk hidup dalam kerukunan sering justru menjadi alat perpecahan.

  1. Apakah usaha yang paling penting untuk bisa membangun persaudaraan sejati antar para pemeluk agama-agama? Jelaskanlah pendapatmu!

Jawaban : Sikap terbuka satu sama lain. Saling menghormati satu sama lain. Kalau setiap pemeluk agama terbuka satu sama lain dan saling menghargai akan tercipta kerjasama yang baik.

  1. SOAL LATIHAN
    1. Apa  faktor yang menghambat upaya membangun kerukunan dan persaudaraan sejati?
    2. Sebutkan fakta kerusuhan antar pemeluk umat beragama ?
    3. Mengapa terjadi kerusuhan umat beragama?
    4. Apa akibat kerusuhan antar pemeluk agama?
    5. Jelaskan fungsi agama dalam hubungan antar manusia!
    6. Jelaskan maksud UUD 45 pasal 29 ayat 1 dan 2 tentang kehidupan beragama di Indonesia !
    7. Apa pesan Kitab Suci tentang kehidupan beragama?
    8. Apa pesan Nostra Aetate dalam kaitannya dengan kerukunan dan persaudaraan sejati antar umat beragama?
    9. Apa usaha untuk menghindari kerusuhan antar pemeluk agama?
    10. Apa hal-hal positif yang bisa dibangun untuk membangun kerukunan umat beragama?

DIKTAT PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS X

Kata Pengantar

            Pertama, saya mengucapkan puji syukur dan terimakasih kepada Allah Bapa Yang Maha Kasih karena rahmat dan karunia-Nya yang selalu beserta kita.  Ucapan syukur juga kami panjatkan terutama karena berkat limpahan berkat-Nya sehingga diktat ini dapat terselesaikan. Kami juga mengucapkan terimakasih bagi saudara-saudara dan teman-teman yang mendukung terselesainya diktat ini.

Harapan saya semoga diktat ini semakin memudahkan proses belajar siswa dan   bermanfaat bagi para siswa-siswi SMA/SMK dalam mempelajari Pendidikan Agama Katolik di kelas X semester 1. Kami juga mengharapkan para siswa semakin  memahami pribadinya dan  dewasa imannya melalui diktat ini.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam penyusunan diktat ini. Oleh karena itu kami mohon kritik dan saran demi perbaikan diktat ini sehingga semakin mendekati kesempurnaan.

 

 

 

Wonosari,   Agustus 2012

Penyusun

 

 

Ag. Dwiyanto Edy Susilo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Judul…………………………………………………………………………………..……..…  i

Pengesahan…………………………………………………………………………………….   ii

Kata Pengantar………………………………………………………………………………..   1

Daftar Isi ………………………………………………………………………………………  2

Pendahuluan………………………………………………………………………………..…  .3

BAB I  Aku Pribadi Yang Unik………………………………………………………………. 4

BAB II Saya Memiliki Kelebihan dan Kekurangan…………………………………………   11

BAB III Saya Diciptakan Sebagai Citra Allah………………………………………………   16

BAB IV Sebagai Citra Allah Saya dan Sesama adalah Saudara……………………………    20

BAB V Kepriaan dan Kewanitaan………………………………………………………….    25

BAB VI Tugas Pria dan Wanita……………………………………………………………     33

BAB VII Hati Nurani………………………………………………………………………     38

BAB VIII Pembinaaan Suara Hati………………………………………………………….    42

BAB IX Bersikap Kritis terhadap Media Massa……………………………………………    46

BAB X Bersikap Kritis terhadap Ideologi, Aliran/paham dan Trend-trend yang berkembang.52

 

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

 

Perkembangan zaman mau tidak mau membuat peran sekolah ikut berubah. Peran sekolah lebih dikaitkan dengan upaya untuk menyiapkan siswa menjadi pribadi yang dewasa dan utuh baik aspek kognitif maupun afektif serta psikomotorik. Dalam hal inilah Pendidikan Agama Katolik ikut serta berperan aktif. Dalam hal ini juga Guru Agama Katolik, melalui pelajaran Agama Katolik di sekolah, punya tugas mulia, yakni: membimbing dan mengarahkan agar siswa juga berkembang dalam iman akan Yesus Kristus. Dengan demikian anak / siswa diharapkan siap dalam menghadapi arus-arus zaman yang begitu cepat menggelinding di muka bumi ini.

Maka dalam usaha peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran haruslah mendapat perhatian yang serius, untuk itu diperlukan berbagai usaha. Salah satunya adalah tersedianya diktat yang dapat dipakai sebagai acuan / pegangan / pedoman sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, termasuk di dalamnya Mata Pelajaran Agama Katolik. Diktat dapat menjadi alternatif jika buku resmi Pendidikan Agama Katolik terbatas kesediaannya di sekolah-sekolah.

Diktat Mata Pelajaran Agama Katolik untuk kelas I semester 1  ini terdiri dari satu tema pokok, yakni : Manusia Makhluk Pribadi. Tema, Manusia Makhluk Pribadi mengajak para siswa untuk mengenali dirinya sendiri, ciri-ciri fisik, kelebihan dan kekurangannya, hati nuraninya, dan dengan hati nuraninya siswa mampu bersikiap kritis terhadap dampak dari media massa  dan trend-trend/aliran/dan paham-paham yang berkembang.

Dengan disusunnya buku diktat ini diharapkan dapat membantu Guru maupun siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran.

 

  1. TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai dengan penyusunan diktat ini adalah:

  1. Meningkatkan kualitas pembelajaran mata pelajaran Agama Katolik di SMA/SMK
  2. Meningkatkan motivasi siswa Katolik, kelas I SMA/SMK dalam mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Katolik.

 

  1. MANFAAT

Manfaat yang dapat dicapai dengan diktat ini adalah:

  1. Membantu Guru Agama Katolik mempermudah dalam kegiatan pembelajaran
  2. Memudahkan para siswa dalam mengikuti pembelajaran
  3. Kegiatan pembelajaran akan berlangsung dengan lancar, Guru serta Siswa semakin mantap mengikuti pembelajaran.

 

BAB I

AKU PRIBADI YANG UNIK

  1. A.      KOMPETENSI
    1. 1.         Standar Kompetensi

Memahami nilai-nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan  mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki yang memiliki rupa-rupa kemampuan dan keterbatasan, sehingga dapat berelasi dengan sesama secara lebih baik.

 

  1. 2.         Kompetensi Dasar

Mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, cita-cita dan panggilan hidupnya, sehingga menerima diri sebagaimana adanya.

 

  1. 3.         Indikator
    1. Menyebutkan ciri-ciri fisik dirinya sendiri
    2. Menyebutkan kemampuan-kemampuannya
    3. Menyebutkan sifat-sifat dan karakter yang dimilikinya
    4. Menyebutkan pengalaman-pengalamannya yang unik
    5. Menyebutkan keunikan diri dalam terang Kitab Suci

(Kej 1:26-31)

  1. Mengungkapkan rasa syukur sebagai pribadi yang diciptakan Tuhan dengan keajaiban-keajaibannya (Mazmur 139)

 

  1. 4.         Uraian Tujuan;

Siswa dapat mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, cita-cita dan panggilan hdiupnya, sehingga menerima diri sebagaimana adanya.

 

  1. B.       RINGKASAN MATERI
    1. 1.         Ciri-ciri Fisik.

Secara jasmaniah, remaja pria dan wanita adalah berbeda. Karena ia makhluk Allah yang unik.

 

  1. 2.         Kemampuan-kemampuan.

Masing-masing remaja potensi kemampuannya berbeda-beda.

 

  1. 3.         Sifat dan karakter

Sifat dan karakter para remajapun juga berbeda-beda dan memiliki kekahasan.

 

 

 

 

  1. 4.         Pengalaman-pengalaman

Pengalaman para remaja juga berbeda-beda. Karena ditentukan oleh lingku ngannya, namun ia juga bisa menentukan sejarah berikutnya.

 

  1. 5.         Keunikan Manusia dalam terang Kitab Suci.

Keunikan dan kekhasan manusia seturut terang Kitab Suci Kej 1:26-31 akan semakin jelas. Disana dapat kita temukan sejarah penciptaan manusia.

  1. 6.         Rasa syukur

Bersama Mazmur 139 kita diajak bersyukur atas rahmat penciptaan Allah yang unik dan khas ini. Keunikan dan kekhasan kita justru karena kita segambar dan secitra dengan Alah sendiri.

 

  1. C.      PENJELASAN TEORI
    1. 1.      Ciri-ciri Fisik.

Secara jasmaniah, remaja adalah manusia yang sedang mekar-mekarnya. Badan mereka sangat indah dan mengagumkan. Rambutnya, yang hitam, pirang, yang ikal/keriting, lurus, berombak. Bentuk muka, ada yang bulat, bulat telur, lonjong. Warna kulit, ada yang kuning, hitam, coklat, putih, Bentuk badan, ada yang pendek, jangkung, kurus, gemuk. Dan secara keseluruhan, lihatlah keadaan fisik remaja. Lihatlah keseluruhan badan.  Begitu indah. Begitu indah, kedua telinga, kedua tangan, kedua kaki, hidung, dan mulut “dipasang” begitu tepatnya! Indah dan estetis. Itulah fisik manusia! Dan yang lebih mengagumkan lagi, dari sekian juta manusia yang hidup dan yang pernah hidup tidak ada satupun yang sama. Bahkan anak kembar pun, sepintas sama, seperti pinang dibelah dua, tetapi tetap juga berbeda.Itulah ke-unikan ciptaan Tuhan, yang namanya manusia. Dapatkah kalian menyebutkan cirri-ciri fisik yang kalian miliki? Banggakah kalian dengan ciri-ciri fisik yang kalian miliki? Yang berbeda dengan yang lain? Kita harus bangga! Kita harus bersyukur dengan ciri-ciri fisik yang kita miliki. Harus kita jaga! Harus kita rawat! Harus kita peliharan kemurniannya.  Apa pun bentuk fisik kita, tapi kan satu-satunya di dunia ini, tidak ada yang menyamainya. Kita ,seperti halnya barang antik harus dijaga keberadaannya. Kita adalah unik!

 

  1. 2.      Kemampuan-kemampuan.

Dalam badan remaja yang unik dan indah itu terdapat kekayaan rohaniah yang sangat potensial seperti: kemampuan-kemampuan. menari, menyanyi, berolah raga, tertawa dan menangis, mencintai dan bercita-cita, berpikir dan berfantasi, berkehendak dan mengambil keputusan secara bebas,dsb. Darimanakah semua kemampuan ini berasal? Pernahkah kita berpikir, bahwa kemampuan-kemampuan tersebut merupakan anugerah dari Sang Pencipta? Yang harus kita gali, kita pahami dan kita kembangkan!

Dengan anggota tubuh, kalian dapat tersenyum, menari, menyanyi. Dengan panca-indra, kalian dapat melihat, mendengar, merasa. Dengan otak dan hati, kalian dapat berpikir, bercita-cita, mencintai, percaya dan berharap, mengambil keputusan secara bebas.

 

  1. 3.         Sifat dan karakter

Selain kemampuan-kemampuan tersebut di atas, manusia masih dihiasi oleh kekayaan rohani yang lain, yaitu karakter dan sifat, seperti sifat ramah tamah, pemarah, setia, penuh pengertian dan sebagainya. Di dalam diri kalian, ada sesuatu yang sulit untuk dilukiskan yang keluar dari diri kalian, sehingga orang lain mengatakan kalian baik, kalian peramah, kalian suka mengerti, kalian penuh belas kasih dsb. Kalian memiliki apa yang disebut karakter dan sifat, yang tidak ada pada ciptaan lain. Semuanya itu kalian miliki secara khas.

 

  1. 4.         Pengalaman-pengalaman

Setiap manusia, memiliki pengalaman-pengalaman, baik pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman pahit yang menantang. Dan setiap manusia, terlebih manusia muda/remaja pasti memiliki pengalaman-pengalaman yang unik,

Dengan diri kalian, kalian dapat membuat kemajuan, pengalaman dan sejarah. Kalian dapat membuat kemajuan dan pengalaman karena dapat mempertanyakan banyak hal dan mencari jawaban-jawaban dalam hidup ini. Kalian pasti memiliki pengalaman yang menyenangkan dan pengalaman pahit yang menantang. Dapatkah kalian mengungkapkan pengalaman-pengalaman yang telah kalian lalui? Pengalaman-pengalaman tersebut turut membentuk kalian sehingga menjadi seperti sekarang ini. Kalaian ini khas dan unik.

 

  1. 5.         Keunikan Manusia dalam terang Kitab Suci.

Singkatnya, manusia itu makhluk yang indah dan istimewa. Keistimewaan dan keagungan manusia ini hendaknya kita sadari sungguh-sungguh. Manusia  merupakan mahkota dan sekaligus raja dari semua ciptaan. Untuk melukiskan keistimewaan dan keagungan manusia itu, Kitab Suci Kejadian menceritakannya dengan indah sekali.

PENCIPTAAN MANUSIA

Kejadian 1: 26 – 31

 

Berfirmanlah Allah: “Baiklah, kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”  Maka, Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya. Dan jadilah demikian. Maka, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

 

Dari bacaan Kitab Suci di atas kita dapat mengatakan bahwa, manusia itu adalah ciptaan Tuhan yang unik dan istimewa, karena:

  1. Waktu menciptakan manusia, Allah merencanakan dan menciptakannya menurut gambar dan rupa-Nya. Menurut citra-Nya. (Kej 1:26).
  2. Waktu menciptakan manusia, Allah seolah-olah perlu “bekerja” secara khusus. “Tuhan Allah membentuk manusia dari debu dan tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (bdk Kej 2:7).
  3. Segala sesuatu, termasuk taman Firdaus, diserahkan oleh Allah untuk manusia (Kej 1:26).

 

Bukankah manusia itu istimewa? Tuhan memperlakukan manusia secara khusus. Manusia sudah dipikirkan dan direncanakan oleh Allah sejak keabadian. Kehadiran manusia di muka bumi sudah dipersiapkan dan diatur secara teliti dan mengagumkan. Manusia sungguh diperlakukan sebagai “orang”, sebagai pribadi, “seperti” Tuhan sendiri. Betapa uniknya kita manusia ini!

 

  1. 6.         Rasa syukur

Dengan kesadaran akan diri kita, yang unik dan istimewa, yang diciptakan Tuhan dengan cara khusus dan diperlakukan sebagai “orang”, sebagai pribadi “seperti” Tuhan sendiri, maka sudah sepantasnya kalau kita bersyukur kepada Tuhan. Kita bersyukur, tidak hanya karena kita diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang unik dan istimewa saja, melainkan dan terlebih kita bersyukur karena keagungan Tuhan itu sendiri. Ucapan syukur ini dapat kita panjatkan dalam bentuk doa, seperti si Pemazmur dalam Kitab Mazmur 139:

Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku, Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan atau berbaring, segala jalanku Kau maklumi.

Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.

Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.

Terlalu ajaib bagiku mengetahui itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

Ke mana aku dapat pergi menjauh roh_mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

Jika aku mendaki ke langit,Engkau di sana, Jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati di situpun Engkau berada.

Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntuna ku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,” maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti siang.

Sebab engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib, ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah, mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam Kitab_Mu semuanya tertulis, hari-hari yang dibentuk, sebelum ada satupun daripadanya.

Dan bagiku betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya.

Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak daripada pasir.  Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.  Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh penumpah-penumpah darah, yang berkata dusta kepada Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia.

Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya Tuhan, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang membenci Engkau, ya Tuhan , dan .tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau?

Aku sama sekali membenci, mereka menjadi musuhku.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenalilah hatiku.

Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku,

Lihatlah apakah jalanku serong,

Dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.

 

 

 

 

  1. D.    SAJIAN CONTOH

Baca, renungkan dan garisbawahilah kalimat-kalimat yang menyentuh hatimu dalam puisi berikut ini:

 

JADILAH DIRI SENDIRI YANG TERBAIK

Jika kau tak dapat menjadi pohon meranti di puncak bukit,

jadilah semak belukar di lembah.

Jadilah semak belukar yang teranggun di sisi bukit,

kalau bukan rumput, semak belukar pun jadilah!

Jika kau tak boleh menjadi rimbun, jadilah rumput,

dan hiasilah jalan di mana-mana.

Jika kau tak dapat menjadi ikan mas, jadilah ikan sepat.

Tapi jadilah ikan sepat terlincah di dalam payau.

Tidak semua dapat menjadi nahkoda,

lainnya harus menjadi awak kapal dan penumpang.

Pasti ada sesuatu untuk semua.

Karena ada tugas berat, maka ada tugas ringan

di antaranya dibuat yang lebih berdekatan.

Jika kau tak dapat menjadi bulan, jadilah bintang,

Jika kau tak dapat menjadi jagung, jadilah kedelai

Bukan dinilai kau kalah ataupun menang.

Jadilah dirimu sendiri yang terbaik!

 

Douglas Mallock

Langkah-langkah pembentukan konsep pembentukan kekhasan dan keunikan masing-masing pribadi;

  1. Mengapa pohon –pohon menurut penulis puisi diatas berbeda?

Jawab;  karena tiap-tiap pohon berbeda-beda. Tapi setiap pohon pasti memiliki keistimewaan masing-masing.

  1. Mengapa pohon-pohon itu indah;

Jawab; karena diciptakan oleh Tuhan baik adaNYA.

  1. Apakah ada pesan dari penulis puisi diatas untuk kehidupan anda?

Jawab; ada. Yaitu. Jadilah dirimu sendiri yang terbaik!

 

  1. E.     EVALUASI
    1. 1.      Test Tertulis
    2. Sebutkan ciri-ciri fisik kalian yang khas!
    3. Sebutkan kemampuan-kemampuan kalian yang menonjol!
    4. Sebutkan sifat-sifat atau karakter-karakter kalian yang dipuji oleh teman-teman kalian?
    5. Sebutkan pengalaman-pengalaman khas yang berpengaruh bagi jalan hidup kalian!
    6. Bagaimanakah Kitab Kejadian 1:26-31, melukiskan keunikan dan  keistimewaan manusia?
    7. Susunlah sebuah doa sebagai tanda syukur untuk kekhasan kalian masing-masing!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

SAYA MEMILIKI KELEBIHAN

DAN KEKURANGAN

  1. A.      KOMPETENSI
    1. 1.    Standar Kompetensi

Memahami nilai-nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan  mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki yang memiliki rupa-rupa kemampuan dan keterbatasan, sehingga dapat berelasi dengan sesama secara lebih baik.

 

  1. 2.    Kompetensi Dasar

Mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, cita-cita dan panggilan hdiupnya, sehingga menerima diri sebagaimana adanya.

 

  1. 3.    Indikator
  2. Menganalisa  kelebihan dan kekurangan diri
  3. Menjelaskan pesan iman dari Mat 25:14-30
  4. Menjelaskan alasan, cara dan usaha mengembangkan talenta

 

  1. 4.    Uraian Tujuan;

Siswa dapat mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, cita-cita dan panggilan hidupnya, sehingga menerima diri sebagaimana adanya.

 

  1. B.        RINGKASAN MATERI
    1. 1.    Kelebihan (potensi) dan kekurangan manusiawi.

Remaja pria dan wanita, memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal ini terbentuk oleh faktor keluarga, lingkungan, dan kedua-duanya sekaligus. Kesadaran untuk menerima secara utuh kelebihan dan kekurangan tersebut membuat perkembangan pribadi para remaja semakin seimbang.

 

  1. 2.    Menerima diri apa adanya.

Gagasan dasar menurut Paulus dalam Roma 8:28 adalah bahwa semua ciptaan ada dalam rencana Kebaikan Allah. Maka kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri remaja hendaknya disadari dalam terang Sabda Allah ini. Sehingga menerima diri berarti juga bersedia dibentuk oleh Allah yang merencanakanNya.

 

 

 

 

 

 

 

  1. 3.    Mengembangkan talenta atau potensi-potensi.

Kata talenta dapat dijumpai dalam Mat 25:14-30. Ada dua kategori talenta dalam pesan tersebut. Pengembangan talenta dan mendiamkannya. Sejarah orang-orang sukses adalah sejarah pengembangan talenta tersebut.

 

  1. C.      PENJELASAN MATERI
    1. 1.      Kelebihan (potensi) dan kekurangan manusiawi.

Para remaja kadangkala tidak menyadari potensi-potensi yang dimulikinya, tetapi di pihak lain mereka pun sulit menerima keterbatasannya. Dalam pelajaran yang lalu kita menyadari bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang unik, yang berbeda dengan yang lain. Setiap orang, baik itu pria atau wanita mempunyai potensi-potensi atau talenta-talenta yang berharga. Dan sebagai remaja yang sedang dan akan berkembang dan tumbuh, perlulah ia menyadari dan mengetahui dengan benar potensi-potensi yang dimilikinya. Disamping potensi atau kelebihan yang dimilikinya, remaja juga perlu menyadari keterbatasan-keterbatasannya. Sehingga dengan demikian para remaja dapat berkembang dan tumbuh seimbang, tidak keekstrim kanan atau kiri. Para siswa harus menyadari betul bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan dan keterbatasannya, karena ini sudah merupakan kodrat manusiawi kita.

De fakto kita sudah memiliki keadaan fisik seperti yang sekarang kita punyai. Demikianj juga, kita sudah memiliki kemampuan, bakat-bakat, sifat dsb, disamping keterbatasan-keterbatasannya.  Bagaimana hal ini dapat kita jelaskan?

  1. Ada aliran atau pendapat yang lebih menekankan bahwa keberadaan fisik, bakat, karakter, dan sifat-sifat yang kita miliki sekarang ini lebih disebabkan oleh faktor keturunan. Kita berkulit kuning atau hitam atau putih, bersosok tinggi atau pendek, berbakat seni atau matematika dan sebagainya, semua ini dianggap sebagai keturunan dari orang tua kita atau leluhur kita.
  2. Ada aliran atau pendapat yang lebih menekankan bahwa keberadaan fisik kita (kelebihan dan keterbatasannya) disebabkan karena pengaruh lingkungan. Pendapat ini mengatakan bahwa alam, kebudayaan, dan kultur sangat mempengaruhi dan membentuk diri seseorang. Alam dan kebudayaan Eropa menghasilkan orang Eropa. Alam dan kebudayaan Asia menghasilkan orang Asia. Alam dan kebudayaan Indonesia akan menghasilkan orang Indonesia.
  3. Aliran atau pendapat yang ketiga dapat menerima kedua-duanya. Keberadaan seseorang turut ditentukan oleh faktor keturunan, tetapi juga oleh factor lingkungan hidupnya.
  4. 2.      Menerima diri apa adanya.
    1. Potensi-potensi dan keunggulan dalam diri setiap orang.

Setiap siswa mungkin belum menyadari potensi-potensi dan keunggulan yang mereka miliki. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh pendidikan di rumah ataupun di luar rumah di mana mereka masih diperlakukan seperti anak-anak. Dengan demikian, kepercayaan diri mereka seolah-olah dibungkam sehingga mereka belum menyadari kemampuan-kemampuannya. Slogan seperti : “Kaum muda adalah harapan atau masa depan Gereja dan Bangsa” memberi kesan seolah-olah peranan para remaja adalah hanya untuk masa yang akan datang, bukan sekarang. Hal ini juga dapat menyebabkan kaum remaja secara tidak sadar memendamkan bakat-bakat dan kemampuannya untuk masa depan. Belum lagi larangan-larangan yang terus menerus dari semua pihak untuk kegiatan dan kreativitas para remaja yang dinilai tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonsesia atau moral tradisional. Semua ini dapat membuat para remaja tidak kreatif atau berdiam diri, acuh tak acuh atau frustasi. Sebaliknya, kemungkinan ada sementara siswa yang sangat menyadari keunggulan-keunggulannya sehingga mereka bersikap arogan, angkuh dan sok super. Sikap superior atau sikap merasa lebih dari yang lain,, dapat menyebabkan mereka menonjolkan diri, meremehkan orang lain, suka membangkang, suka mendahului dll. Hal ini dapat membuat mereka mudah kecewa, mudah merasa dihina, merasa disingkirkan dari pergaulan.

  1. Disamping belum menyadari kelebiahn dan kemampuan yang ada, para siswa juga mungkin belum menyadari berbagai kekurangan dan cacat yang mereka miliki. Kekurangan atau cacat dapat menyebabkan sikap minder atau sikap rendah diri.  Sikap minder atau rendah diri ini dapat menyebabkan hidup seseorang sangat berat. Siswa yang menyadari kekurangannya atau cacatnya sering berpikir bahwa hanya orang-orang lain saja yang beruntung. Mereka selalu merasa sial, karena kekurangannya atau kecacatannya. Perasaan sial ini sering mengganggu hubungan sosial mereka dengan orang lain atau hubungan mereka dengan masyarakatnya.
  2. Para remaja (dan kita semua) hendaknya dapat menerima diri seadanya. Tuhan menciptakan kita seadanya dan baik adanya. Menolak kehendak Tuhan atas diri kita yang konkret ini dapat menjadi penghalang bagi kemajuan diri kita sendiri dan menjadi rintangan bagi jalan kita menuju Allah. Kita hendaknya menerima kehendak Allah yang nyata dalam diri kita.  Kita percaya bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya”. (bdk. Roma 8:28).

Menerima kehendak Allah berarti menerima bimbingan-Nya, karena Dia akan mengantar kita setapak demi setapak melalui keadaan konkret kita dan lingkungan kita menuju keselamatan. Ini semua akan terjadi sejauh kita menerima dan melaksanakan kehendak-Nya.

 

  1. 3.    Mengembangkan talenta atau potensi-potensi.
    1. Mengembangkan talenta atau potensi dalam terang Kitab Suci (Mt.25:14-30).

Setiap orang mempunyai kemampuan dan bakat-bakat dalam ukuran dan lingkungan tertentu. Kemampuan dan bakat yang dimiliki seseorang seharusnya dikembangkan dan digunakan. Kemampuan dan bakat adalah anugerah Tuhan, yang dalam Kitab Suci sering disebut talenta. Tuhan menghendaki agar talenta itu dikembangkan dan digunakan. Dalam Injil Mateus 25:14-30, dikisahkan tentang seorang tuan yang memanggil hamba-hambanya dan memberi mereka sejumlah talenta untuk “dikembangkan” dan “digunakan”. Tuan yang telah memberi talenta itu ternyata bertindak tegas terhadap hamba yang tidak mengembangkan dan menggunakan talenta itu dengan baik.

Setiap orang termasuk para remaja diberi talenta oleh Tuhan. Mereka harus mengembangkan dan menggunakan talenta itu sebagaimana mestinya. Mengembangkan dan menggunakan talenta sebagaimana mestinya adalah panggilan dan tuntutan Kristiani.

 

  1. SAJIAN CONTOH

Para siswa perlu pula membiasakan diri membaca buku-buku sejarah tentang orang-orang berbakat yang talentanya diremehkan oleh banyak orang, misalnya:

  1. 1.        Albert Einstein

Ia baru dapat berbicara setelah mengijak usia 4 tahun dan dapat membaca pada usia 7 tahun. Namun, ternyata ia memiliki kemampuaan (talenta) luar biasa dan disegani sepanjang masa, khususnya di bidang fisika. Pada umur 26 tahun ia menemukan teori relativitas khusus (tahun 1905) dan pada umur 37 tahun menemukan teori relativitas umum (tahun 1916).

  1. 2.        Isaac Newton

Ia termasuk murid yang dianggap kurang berhasil di bangku sekolah dasar. Namun, ternyata ia menjadi ilmuwan terbesar sepanjang masa. Ia ahli di bidang matematika, fisika, astronomi, dan filsafat. Ia menemukan hukum gravitasi, hukum gerak, kalkulus, teleskop pantul dan spectrum.

  1. 3.        Warner von Braun

Ia gagal pada gelas 9 untuk bidang studi Aljabar. Namun, ternyata ia menjadi ahli roket dan ahli kendaraan ruang angkasa (Amerika Serikat).

  1. 4.        Golda Meir

Pada waktu ia masih gadis, penampilannya sama sekali tidak cantik. Sadar akan kekurangannya dalam segi fisik, ia memacu keunggulannya di bidang bakat dan kemampuan intelektualnya. Kemudian ia menjadi Perdana Menteri Wanita pertama di Israel dan sangat terkenal kemampuannya sebagai negarawati.

 

Pembentukan Konsep;

a). Sejauh manakah keempat tokoh tersebut menyadari potensi talentanya?

Jawab; mereka sungguh menyadari akan keterbatasannya, maka mereka berjuang untuk mengatasi keterbatasannya tersebut.

b). Apa yang menarik dari keempat tokoh besar tersebut?

Jawab;  mereka orang yang terbatas dalam talenta, tetapi maksimal dalam pengembangannya.

c). Adakah kesimpulan yang menguatkan hidup Anda?

Jawab; ada. Mereka memberikan keteladanan dalam pengembangan talentanya secara maksimal.

 

  1. 4.        EVALUASI
    1. 1.         Test Tertulis
      1. a.      Setiap manusia memiliki keunggulan dan keterbatasannya masing-masing (itu kodrat manusia). Bagaimana sikap kalian terhadap kenyataan tersebut?
      2. b.   Inspirasi apa yang dapat kalian petik dari peumpamaan Talenta dalam Injil Mateus 25:14-30?
      3. c.    Bagaimana kalian dapat mengembangkan bakat-bakat yang kalian miliki?
      4. d.   Mengapa kita perlu pula membaca buku-buku sejarah tentang keberhasilan seseorang tokoh?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SAYA DICIPTAKAN SEBAGAI CITRA ALLAH

 

  1. A.      KOMPETENSI
    1. 1.    Standar Kompetensi

Memahami nilai-nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan  mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki yang memiliki rupa-rupa kemampuan dan keterbatasan, sehingga dapat berelasi dengan sesama secara lebih baik.

 

  1. 2.    Kompetensi Dasar

Memahami dirinya sebagai manusia yang diciptakan Allah menurut Citra-Nya, sehingga menyadari bahwa semua manusia adalah saudara se-Allah Bapa.

 

  1. 3.    Indikator
    1. Menjelaskan arti dan makna CITRA
    2. Menerangkan arti manusia diciptakan sebagai Citra Allah (Kej 1:26-27)
    3. Menjelaskan arti manusia diciptakan baik adanya
    4. Mengungkapkan kebaikan-kebaikan dirinya yang menggambarkan kebaikan Allah
    5. Bersikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain yang adalah sama-sama citra Allah

 

  1. 4.      Uraian Tujuan

Siswa dapat memahami dirinya sebagai manusia yang diciptakan Allah menurut Citra-Nya, sehingga menyadari bahwa semua manusia adalah saudara se-Allah Bapa.

 

  1. B.       RINGKASAN MATERI
    1. 1.         Arti dan Makna CITRA

Arti kata Citra adalah gambaran. Kata ini dapat dijumpai dalam teks Kitab Suci. Dan kita adalah citra Allah.

 

  1. 2.         Manusia sebagai Citra Allah.

Manusia sebagai Citra Allah diberi anugerah untuk hidup berkuasa. Namun kekuasaan manusia hendaknya tetap dalam kerangka anugerah yang diterimanya, yakni akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas. Sehingga anugerah untuk berkuasa tadi menjadi kuasa yang bertanggungjawab..

 

 

 

 

 

  1. C.      PENJELASAN MATERI
    1. 1.      Arti dan Makna CITRA

Remaja dapat saja dihinggapi oleh perasaan rendah diri atau rasa minder yang dapat menjadi kendala bagi perkembangan dirinya. Maka perlulah bagi remaja untuk merefleksikan dirinya secara alkitabiah tentang manusia sebagai gambaran dan citra Allah, sehingga dapat membangkitkan rasa harga diri pada dirinya. Namun, sebelumnya perlulah kita memahami dan mengerti apa arti dan makna CITRA itu sendiri. Kata Citra mungkin lebih tepat kita artikan sebagai Gambaran. Yang menggambarkan! Kalau kita mirip dengan ibu kita, itu tidak berarti kita sama dengan ibu kita . Tetapi dengan mirip ini mau menggambarkan sesuatu, bahwa pada diri kita entah itu fisiknya, karakternya, sifat-sifatnya ada kesamaan dengan ibu. Dan kesamaan ini bukan dalam arti yang sebenarnya, tetapi merupakan gambaran dari ibu. Hasil karya, entah itu seni atau yang lainnya dapat menggambarkan si penciptanya. Demikian pula mahkluk yang disebut manusia itu, dapat dikatakan sebagai gambaran atau citra si penciptanya, yaitu Allah sendiri.

 

  1. 2.      Manusia sebagai Citra Allah.

Dalam Kitab Suci Kej.1:26-31. Kej. 2:4-7 (silahkan baca), kiranya cukup jelas bahwa manusia diciptakan oleh Allah menurut gambaran dan Citra-Nya. “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”. (Kej. 1:26).

Selanjutnya kepada manusia itu diberi kuasa untuk menguasai alam ciptaan lain. Menguasai alam berarti menata, melestarikan, mengembangkan, dan menggunakannya secara bertanggungjawab. Untuk itu diperlukanlah akal budi dan kehendak bebas yang bertanggungjawab. Hanya kepada manusia diberi kemampuan-kemampuan itu. Kemampuan-kemampuan itu membuat manusia mirip dengan Allah. Ia menjadi citra Allah.

 

  1. 1.        Kemampuan Akal Budi

Dengan akal budi kita dapat:

  1. Mengerti dan menyadari diri sendiri

Manusia mengerti dan sadar bahwa ia ada, bahwa ia sedang berbuat sesuatu. Ia sadar bahwa ia sadar. Ia dapat merefleksikan kembali apa yang sedang ia buat. Hanya manusia yang dapat berbuat demikian.

  1. Mengerti dan menyadari apa saja di luar dirinya.

Manusia dapat menyadari bahwa ada awan dan ada hujan, dan mencari tahu hubungan natara awan dan hujan. Manusia dapat mencari hubungan antara factor-faktor dan membuat kesimpulan. Manusia dapat membuat rencana untuk masa depan. Manusia dapat menerima pengaruh-pengaruh dari luar dan mengatasinya.

  1. Manusia dapat mengembangkan dirinya, dapat membuat riwayat dan sejarah hidupnya.

Dengan demikian manusia dapat membuat kemajuan, dapat menentukan arah dan sejarah hidupnya.

  1. Manusia dapat membangun hubungan yang khas dengan sesama.

Manusia dapat bertemu dan mengalami kebersamaan dan persahabatan dengan orang lain. Karena itu manusia menciptakan bahasa, adat istiadat dsb.

  1. 2.        Kemampuan berkehendak bebas

Kehendak bebas berarti kemampuan untuk bertindak dengan tidak ada paksaan. Kebebasan merupakan cirri khas manusia. Apa yang dapat kita perbuat dengan kehendak bebas itu?

  1. Dengan kehendak bebas kita dapat bertindak dan melakukan sesuatu dengan sengaja. Hanya manusia yang dapat melakukan sesuatu dengan sengaja. Melakukan dengan tahu dan mau.
  2. Dengan kehendak bebas manusia dapat melakukan suatu tindakan dan perbuatan moral. Tindakan moral hanya dapat dibuat oleh manusia, sebab hanya manusia dapat bertindak dengan tahu dan mau. Oleh karena itu manusia mempunyai kewajiban-kewajiban moral. Kewajiban moral ini dibisikan oleh Hati Nurani kita masing-masing. Tuhan berbicara kepada kita lewat hati nurani kita.
  3. Dengan kehendak bebas, kita dapat bertindak secara bertanggungjawab. Hanya manusia dapat bertindak secara bertanggungjawab.

 

  1. 3.        Kemampuan “Menguasai”

Tuhan menyerahkan alam lingkungan ini kepada manusia untuk menguasainya. Bukan menguasai secara sewenang-wenang, tetapi menguasai secara bertanggungjawab. Tuhan menghendaki supaya alam ini, selain digunakan oleh manusia, supaya ditata dan dilestarikan. Kita menjadi rekan sekerja Tuhan untuk mengembangkan alam lingkungan kita, untuk itu kita dikaruniai akal budi dan kehendak bebas.

Dengan melihat kemampuan-kemampuan tersebut, kiranya menjadi jelas bahwa manusia adalah mahkluk yang istimewa dan unik. Manusia adalah mahkluk yang berpribadi dan bermartabat. Manusia sungguh gambaran dan citra Allah. Oleh karena itu, sesudah manusia diciptakan sebagai puncak ciptaan, dalam Kitab Kej. 1:31, tertulis: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya sungguh amat baik!”

 

  1.   SAJIAN CONTOH;

Renungkanlah ucapan orang Kudus dibawah ini!

SANTA KATARINA DARI SIEANA

“Apakah alasannya, maka Engkau meninggikan manusia kemartabat yang begitu mulia? Cinta yang tidak ternilai, yang dengannya Engkau memandang makhlukMU dalam diriMU sendiri dan jatuh cinta kepadanya, sebab Engkau menciptakanNya karena cinta, karena cinta Engkau memberi kepadanya satu kodrat, yang dapat merasakan kegembiraan pada diriMU, harta abadi! (katekismus Gereja Katolik, hal 122)

 

Langkah pembentukan konsep;

  1. Adakah pesan mulia dari orang kudus tersebut berkaitan dengan manusia sebagai citra Allah?

Jawab; ada. Pesan tersebut bahwa Allah memandang manusia seolah memandang diriNYA sendiri.

  1. Tunjukkan satu kalimat dari pesan tersebut yang menyatakan bahwa manusia baik adanya?

Jawab; sebab Engkau menciptakanNya karena cinta.

 

  1. SOAL LATIHAN;
    1. Jelaskan arti dan makna dari kata CITRA!
    2. Bagaimana arti manusia diciptakan sebagai Citra Allah menurut Kitab kejadian 1:26-27?
    3. Mengapa manusia diciptakan baik adanya? Jelaskan artinya!
    4. Ungkapkanlah kebaikan-kebaikan dirimu yang menggambarkan kebaikan Allah itu sendiri!
    5. Bagaimana sikap kalian terhadap diri sendiri dan orang lain yang adalah sama-sama citra Allah?

 

BAB IV

SEBAGAI CITRA ALLAH SAYA DAN SESAMA ADALAH SAUDARA

 

  1. A.    KOMPETENSI
    1. 1.    Standar Kompetensi

Memahami nilai-nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan  mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki yang memiliki rupa-rupa kemampuan dan keterbatasan, sehingga dapat berelasi dengan sesama secara lebih baik.

 

  1. 2.   Kompetensi Dasar

Memahami dirinya sebagai manusia yang diciptakan Allah menurut Citra-Nya, sehingga menyadari bahwa semua manusia adalah saudara se-Allah Bapa.

 

  1. 3.        Indikator
    1. Menyebutkan contoh diskriminasi dan fanatisme ras, agama, suku, dan sebagainya beserta sebab dan akibatnya
    2. Menjelaskan arti Kitab Kejadian 1:26-27 dalam kaitannya dengan manusia diciptakan sebagai satu saudara yang semartabat
    3. Menjelaskan sikap toleran/akomodatif dan menghargai perbedaan
    4. Menjelaskan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menghilangkan diskriminasi dan fanatisme
    5. Melakukan usaha untuk menghilangkan diskriminasi dan fanatisme sempit dilingkungannya

 

  1. Uraian Tujuan;

Siswa dapat memahami dirinya sebagai manusia yang diciptakan Allah menurut Citra-Nya, sehingga menyadari bahwa semua manusia adalah saudara se-Allah Bapa.

 

  1. D.      RINGKASAN MATERI
    1. 1.      Diskriminasi, fanatisme ras, agama, suku, dan antargolongan.

Konflik akhir-akhir ini muncul oleh karena adanya sikap perendahan martabat kemanusiaan. Perendahan martaban kemanusiaan dapat kita lihat dengan adanya sikap-sikap diskriminatif, fanatik, sukuisme, rasialisme.

  1. a.      Sebab-sebab munculnya sikap Diskriminatif dan fanatik.

1)  Kebodohan, kekurangpahaman dan kepicikan.

Munculnya sikap apriori terhadap orang atau kelompok lain  ditandai dengan adanya sikap bodoh, kurangpaham, picik.

2)  Perasaan terancam

Perasaan ketakutan dan munculnya isu-isu yang kurangbertanggungjawab seringkali juga menjadi pemicu adanya kekerasan.

 

 

  1. Jalan keluar untuk menjauhkan sikap diskriminatif dan fanatik

1)        Bersikap dan berperilaku moderat.

2)        Berpola pikir pluralis

3)        Tidak mudah menghakimi.

4)        Membuka pilihan-pilihan yang kompromistik tanpa mengorbankan prinsip. Cari jalan “win-win solution”. Non violent conflict solution harus terus diupayakan.

5)      Keteladanan para orang tua.

 

  1. 2.      Dasar Alkitabiah atas sikap akomodatif dan toleran terhadap sesama;
    1. Kesetaraan Martabat
    2. Pluralitas atau kemajemukan adalah suatu kenyataan.
    3. Adanya perbedaan.
    4. Hukum  Cinta Kasih

 

  1. E.       PENJELASAN MATERI
    1. 1.      Diskriminasi, fanatisme ras, agama, suku, dan antargolongan.

Akhir-akhir ini, terasa bahwa sikap diskriminasi dan fanatisme ras, agama, suku, agama, budaya dan kelompok social muncul di mana-mana. Amat disayangkan bahwa cukup banyak anak muda yang terseret dalam arus ini. Maka perlulah kita menyadari bahwa isu diskriminasi dan fanatisme ras, agama, suku dan sebagainya dapat melahirkan berbagai kekerasan dan tindakan anarkis yang sungguh merusak. Dengan sikap yang merusak ini sebenarnya sangat melukai citra Allah yang terpeterai dalam alam ciptaan-Nya, khususnya manusia. Sebagai sesama citra Allah, kita seharusnya saling menghormati dan saling mengasihi.

a)      Sebab-sebab munculnya sikap Diskriminatif dan fanatik.

  1. 1.      Kebodohan, kekurangpahaman dan kepicikan.

Jika kita kurang atau tidak paham tentang agama kita sendiri dan  agama orang lain, maka mudah sekali menimbulkan sikap apreori, menolak, mendiskreditkan dan mendiskriminasikan agama serta keyakinan orang lain. Kita bersikap fanatic menolak. Demikian juga kebodohan dan kepicikan kita tentang kebudayaan, adat istiadat dan falsafah suku sendiri atau suku orang lain, dapat membuat kita mudah bersikap fanatik suku secara buta. Kita ambil contoh: Jika seorang Penguasaha tahu dan mengenal kebutuhan serta persoalan buruh-buruhnya, dan buruh-buruh tahu persoalan yang dihadapi bosnya, maka ketegangan sosial antara keduanya dapat sedikit diredam.

Orang-orang yang sungguh cerdas dan bijaksana tidak akan bersikap fanatic dan diskriminatif. Sikap diskriminatif dan fanatif akan selalu hinggap pada orang-orang yang picik, yang pengetahuannya sangat kurang atau setengah-setengah saja.

 

 

  1. 2.        Perasaan terancam

Orang-orang atau golongan yang merasa terancam akan cenderung bersikap fanatik! Misalnya:

■ Isu Kristenisasi atau Islamisasi dapat membuat orang-orang Kristen atau Islam bersikap fanatik. Isu pengangkatan pegawai orang asli dan orang luar (pendatang) dapat memunculkan sikap fanatik suku / etnis dari kedua belah pihak.

■ Isu buruh yang terancam PHK atau upah rendah, dan pengusaha diancam bangkrut, maka akan gampang bersikap diskriminatif  dan fanatik Rasa terancam memang mudah membuat orang bersikap fanatik.

 

b)      Jalan keluar untuk menjauhkan sikap diskriminatif dan fanatik

1)       Bersikap dan berprilaku moderat.

Menjauhkan diri dari sikap yang berlebihan dan sikap ekstrem. Bersikap di tengah-tengah selalu aman. Kata orang kebenaran selalu berada di tengahnya.

2)   Berpola pikir pluralis

Situasi majemuk menuntut kita untuk berpikir dan bersikap terbuka, inklusif.

3)   Tidak mudah menghakimi.

Hendaknya kita tidak mudah menghakimi dan menyalahkan orang lain, lebih baik mawas diri atau mengoreksi diri sendiri. Kita tidak boleh menghakimi orang lain, serahkan penghakiman itu pada Allah. Menghakimi adalah hak Allah, Ia hakim yang adil. Sebab menghakimi orang lain, sama dengan menghakimi diri sendiri. Suara hati kita sering masih lemah, kurang jernih. Seperti Yesus katakana: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang melempar batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:8.). Jangan menganggap diri suci, orang lain berdosa. (bdk. Lk 18:9-14)

4)   Membuka pilihan-pilihan yang kompromistik tanpa mengorbankan prinsip. Cari jalan “win-win solution”. Non violent conflict solution harus terus diupayakan.

5)   Keteladanan para orang tua.

Banyak fanatisme dan kekerasan merebak di dalam keluarga karena disulut oleh sikap ayah dan ibu.

 

  1. 2.      Dasar Alkitabiah atas Sikap Akomodatif dan Toleran terhadap sesama
    1. a.      Kesetaraan Martabat.

Setiap orang memiliki kesetaraan martabat dan hak azasi di hadapan allah. Manusia diciptakan sebagai “Citra Allah”(Kej.1:27) atau gambar Allah yang tak kelihatan” (Kol 1:15) dipanggil menjadi “Anak Allah” (Yoh 3:1-2). Setiap orang diciptakan sebagai pribadi yang diberi akal budi, kebebasan dan hati nurani, dan dituntut untuk bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri.

Setiap orang menurut kodratnya memiliki hak untu kelangsungan hidup, hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, dan pelayanan kesehatan yang memadai. Hak untuk tumbuh dan berkembang secara penuh, memperoleh pendidikan dan cinta kasih. Hak untuk mendapatkan perlindungan dari eksploitasi ekonomi dan seksual, diskriminasi dan tindakan sewenang-wenang, hak untuk berpartisipasi dalam keluarga, kebudayaan dan kehidupan sosial.

  1. b.      Pluralitas atau kemajemukan adalah suatu kenyataan.

Orang harus menerima realitas kehidupan di dunia ini yang plural/majemuk dan berbeda satu sama lain. Perbedaan ini dapat melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain. Seperti organ tubuh, banyak anggota tapi satu tubuh. Berbeda talenta, karunia, dan panggilan, tetapi satu rekan sekerja Allah. (bdk. 1 Kor 1:10. 3:12-14)

  1. c.       Adanya perbedaan.

Adanya perbedaan dapat membuat orang untuk mawas diri; mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri dan orang lain; mengenal identitas diri dan orang lain; dan tidak mudah untuk menghakimi atau mengadili orang lain. Serahkan penghakiman itu pada Allah. Hendaknya kita suka mengampuni orang lain, sebagaimana Allah, Kristus telah mengampuni kita. (bdk. Mt.7:1-5; Lk 6:37-42)

  1. d.      Hukum  Cinta Kasih

Cinta kasih adalah dasar utama mengapa kita harus toleransi kepada sesame kita. Cinta berarti menerima orang lain apa adanya sesuai dengan identitasnya yang berbeda atau justru karena identitasnya yang berbeda. Cinta baru dapat menemukan bentuknya yang paling dalam ketika kita mencintai orang lain dan bukan karena ia sama dengan kita, melainkan terlepas dari apa pun sifat dan karakternya, termasuk berbedaannya.  Yesus tidak pernah mengajarkan kita untuk mencintai dengan syarat bahwa orang lain itu harus sama suku dan agamanya dengan kita. Sebaliknya, Yesus mengajar kita untuk mencintai semua orang, bahkan orang yang memusuhi kita. Ketika seorang Farisi bertanya kepada Yesus: “Siapakah sesamaku manusia?”  Yesus menceritakan kisah orang Samaritan yang baik hati. Orang Samaritan telah memperlakukan orang Yahudi, yang dianggap musuhnya, yang mendapat bencana di jalan seperti saudaranya sendiri. (lih. Lk 10:25-37)

 

Ssasas

D.SAJIAN CONTOH

KERINDUAN MASYARAKAT AMBON

Perjalanan antara Poso dan Ambon selama 6 hari bagi Tim Peninjau Independen Gerakan Moral Nasional memberikan getaran perasaan yang dapat dilukiskan dalam dua kata: rindu dan dendam. Semua orang rindu akan kedamaian. Semua orang rindu akan tegaknya hukum. Semua orang rindu akan hidup normal. Namun, kerusuhan yang begitu dahsyat akhirnya menyisakan penderitaan yang luar biasa bagi masyarakat Ambon. Mereka terluka karena konflik yang berkepanjangan seolah-olah dibiarkan tanpa ada pihak-pihak yang mencoba mernyelesaikannya. Kedua belah pihak yang bertikai menjadi gelap mata hatinya melihat korban yang berjatuhan atas nama kesakralan dalam sebuah identitas agama.

Agama yang selama ini dianggap sakral dan memberikan kesejukan pada umatnya tiba-tiba menjadi sesuatu yang mengerikan. Seolah-olah mereka kehilangan kesadaran kemanusiaan lagi. Satu dengan yang lain tertipu oleh pihak-pihak yang selama ini diuntungkan dalam kerusuhan yang mengatasnamakan agama. Akhirnya, agama menjadi penat karena terlalu banyak dimasuki dan diintervensi jargon-jargon yang penuh dengan warna kekerasan. Tangan-tangan mereka penuh mereka dengan darah. Mulut mereka penuh dengan kemarahan. Hati mereka tersayat. Itulah dendam yang terpatri dalam kalbu kedua belah pihak yang terlibat konflik di Ambon.

Tiba-tiba suasana itu sirna ketika Malino I dan II memberikan harapan kepada kedua belah pihak yang terlibat konflik. Ada kerinduan untuk bertemu lagi sebagai saudara. Mereka merindukan agar konflik dan pertikaian segera dihentikan. Salah satu isi Deklarasi itu adalah masyarakat Ambon merindukan agar aparat keamanan menjalankan perannya menaga keamanan tanpa pandang bulu. Aparat keamanan bersikap obyektif, berdiri netral, dan bertindak adil terhadap semua pihak (tidak diskriminatif).

 

Langkah pembentukan konsep;

  1. Apa yang menyebabkan Kerusuhan di Ambon?

Jawab; karena agama kehilangan kesadaran kemanusiannya lagi.

  1. Bagaimana upaya mengatasi Kerusuhan tersebut?

Jawab; adanya Deklarasi Malino I dan II, yang salah satu point pentingnya adalah aparat keamanan tidak diskriminatif/bersikap adil.

  1. Apa yang ingin anda ungkapkan dari cerita diatas?

Jawab; bahwa kerusuhan itu menyisakan rasa sakit dan dendam yang berkepanjangan.

 

  1. EVALUASI;
    1. Sebutkan contoh-contoh diskriminasi dan fanatisme ras, agama, suku, dan sebagainya beserta sebab dan akibatnya!
    2. Apa arti Kitab Kejadian 1:26-27 dalam kaitannya dengan manusia diciptakan sebagai satu saudara yang semartabat?
    3. Jelaskan bagaimana sikap sikap toleran/akomodatif dan menghargai perbedaan dapat dipraktekkan dalam hidup?
    4. Usaha-usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk menghilangkan diskriminasi dan fanatisme?
    5. Usaha-usaha apa saja agar sikap diskriminasi dan fanatisme sempit bisa dihilangkan?

 

 

 

 

 

BAB V

KEPRIAAN DAN KEWANITAAN

  1. KOMPETENSI

 

  1. STANDAR KOMPETENSI:  Memahami nilai – nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan mengembangkan diri sebagai perempuan atau  laki – laki yang memiliki rupa – rupa kemampuan dan keterbatasan sehingga dapat berelasi dengan sesama

 

  1. KOMPETENSI DASARMemahami Jati Diri Laki – Laki dan Perempuan yang Diciptakan Allah Untuk Saling Melengkapi Sebagai Partner yang Sederajat

 

 

  1. INDIKATOR:
    1. Menjelaskan hakekat ke – laki – laki-an dan ke- perempuan-an secara biologis.
    2. Menjelaskan sifat komplementer dalam relasi laki – laki dan perempuan.
    3. Menjelaskan makna kesederajatan antara laki – laki dan perempuan

 

  1. URAIAN TUJUAN

Setelah mempelajari diktat  siswa dapat  memahami Jati Diri Laki – Laki dan Perempuan yang Diciptakan Allah Untuk Saling Melengkapi Sebagai Partner  yang Sederajat

 

  1.  RINGKASAN  MATERI

Jati Diriku sebagai Laki-laki dan Perempuan

  1. Ciri Khas Laki-laki dan Perempuan secara Biologis .
    1. Organ Kelamin Wanita dan Fungsinya
    2. Organ Kelamin Pria dan Fungsinya
    3. Ciri Khas Laki-laki dan Perempuan secara  Psikologis
      1. Perbedaan Cara Berpikir
      2. Perbedaan Perasaan
      3. Perbedaan Alun dan Selera Seks

 

  1. PENJELASAN MATERI

 

Jati Diriku sebagai Laki-laki dan Perempuan

Jati diri sebagi laki-laki atau perempuan yang mempunyai kodrat fisik dan kecenderungan  perasaan dan pemikiran yang berbeda. Perbedaan yang terjadi bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi dan disyukuri sebagai karunuia yang luarbiasa dari Allah.

 

 

 

1.  Ciri Khas Laki-laki dan Perempuan secara Biologis

  1. Antara Pria dan wanita ada perbedaan yang mencolok pada rambut, mata, pipi, mulut, leher, dada, pinggul, dan betis. Pada remaja putrid kelihatan lebih halus, sedangkan pada remaja putra kelihatan kekar.
  2.   Perbedaan yang terdalam yang menjadikan pria sungguh pria dan wanita sungguh wanita adalah organ kelamin. Organ kelamin ini mulai bekerja sungguh-sungguh ketika manusia mulai berumur 12, 13, 14, atau 15 Tahun.

1)      Organ Kelamin Wanita dan fungsinya.

Ssosok tubuh wanita mengungkapkan kehalusan dan kelembutan yang bersifat memikat, menerima, mengadakan dan memelihara.  Struktur dan fungsi kelamin wanita diciptakan untuk menerima, mengadakan, dan memelihara. Oleh sebab itu, organ kelamin wanita terletak di dalam tubuh, sehingga fungsi menerima, mengadakan dan memelihara dapat lebih terjamin.

a)    Indung Telur (Ovarium)

Indung Telur terletak pada tempat yang paling dalam dari organ kelamin wanita. Indung Telur merupakan kelenjer yang menghasilkan hormon-hormon dan sel telur. Jika seorang putrid sudah mengijak usia 10-14 tahun, hormone-hormon yang dihasilkan ada dua, yaitu hormon Oestrogen dan hormone Progesteron.

b)      Hormon Oestrogen.

Hormon Oestrogen merupakan semacam zat, yang mulai memasuki seluruh pembuluh darah dari seorang putri dan mengubah badan seorang putri menjadi sempurna sebagai wanita. Perubahan itu dapat dilihat misalnya, pada pertumbuhan buah dada, pinggul, paha, dan pertumbuhan bulu pada ketiak dan permukaan kelamin. Putri itu sekarang sungguh menjadi “Wanita” yang berdaya memikat.

c)        Hormon Progesteron

Hormon Progesteron merupakan semacam zat, yang mulai mempersiapkan kandungan supaya menjadi tempat yang baik dan aman untuk benih-benih kehidupan yang akan diterima dan dikandungnya. Pada saat yang sama, indung telur mulai menghasilkan sel telur. Ia menjamin supaya lapisan daalam rahim bertambah tebal dan tambahan darah berkumpul dalam lapisan itu.

Tujuan dari menebalnya rahim adalah untuk menjadi tempat yang aman bagi sel telur yang dibuahi dan tambahan darah merupakan persiapan makanan bagi sel telur tersebut.

d)       Sel Telur.

Selain menghasilkan hormone-hormon, indung telur juga menghasilkan pula sel telur. Sel telur adalah benih kehidupan dari pihak wanita. Sel telur yang sudah masak melepaskan diri dari indung telur (disebut ovulasi) menyusuri saluran telur menuju kandungan, yang sudah disiapkan oleh hormone Progesteron. Jika sel telur ini tidak dibuahi, ia akan mati dan bersama semua persiapannya dikeluarkan dari kandungan melalui saluran peranakan (Vagina). Keluarnya sel telur yang sudah mati beserta semua persiapannya dinamakan menstruasi. Menstruasi akan dialami kurang lebih pada setiap bulan, sehingga sering pula disebut “datang bulan”

e)        Rahim (Uterus)

Rahim berbentuk seperti buah apokat. Panjangnya antara 3,5 – 7,5 cm dan lebarnya sekitar 5,5 cm. Rahim mempunyai dinding dari anyaman otot yang liat seperti karet. Di dalam rahim inilah kehidupan seorang anak manusia dimulai. Mula-mula sebagai persenyawaan sel telur dan sel jantan yang hamper tidak telihat oleh mata telanjang, tetapi kemudian tumbuh dan berkembang menjadi bayi manusia yang utuh.

f)         Saluran-saluran telur

Ada dua saluran telur yang merupakan saluran dari indung telur ke rahim. Setiap saluran itu panjangnya kira-kira 10 cm. Saluran-saluran itu tidak langsung dihubungkan dengan kedua indung telur. Bentuk berjari-jari dari ujung kedua saluran itu berfungsi menghentikan sel telur ketika dilepaskan dari indung telur dan mengarahkannya ke rahim.

g)        Liang peranakan (Vagina)

Vagina merupakan saluran berlendir, elastic, dan berkerut-kerut, yang terletak antara rahim dan pukas. Panjangnya kira-kira 10 – 15 cm. Dindingnya terdiri atas otot-otot yang liat seperti karet. Vagina inilah yang merupakan “ruang penerimaan” organ kelamin pria (Zakar) dalam peristiwa saling memberi dan menerima   yang paling intim antara pria dan wanita. Melalui vagina ini pulalah manusia baru melangkah menuju dunia luar (kelahiran)

h)        Selaput Dara (Hymen)

Selaput dara terletak pada mulut vagina. Ia merupakan selaput lender yang menutupi liang vagina. Selaput ini tipis, setipis kulit bawang. Banyak gadis menjaganya dengan setia supaya jangan sampai rusak, sebab masyarakat kita masih menganggapnya sebagai lambing keperawanan seorang wanita. Keperawanan biologis ini masih sering dihubungkan dengan kesucian seorang wanita.

 

i)          Kelentit (Clitoris)

Kelentit terletak pada bagian luar dari organ kelamin wanita di mana bibir-bibir kecil dari kelamin wanita itu bertemu. Kelentit berfungsi menciptakan rangsangan seksual dan meningkatkan tercapainya orgasme. Ia membuat seorang wanita siap “menerima” kejantanan seorang pria.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2)      Organ kelamin Pria dan Fungsinya.

Organ kelamin pria lebih bersifat memberi dan mengadakan “menciptakan”. Oleh sebab itu, sebagian besar organ kelamin pria terletak di luar.

 

a)      Buah Pelir (Testes)

Buah pelir berbentuk seperti telur berjumlah dua buah, yang kedua-duanya dibungkus dalam suatu kantung kulit yang disebut kandung buah pelir (scrotum). Susunan buah pelir sangat rumit dan berfungsi seperti indung telur, yaitu menghasilkan hormone dan sel-sel jantan (sperma). Oleh sebab itu, buah pelir disebut juga kelenjer pembuat benih.

b)      Hormon Testosteron

Hormon testosterone merupakan semacam zat yang mengubah badan anak remaja yang sedang berkembang menjadi “laki-laki”. Suaranya membesar, kumisnya mulai tampak, bulunya mulai tumbuh pada ketiak dan sekitar alat kelamin. Remaja tersebut memang nulai bersikap sebagai laki-laki.

c)      Sel-sel Sperma

Pada saat yang sama, kelenjer pembuat benih mulai menghasilkan sel jantan atau sperma. Sperma berarti “benda hidup”. Dia adalah cikal bakal kehidupan manusia. Jika anak gadis hanya menghasilkan satu sel telur setiap siklus pematangan telur, remaja pria menghasilkan berjuta-juta sel jantan, yang terdiri atas kepala sel dan ekornya yang berfungsi menggerakkan sel itu untuk bergerak masuk ke dalam sel telur (peristiwa pembuahan). Sel-sel sperma ini hamper tak dapat dilihat oleh mata telanjang.

d)     Anak Buah Pelir.

Anak buah pelir merupakan pembuluh yang melingkar dan melekat pada ujung kelenjer pembuat benih. Ia menjadi tempat penyimpanan sementara untuk sel-sel jantan. Sebab, sel-sel sperma yang telah dihasilkan oleh kelenjer pembuat benih berkumpul dan menjadi masak di dalam anak buah pelir.

e)      Saluran Air Mani

Saluran air mani adalah saluran yang mengatur sel-sel sperma dari anak buah pelir menuju kandung air mani, yang menjadi tempat penyimpanan kedua bagi sel-sel sperma. Dari kandung air mani, saluran air mani ini masih berlanjut ke kelenjer prostat dan kemudian menyatu dengan saluran kencing melewati zakar sampai keluar.

f)       Kandung Air Mani

Kandung air mani merupakan tempat penampungan kedua bagi sel-sel sperma. Selain sebagai tempat penampungan, kandung air mani juga berfungsi sebagai panghasil zat cair yang disebut air mani, yang mengantar sel-sel sperma dari suatu tempat ke tempat lain.

g)      Kelenjer Prostat

Kelenjer ini juga turut menghasilkan air mani. Selain menghasilkan air mani, kelenjer prostat berfungsi sebagai klep yang bersama-sama dengan kandungan air mani dan zakar turut melancarkan perjalanan sperma (yang dihantar air mani) melalui saluran kencing untuk keluar dari tubuh.

 

h)      Zakar

Organ ini terdiri atas sebuah jaringan berupa bunga karang berbentuk bulat, terdiri atas kepala dan batang zakar. Batang zakar dibentuk oleh tiga otot melar, yang berisi amat banyak pembuluh darah yang sangat halus. Pada waktu terangsang, pembuluh-pembuluh darah itu berisi banyak darah dan karenanya menjadi besar dan tegang. Dalam zakar itu terdapat saluran, di mana air mani bersperma dan air kencing dapat keluar.

i)       Proses Ejakulasi

Proses Ejakulasi (pengeluaran air mani) kadang-kadang dialami oleh pria remaja pada waktu tidur, yang sering juga disebut “mimpi basah”. Pada suatu saat dapat terjadi bahwa air mani yang mengandung sperma yang ditampung di kandung air mani menjadi penuh. Dengan demikian, setelah seorang remaja yang sudah tertidur 6-8 jam pada malam harinya, kandung kencingnya yang penuh itu tentu saja membesar dan menekan kandung air mani yang bersperma. Tekanan tersebut menyebabkan stimulus seksual. Apabila ada rangsangan seksual, darah akan masuk dengan cepat pada jaringan-jaringan pembuluh darah organ kelamin, sehingga zakar menjadi tegang. Bersamaan dengan itu organ-organ kelamin bekerja sama secara otomatis untuk memancarkan air mani keluar.

 

2. Ciri Khas Laki-laki dan Perempuan secara  Psikologis.

  1. a.   Perbedaan Cara Berpikir
    1. a.      Cara berpikir wanita lebih intuitif dan konkrit, sedangkan cara berpikir pria lebih obyektif, teoritis, dan abstrak. Jaalan pikiran wanita agak lebih “dari dalam”, agak dipengaruhi oleh unsure-unsur subyektif. Wanita berpikir lebih intuitif, dan menghubungkan kejadian-kejadian dengan dirinya sendiri. Ia sulit mengambil jarak dengan apa yang dipikirkannya. Melihat peristiwa tabrakan, misalnya, ia akan spontan menjerit. Mendengar suatu cerita yang sedih, ia akan menangis, seolah-olah terlibat dalam peristiwa itu.

Sebaliknya, pria berpikir lebih “dari luar”, agak lebih obyektif dan lebih berkepala dingin. Ia dapat mengambil jarak dengan apa yang dipikirkannya. Oleh sebab itu, pria tidak gampang terharu dan lekas terpengaruh, ia lebih berpikir secara abstrak dan teoritis.

  1. b.      Wanita lebih berpikir hal-hal yang kecil (partial) dan bersifat sehari-hari, sedang pria lebih suka berpikir hal-hal yang global dan jangkauannya jauh.

Wanita cenderung berpikir soal yang kecil-kecil dan keseharian, seperti pot bunga, pacar, alat-alat make-up, dsb. Kalau berpiknik, ia akan berpikir segala soal tetek bengek seperti sambal, tikar, air minum dsb, yang mungkin luput dari perhatian seorang pria. Pikiran wanita cenderung berorientasi pada kekinian, pada saat sekarang.

Sebaliknya, pria berpikir lebih global dan jauh ke masa depan. Ia berpikir tentang cita-cita, karier masa mendatang, dsb. Hal-hal kecil yang bersifat sehari-hari seperti kancing baju yang sudah copot atau singlet yang sudah kotor sering tidak dipikirkannya.

  1. c.       Pikiran wanita lebih keluar dirinya, sedangkan pria lebih ke dalam dirinya.

Pikiran wanita lebih terarah kepada hal-hal yang di luar dirinya. Ia lebih bersifat ultroistis. Ia mengingat orang tuanya, adik-adiknya, pacarnya dengan senang hati, dan ingin agar mereka itu bahagia. Sedangkan pikiran pria lebih terarah kepada dirinya sendiri. Lebih bersifat ego-sentris. Jika ia mengingat pacar, mungkin saja demi kepuasannya.

 

  1. b.   Perbedaan Perasaan

1)      Perasaan wanita lebih mudah bergetar, sedangkan pria agak terkendali. Karena daya pikirnya lebih intuitif, perasaan wanita gampang bergetar. Jika berhadapan dengan suatu masalah, perasaan wanita lebih mudah menjalar dari satu soal ke soal lain. Ia dapat melupakan inti persoalan dan tenggelam dalam detil perasaan keterharuan yang berlarut-larut. Wanita yang sudah tersentuh atau terluka hatinya tidak gampang melupakannya.

2)      Pria lebih dapat mengendalikan perasaannya karena gaya pikirnya yang lebih obyektif. Pria dapat membendung perasaannya sehingga tidak terlalu mendalam dan merembes ke berbagai masalah. Pria mudah marah, tetapi sebentar menjadi tenang kembali. Pria lebih mudah jatuh cinta sekali pandang, tetapi juga mudah melupakannya. Pria gampang berjanji setia tetapi kemudian mudah mengingkarinya. Oleh sebab itu, pria lebih gampang mengungkapkan perasaannya, sedangkan wanita cenderung memendamkannya.

 

c.   Perbedaan Alun dan Selera Sex.

1)      Pria lebih mudah terangsang pada hal-hal lahiriah, sedang wanita mudah terangsang pada hal-hal batiniah. Seorang pria tertarik pada wanita lebih pada pesona fisik (lahiriah). Pria akan terangsang, misalnya, jika melihat paha atau buah dada seorang gadis. Sedangkan wanita akan lebih terangsang pada hal-hal yang lebih batiniah. Wanita akan terangsang jika dirayu dan dicumbu, jika dia merasa dicintai dan diingini.

2)      Rangsangan pada pria dapat sangat cepat bangkit,  tetapi juga cepat menghilang. Pada wanita, rangsangan akan bangkit secara perlahan dan menghilang pelan-pelan juga.

3)       Rangsangan seksual pada wanita terdapat hampir pada seluruh tubuhnya, walaupun ada tempat-tempat tertentu yang lebih peka untuk terangsang, seperti buah dada, organ kelamin, leher dan sebagainya. Sedangkan pada pria, tempat rangsangan praktis dilokalisasi pada organ kelamin.

 

d.   Perbedaan Sikap dan Tindakan

1)      Umumnya, pria lebih bersifat agresif, berbuat dan  membangun.        Pria membuat rumah, membuka lading baru, “membuat” anak, dsb. Oleh karena itu, pria sangat mementingkan tugas, karier dan tempat kerja. Pria meluangkan banyak waktu di tempat-tempat ia dapat bekerja. Pria terikat pada kantornya, ladangnya dsb.

2)       Umumnya, wanita lebih pasif, menerima dan memelihara. Wanita merawat rumah. Menyirami tanaman, mengandung, melahirkan dan mengasuh anak. Jika harus memilih karier di luar rumah atau anak-anak, wanita lebih suka memilih anak-anak. Oleh sebab itu, wanita sangat terikat dengan tempat di mana ia dapat memelihara, kebunnya atau rumahnya. Home, sweet home.

 

 

  1. SAJIAN CONTOH

 

Buatlah sebuah refleksi dalam bentuk doa syukur  ucapan terimakasih yang ingin anda ungkapkan kepada Tuhan, orang tua, dan saudara, serta teman-teman, berisi permenungan atas kodrat  diri anda sebagai laki-laki maupun perempuan!

Contoh Doa Syukur  terimakasih kepada orang tua:

Tuhan kami bersyukur atas keberadaanlu melalui orang tua yang amat baik dan mencintai aku. Ibu yang begitu sabar merawatku, memelihara, mengasihiku tanpa pamrih, menyediakan segala kebutuhanku. Trimakasih juga atas perhatian ayah yang telah bekerja keras demi menghidupi kami, melindungi, sehingga kami merasa aman dan tentram. Bapa jagalah dan lindungilah orang tua kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

 

E. SOAL LATIHAN

Test tertulis

  1. Jelaskan hakekat ke – laki – laki-an dank ke- perempuan-an secara biologis.
  2. Jelaskan sifat komplementer dalam relasi laki – laki dan perempuan.
  3. Jelaskan makna kesederajatan antara laki – laki dan perempuan

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

TUGAS PRIA DAN WANITA

  1. KOMPETENSI

 

  1. STANDAR KOMPETENSI:  Memahami nilai – nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan mengembangkan diri sebagai perempuan atau  laki – laki yang memiliki rupa – rupa kemampuan dan keterbatasan sehingga dapat berelasi dengan sesama

 

  1. KOMPETENSI DASARMemahami Jati Diri Laki – Laki dan Perempuan yang Diciptakan Allah Untuk Saling Melengkapi Sebagai Partner yang Sederajat

 

 

  1. INDIKATOR
    1. Menjelaskan peranan dan tugas laki – laki dan perempuan secara kodrati.
    2. Menjelaskan pandangan masyarakat tentang peran dan tugas laki – laki dan perempuan baik secara pribadi maupun secara pasangan.
    3. Merumuskan pesan Kej 2:7. 18 – 25 dalam kaitannya peran dan tugas laki – laki dan perempuan

 

  1. URAIAN TUJUAN

Setelah mempelajari diktat  siswa dapat  memahami Jati Diri Laki – Laki dan Perempuan yang Diciptakan Allah Untuk Saling Melengkapi Sebagai Partner  yang Sederajat

 

  1. RINGKASAN  MATERI
  2. Peranan dan Tugas Pria dan Wanita
    1. Peranan dan Tugas Pria
    2. Peranan dan Tugas Wanita
    3. Peranan/Tugas Pria dan Wanita sebagai Pasangan

 

  1. Pesan Kej 2:7. 18 – 25 dalam kaitannya peran dan tugas laki – laki dan perempuan

 

  1. PENJELASAN MATERI
  2. Peranan dan Tugas Pria dan Wanita

a.  Peranan dan tugas Pria

  • Melindungi dan menyejahterakan.

Dengan kekokohan tubuhnya dan keperkasaan jiwanya, pria dituntut untuk melindungi, termasuk untuk melindungi kaum perempuan. Kekuatan dan keperkasaannya bukan untuk merusak, tetapi untuk melindungi dan menyejahterakan. Kehadiran seorang pria harus membawa rasa damai dan rasa terjamin.

  • Menjadi kekasih dan partner

Secara biologis dan psikologis, manusia diciptakan    untuk saling melengkapi. Pria diciptakan untuk menjadi teman, partner dan kekasih bagi wanita. Hal itu sudah menjadi tuntutan kodrat. Maka, setiap pria harus dapat menjadi partner dan kekasih yang baik bagi wanita, dan jika sudah menikah harus menjadi suami yang baik.

  • Menjadi “bapa” yang memberi benih kehidupan

Setiap pria disiapkan untuk menjadi bapa. Sebagai bapa, ia memberi benih kehidupan. Ia “menciptakan” keturunan.  Ia laksana langit dan air hujan yang jatuh ke bumi untuk menumbuhkan berbagai jenis kehidupan.

 

b. Peranan dan tugas Wanita   .

  • Menciptakan keindahan dan keharmonisan

Dengan sosok tubuh yang indah dan halus, jiwa yang teduh dan damai, kehadiran seorang wanita harus dapat memberikan sentuhan rasa indah, harmonis, tenang, dan damai. Kehalusan sosok tubuh, kelembutan prilaku dan kemanisan tutur kata seorang wanita/isteri/ibu menjadikan sebuah rumah tangga terasa damai dan tenteram. Seorang wanita/isteri/ibu menciptakan sebuah bangunan rumah menjadi “home”, “Home sweet home”, yang membuat kita rindu pulang ke rumah dan betah tinggal di rumah, bukan karena rumahnya bagus, tetapi karena rasa damai dan tenteram tinggal di rumah.

  • Menerima, mengandung, melahirkan dan memelihara

Seluruh bagian tubuh dan struktur organ kelamin seorang wanita diciptakan untuk menerima, mengandung, melahirkan, dan memelihara. Ia menerima benih yang diberikan oleh pria, ia mengandung, menyuburkan dan melahirkan manusia baru. Ia memeliharanya dengan tekun, teliti, sabar, dan penuh rasa bangga. Seorang anak sungguh “buah” kandungannya.

  • Mengasihi tanpa pamrih

Cinta seorang pria sering ada pamrih, tetapi cinta seorang wanita/isteri/ibu sering tanpa pamrih. Seorang wanita/isteri/ibu adalah tokoh kasih. Sebagai seorang wanita/isteri/ibu ia menghembuskan udara kasih dalam keluarga. Dan seluruh dirinya, terpancarlah kasih.. Sang isteri/ibu sungguh nafas kasih yang dapat mengubah sebuah rumah sederhana menjadi surga.

 

c. Peranan/Tugas Pria dan Wanita sebagai Pasangan

            Peranan/tugas pria dan  wanita yang dijalankan secara       bersama-sama sebagai

pasangan adalah sebagai berikut:

  • Pria dan wanita (suami dan isteri) bertugas untuk beranak cucu.

Dari kodratnya, pria dan wanita saling tertarik, jatuh cinta. Jika kemudian mereka menikah, maka akan menurunkan anak cucu. Mereka menjadi rekan sekerja Tuhan untuk menciptakan manusia baru Di taman Eden, Tuhan telah berkata: “Beranak cuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). Selain menurunkan manusia baru, mereka juga diberi tugas untuk membesarkan dan mendidik anak cucu mereka.

  • Menguasai, menata dan melestarikan alam ciptaan Tuhan

Manusia adalah mahkluk Tuhan yang berakal budi. Maka Tuhan mempercayakan alam ciptaan ini kepada manusia untuk dikuasai, ditata,dan dilestarikan demi kelangsungan keturunannya dan kemuliaan Tuhan. Tuhan telah berkata: “..berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dansegala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makanannya” Kej.1:28-29.  Tuhan telah mempercayakan alam ciptaan ini untuk dikuasai oleh manusia.

  • Cinta pria (suami) dan wanita (isteri) harus menjadi  tanda cinta Allah kepada umat-Nya dan cinta   Kristus kepada Gereja-Nya.

Dalam Perjanjian Lama, cinta antara suamiisteri    sering menjadi lambing cinta Allah kepada bangsa Israel (Hos 1:29). Dalam Perjanjian Baru, cinta suami isteri melambangkan cinta Kristus kepada Gereja-Nya (Ef 5:22-33)

Cinta suami isteri menjadi symbol dan tanda (Sakramen) dari cinta Allah kepada manusia dan cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Dengan menjadi tanda cinta Allah dan cinta Kristus, pasangan suami isteri Kristiani dapat mewartakan kasih Tuhan dan cinta Kristus kepada dunia. Kesaksian mereka tentang cinta Tuhan dan kasih Kristus dapat menjadi terang bagi masyarakat lingkungannya untuk lebih mengenal cinta Tuhan dan cinta Kristus. Dengan demikian, masyarakat dapat mengalami dan menyebarluaskan cinta Tuhan.

 

  1. Pesan Kej 2:7. 18 – 25 dalam kaitannya peran dan tugas laki – laki dan perempuan

ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA Kej 2:7,18-25

2:7ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup

2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

 

ü  Isi Pesan Kitab Kejadian 2:7,18-22

  • Tuhan menciptakan manusia pria dan wanita
  • Baik pria maupun wanita memiliki sifat-sifat biologis dan psikologis yang khas
  • Perbedaan pria dan wanita merupakan keindahan ciptaan, yang kedua-duanya saling membutuhkan untuk mewujudkan karya keselamatan Allah, misalnya dalam karya penciptaan
  • Wanita memiliki kelebihan tersendiri, yakni kelembutan, kehalusan, ketelitian, dan kesabaran. Kelebihan dari wanita ini semua dibutuhkan oleh pria dalam mengemban tugasnya sebagai pria.
  • Pria juga memiliki kelebihan tersendiri, yakni kekuatan, keperkasaan,keberanian, dan ketegasan, yang semuanya dibutuhkan oleh wanita di dalam mengemban tugasnya sebagai wanita.
  • Tuhan menghendaki manusia, baik wanita maupun pria, untuk bersatu, saling menghargai, saling membantu, dan saling melengkapi karena pria danwanita diciptakan sederajat.

 

D. SAJIAN CONTOH

Bacalah kisah yang berjudul : ‘Mengabdi Suami’ Berikut ini:

MENGABDI SUAMI

            Ada seorang Anthropolog wanita dari Inggris mengadakan penelitian mengenai peranan dan tugas wanita di suatu masyarakat tradisional di pedalaman Afrika. Di Dalam masyarakat tersebut, wanita dianggap milik bapaknya dan kalau sudah menikah menjadi milik suaminya. Isteri sebagai milik suami dapat dilihat hampir dalam segala segi perilaku hidup. Misalnya, jika sedang berjalan atau bepergian, suami selalu berjalan di depan dan isterinya mengikuti dari belakang. Suami isteri tidak pernah berjalan beriringan atau si isteri berjalan di depan suaminya.

Ketika ang Anthropolog itu sibuk melakukan penelitian, perang dunia II meletus dan wanita anthropolog itu terpaksa meninggalkan daerah penelitiannya dan kembali ke Inggris. Sesudah perang dunia selesai, Sang Anthopolog kembali lagi ke daerah itu untuk melanjutkan penelitiannya. Pada saat itu ia melihat suatu pemandangan yang sungguh mengherankan, yaitu ketika dahulu pria selalu berjalan di depan dan isterinya mengikuti dari belakang, tetapi sekarang terjadi sebaliknya. Wanitalah yang berjalan di depan dan yang pria  berjalan menyusul dari belakang.

Apakah perang telah menguabah pandangan dan adat istiadat masyarakat itu untuk member  peranan yang lebih penting kepada kaum perempuan? Sungguh sangat menggembirakan. Namun, kegembiraan lenyap ketika sang Antropolog itu mendengar bahwa alasan wanita/isteri berjalan di depan dan pria di belakang adalah karena sesudah perang didaerah itu terdapat banyak ranjau darat! Dari kenyataan ini sang Anthropolog melihat bahwa peranan dan tugas wanita di daerah itu tetap tak berubah. Mereka harus tetap  mengabdi suaminya, kalau perlu denganmengorbankan nyawanya.

 

Pertanyaan pendalaman:

  1. Bagaimana perasaan dan pikiran anda sesudah membaca cerita tersebut diatas? (Jawaban yang diharapkan : kaum wanita kurang mendapatkan penghormatan dianggap konco wingking)
  2.  Bagaimana peranan dan tugas kaum perempuan di daerah anda?

(Jawaban : peranan dan tugas wanita sama, misalnya dalam mencari nafkah)

 

  1. SOAL LATIHAN

 

  1. Jelaskan peranan dan tugas laki – laki dan perempuan secara kodrati.
  2. Jelaskan pandangan masyarakat tentang peran dan tugas laki – laki dan perempuan baik secara pribadi maupun secara pasangan.
  3. Rumuskan pesan Kej 2:7. 18 – 25 dalam kaitannya peran dan tugas laki – laki dan perempuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII

HATI NURANI

 

  1. KOMPETENSI

 

  1. STANDAR KOMPETENSI

Memahami nilai – nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan mengembangkan diri sebagai perempuan atau  laki – laki yang memiliki rupa – rupa kemampuan dan keterbatasan sehingga dapat berelasi dengan sesame

 

  1. KOMPETENSI DASAR

Mengenal suara hati, sehingga dapat bertindak secara benar dan tepat

 

  1. INDIKATOR
    1. Menjelaskan pengertian hati nurani dilihat dari segi waktu, kebenaran dan kepastiannya.
    2.  Menjelaskan cara kerja dan fungsi hati nurani.
    3.  Menjelaskan makna hati nurani dalam kaitan dengan upaya mencari dan memperjuangkan kebenaran sejati

 

  1. URAIAN TUJUAN

Melalui pembelajaran ini diharapkan siswa dapat mengenal suara hati, sehingga dapat bertindak secara benar dan tepat.

 

  1. RINGKASAN MATERI
    1. Arti dan makna hati nurani
    2. Segi-segi hati nurani
    3. Pedoman yang dapat dipegang
    4. Cara kerja hati nurani
    5. Fungsi hati nurani dan sikap kita terhadanya
    6. Pembinaan hati nurani dalam terang Kitab Suci dan Dokumen Gereja.

 

  1. C.    PENJELASAN MATERI
    1. 1.      Arti dan Makna Hati Nurani

Masa remaja adalah masa yang penuh aktivitas. Dalam beraktivitas itu, para remaja perlu dibimbing agar tidak menyimpang atau menyeleweng dari hati nuraninya. Apa itu Hati Nuarnia?

  1. a.   Hati Nurani atau Suara Hati dapat diartikan secara luas dan secara sempit.

1)      Hati Nurani secara luas dapat diartikan sebagai keinsafan akan adanya kewajiban. Hati nurani merupakan kesadaran moral yang timbul dan tumbuh dalam hati manusia.

2)      Hati Nurani secara sempit dapat diartikan sebagai penerapan kesadaran dalam situasi konkret, yang menilai suatu tindakan manusia atas buruk baiknya. Hati Nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru.

 

  1. 2.      Segi-segi Hati Nurani
    1. Segi waktu

1)      Hati Nurani dapat berperanan sebelum suatu tindakan      dibuat. Biasanya, Hati Nurani akan menyuruh kalau perbuatan itu baik dan melarang kalau perbuatan itu buruk.

2)      Hati Nurani dapat berperan pada saat suatu tindakan dilakukan. Ia akan terus menyuruh jika perbuatan itu baik dan melarang jika perbuatan itu buruk atau jahat.

3)      Hati Nurani dapat berperan sesudah suatu tindakan dibuat. Hati Nurani akan “memuji” jika perbuatan itu baik dan Hati Nurani akan membuat kita gelisah atau menyesal jika perbuatan itu buruk atau jahat.

  1. Segi benar tidaknya

1)      Hati Nurani benar, jika kata hati kita cocok dengan norma obyektif.

2)      Hati Nurani keliru, jika kata hati kita tidak cocok dengan norma obyektif

  1. Segi pasti tidaknya

1)      Hati Nurani yang pasti. Artinya, secara moral dapat  dipastikan bahwa Hati Nurani tidak keliru

2)      Hati Nurani yang bimbang. Artinya, masih ada keraguan

 

  1. 3.      Pedoman yang dapat dipegang

Dari penjelasan-penjelasan di atas, maka aka nada beberapa  hal yang dapat dijadikan pedoman, yakni sebagai berikut:

  1. a.      Kata hati (Hati Nurani) yang benar dan pasti, maka:

1)      Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan

2)      Perbuatan yang buruk harus dielakkan

  1. b.      Kata hati yang pasti, tetapi keliru, maka:

1)      Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan

2)      Perbuatan yang buruk harus dielakkan

  1. c.       Kata Hati yang tidak pasti

1)      Seseorang dapat memilih yang paling menguntungkan

2)      Jika menyangkut nyawa manusia, maka keselamatan     nyawa itu harus didahulukan.

 

  1. 4.      Cara Kerja Hati Nurani

Dalam hati manusia, sebelum ia bertindak atau berbuat sesuatu, ia sudah mempunyai suatu kesadaran atau pengetahuan umum bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap orang mempunyai kesadaran moral tersebut, walaupun kadar kesadarannya berbeda-beda.

  1. a.      Pada saat-saat menjelang suatu tindakan etis, pada saat itu kata hati akan mengatakan perbuatan itu baik atau buruk. Jika perbuatan itu baik, kata hati hati muncul sebagai suara yang menyuruh. Namun, jika perbuatan itu buruk, kata hati akan muncul sebagai suara yang melarang. Kata hati yang muncul pada saat itu disebut prakata hati.
  2. b.       Pada saat suatu tindakan dijalankan, kata hati masih tetap bekerja, yakni melarang atau menyuruh.
  3. c.       Sesudah suatu tindakan atau perbuatan, maka kata hati muncul sebagai “Hakim” yang memberi vonis. Untuk perbuatan yang baik, kata hati akan memuji, sehingga membuat orang akan merasa bangga dan bahagia. Namun, jika perbuatan itu buruk atau jahat, maka kata hati akan mencela/menyalahkan, sehingga orang merasa gelisah, malu, menyesal, putus asa dsb.Demikianlah, kata hati muncul sebagai indeks (petunjuk), kemudian sebagai iudex (hakim) dan sekaligus vindex (penghukum).

 

  1. 5.      Fungsi Hati Nurani dan Sikap kita terhadapnya.
    1. a.      Fungsi Hati Nurani

1)       Hati Nurani berfungsi sebagai pegangan, pedoman, atau norma untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk.

2)      Hati Nurani berfungsi sebagai pegangan atau peraturan-peraturan konkret di dalam kehidupan sehari-hari.

3)      Hati Nurani berfungsi menyadarkan manusia akan nilai dan harga dirinya.

  1. b.      Sikap kita terhadap Hati Nurani.

1)      Menghormati setiap suara hati yang keluar dari hati nurani kita.

2)      Mendengarkan dengan cermat dan teliti setiap bisikan hati nurani.

3)       Mempertimbangkan secara masak dan dengan pikiran sehat apa yang dikatakan oleh hati nurani.

4)       Melaksanakan apa yang disuruh oleh hati nurani.

 

C. Sajian Contoh

Buatlah kumpulan gambar dari media massa  yang menunjukkan tumpulnya hati nurani.Berilah tanggapan/refleksi anda dari gambar tersebut. Bagaiman Ajaran Gereja dan Kitab Suci mengenai hati nurani ?

 

 

 

D. Soal Latihan

Bentuk test tertulis

  1. Jelaskan pengertian hati nurani dilihat dari segi waktu, kebenaran dan kepastiannya.
  2.  Jelaskan cara kerja dan fungsi hati nurani.
  3. Jelaskan makna hati nurani dalam kaitan dengan upaya mencari dan memperjuangkan kebenaran sejati
  4. Rumuskan cara – cara untuk membina hati nurani.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII

PEMBINAAN SUARA HATI

 

  1. KOMPETENSI

 

  1. STANDAR KOMPETENSI

Memahami nilai – nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan mengembangkan diri sebagai perempuan atau  laki – laki yang memiliki rupa – rupa kemampuan dan keterbatasan sehingga dapat berelasi dengan sesama

  1. KOMPETENSI DASAR

Mengenal suara hati, sehingga dapat bertindak secara benar dan tepat

  1. INDIKATOR
  2. Merumuskan cara – cara untuk membina hati nurani.
  3. Merumuskan pesan Kitab suci (Gal 5:16-25) yang berhubungan dengan hati nurani
  4. URAIAN TUJUAN

Melalui pembelajaran ini diharapkan siswa dapat mengenal suara hati, sehingga dapat bertindak secara benar dan tepat.

 

  1. RINGKASAN MATERI
    1. 1.      Pembinaan  Hati Nurani dalam Kitab Suci dan Dokumen Gereja.
    2. 2.      Kemerosotan peranan hati nurani dalam masyarakat

 

  1. PENJELASAN MATERI
  2. 1.      Pembinaan  Hati Nurani dalam Kitab Suci dan Dokumen Gereja.

(Silahkan baca Roma 7:14-26)

 

  1. Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita ada dua hukum, yaitu hokum Allah dan hukum dosa. Kedua hukum itu saling bertentangan. Hukum Allah menuju kepada kebaikan, sedangkan hukum dosa menuju kepada kejahatan. Santo Paulus menyadari bahwa selalu ada pergulatan antara yang baik dan yang jahat dalam hati manusia.

 

  1. Dalam mengambil keputusan, kita mempunyai pedoman bukan berasal dari luar diri kita, tetapi berasal atau keluar dari diri kita sendiri. Setiap orang mempunyai daya khusus, untuk mengenal yang baik dan yang buruk. Dalam menghadapi situasi konkret, kita selalu disadarkan dari dalam. Dari dalam hati kita, kita mengambil keputusan tentang baik dan buruknya suatu perbuatan. Jika suara hati kita mengatakan, “dengarkan dan laksanakan”, maka jika kita melaksanakannya kita akan bahagia, dan jika tidak kita laksanakan, maka kita akan kecewa dan menyesal.

 

  1. Konsili Vatikan II dengan sangat indah mengungkapkannya dalam Dokumen Gereja Gaudium et Spes, Artikel 16, demikian:

“ Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaati. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara hati itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jalankan itu, elakkan itu. Sebab dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu, dan menurut hukum itu pula ia akan diadili.

Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar suci; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang pesan-Nya menggema dalam hatinya. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama. Atas kesetiaan terhadap hati nurani, umat Kristiani bergabung dengan sesama lainnya untuk mencari kebenaran, dan untuk dalam kebenaran itu memecahkan sekian banyak persoalan moral, yang timbul baik dalam hidup perorangan maupun dalam kehidupan kemasyarakatan”

 

  1. 2.      Kemerosotan Peranan Hati Nurani dalam Masyarakat.
    1. a.      Fakta matinya hati nurani dalam masyarakat

Dewasa ini perkembangan dunia semakin pesat, sekaligus persoalan-persoalan yang ditimbulkannya semakin komplek. Tidak mengherankan jika kita, terlebih kaum remaja, semakin bingung menghadapi masalah-masalah moral yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan. Tata kehidupan seperti: ketaatan, sopan santun, kejujuran, keadilan, tanggungjawab, dsb, sering menjadi kabur. Sementara itu, tmbul soal-soal baru, seperti masalah bayi tabung, alat-alat kontrassepsi, transplantasi jantung dsb. Masih banyak contoh lain yang menggambarkan keadaan dunia yang semakin komplek. Terhadap masalah-masalah semacam itu, hati nurani kita semakin menjadi ragu-ragu dan bimbang. Sementara itu, pengaruh lingkungan, pandangan masyarakat, pendidikan yang salah dalam keluarga, pengaruh emosi (seperti rasa takut, malu atau marah) dapat membuat atau menyebabkan hati nurani kita menjadi tumpul, bahkan buta.

Kita dapat menyebut fenomena di atas, antara lain:

Dalam kalangan remaja

■  Kebiasaan menyontek

■  Pergaulan bebas sampai free sex

■  Mencintai kebudayaan asli dianggap kolot

■  Menganggap hina pekerjaan tangan

Dalam kalangan  masyarakat luas

■  Korupsi

■  Kebiasaan menyogok, supaya urusan lekas selesai

■  Kebiasaan bersikap ABS (Asal Bapa Senang) dan menjilat

■  Praktik riba dan rente

■  Praktek kebencian antar suku, dsbnya.

  1. b.      Sebab-sebab hati nurani kita dapat buta, mati atau tumpul

■ Orang yang bersangkutan tidak biasa menghiraukan hati nuraninya

■   Orang yang selalu bersifat ragu-ragu atau bingung

■   Pandangan masyarakat yang keliru, misalnya riba dianggap biasa

■  Pengaruh pendidikan dalam lingkungan keluarga atau lingkungan lain

■   Pengaruh propaganda, mass media dan arus massa

■   Mengapa Hati Nurani dapat keliru?

*  Pengaruh moderenisasi atau globalisasi yang membawa   perubahan  nilai-nilai

*     Berbagai pendapat atau pandangan yang kurang dikuasai.

  1. c.       Pembinaan Hati Nurani

Bagaimana Hati Nurani dapat dibina?

1)   Mengikuti suara hati dalam segala hal

■ Seseorang yang selalu berbuat sesuai dengan hati  nuraninya, hati nurani akan semakin terang dan berwibawa

■ Seseorang yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinannya akan menjadi sehat dan kuat. Dipercaya orang lain, karena memiliki hati yang murni dan mesra dengan Allah “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah” (Mt 5:8)

 

2)   Mencari keterangan pada sumber yang baik

■  Dengan membaca : Kitab Suci, Dokumen-dokumen Gereja, dan buku-buku lain yang bermutu

■   Dengan bertanya pada orang yang pengetahuan/pengalaman dapat  dipercaya

■    Ikut dalam kegiatan rohani, misalnya rekoleksi, retret dsb

 

3)     Koreksi diri atau introspeksi

Koreksi atas diri sangat penting untuk dapat selalu  mengarahkan hidup kita.

 

  1. d.  Pembinaan Hati Nurani dalam Terang Kitab Suci dan  Ajaran Gereja

(Baca Galatia 5:16-25)

Sebagai orang Kristen kita dituntut untuk hidup dibimbing oleh Roh. Santo Paulus menasehati kita supaya memberikan diri dipimpin atau dibawa pimpinan Roh (Gal 5:17). Siapa telah menjadi milik Kristus, telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Tegasnya, kita harus selalu berusaha untuk memenangkan hati nurani kita dan mengalahkan kecenderungan kita yang menyesatkan. Suara hati harus dimenangkan dan dikokohkan dengan berbagai usaha: kenyataan hidup sehari-hari menjadi medan kita untuk senantiasa membangun suara hati. Kita harus peka terhadap sapaan dan rahmat Allah. Apa yang diungkapkan oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia tadi merupakan sapaan Allah yang menuntun kita untuk hidup baik. Dalam hidup yang baik, setiap saat kita mengungkapkan dan mewujudkan iman kita.

Konsili Vatikan II, khususnya dalam Gaudium et Spes Art. 16, antara lain mengatakan, “Tidak jarang terjadi, bahwa hati nurani keliru karena ketidaktahuan yang tak teratasi. Karena hal itu, ia tidak kehilangan martabatnya. Hal itu sebenarnya tak perlu terjadi kalau manusia berikhtiar untuk mencari yang benar dan baik…”  Itu artinya manusia tidak boleh tunduk dan mengalah pada situasi yang membelenggu suara hati. Dengan bantuan Roh Allah kita dimampukan untuk mengalahkan kekuatan dahsyat yang menguasai suara hati kita, yang oleh Santo Paulus dinamai kuasa / keinginan daging

 

  1. Sajian Contoh

Seandainya anda menemukan amplop berisi uang dalam jumlah cukup banyak dan amplop tersebut tanpa identitas sedikitpun.Apa yang akan anda lakukan.

Jawaban: Semaksimal mungkin dikembalikan pada yang punya.Jika tidak ditemukan pemiliknya, bisa diumumkan lewat media.dengan jangka waktu satu Minggu, apa bila dalam jangka waktu yang ditentukan tidak diambil,akan dititipkan pada lembaga sosial.

 

  1. Soal Latihan
    1. Rumuskan pesan Kitab suci (Gal 5:16-25) yang berhubungan dengan hati nurani!
    2. Manakah perbuatan-perbuatan daging menurut Galatia 5:16-25?
    3. Manakah buah-buah Roh menurut Galatia 5:16-25?
    4. Sebut dan jelaskan kegiatan-kegiatan dalam rangka membina hati nurani!
    5. Bagaimana hati nurani kita dapat dibina?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IX

BERSIKAP KRITIS TERHADAP MEDIA MASSA

  1.  KOMPETENSI

 

  1. 1.        Standar Kompetensi

Memahami nilai-nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan  mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki yang memiliki rupa-rupa kemampuan dan keterbatasan, sehingga dapat berelasi dengan sesama secara lebih baik.

 

  1. 2.        Kompetensi Dasar

Bersikap Kritis terhadap media massa sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

  1. 3.        Indikator.
    1.   Menjelaskan dan mengungkapkan pengaruh Media Massa
    2. Menjelaskan sikap Yesus yang kritis
      1.  Membangun sikap kritis

 

  1. 4.      Setelah siswa mempelajari diktat ini siswa dapat bersikap Kritis terhadap media massa mengambil keputusan yang tepat dan benar yang dapat dipertanggungjawabkan

 

  1.  ISI MATERI (RINGKASAN MATERI)
    1. MEDIA  MASSA DAN PENGARUHNYA
      1.  Pengaruh positif dari media
  • Pengaruh dari teknologi media
  • Pengaruh dari pemilik atau sponsor media
  • Pengaruh yang tidak disadari/dimaksudkan

 

  1.  Pengaruh negatif  dari teknologi media
  • Pengaruh negatif yang disebabkan dari teknologi media sendiri
  • Pengaruh negatif yang disebabkan oleh pemilik dan sponsor media
  • Pengaruh negatif yang tidak disengaja

 

  1. Belajar dari Sikap Yesus yang kritis dari Mrk. 2:23-28

 

 

 

 

  1.  PENJELASAN MATERI

 

  1. Media Massa dan Pengaruhnya

Ada tiga revolusi besar yang pernah terjadi di jagad raya ini, yakni revolusi agraris, revolusi industri dan revolusi informasi. Kita sekarang sedang mengalami revolusi informasi. Karena berbagai kemajuan teknologi media, kita dibanjiri oleh arus informasi yang melimpah ruah dan tidak henti, hamper tanpa saringan. Informasi-informasi ini dapat berupa informasi yang baik dan membangun, tetapi juga dapat berupa informasi yang buruk dan merusak. Oleh karena itu, kita, khususnya para remaja, harus memiliki sikap kritis terhadap semua informasi yang kita terima.

Sikap kritis berarti dapat memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang posotif dan mana yang negatif. Jadi, kita harus bersikap kritis terhadap pengaruh-pengaruh positif dan negative dari media yang menyuguhkan berbagai informasi.

 

  1. Pengaruh Positif dari Media

Pengaruh positif dari media dapat terjadi oleh:

  1. Teknologi media itu sendiri
  2. Pemilik atau sponsor dari media
  3. Pengaruh tak langsung oleh teknologi dan sponsor media.

 

  1. Pengaruh dari teknologi media

Teknologi media membawa pengaruh tersendiri, walaupun mungkin tidak dimaksudkan oleh pemilik atau sponsor media itu. Pengaruh teknologi media dapat disebut anatara lain:

■.Teknologi media mendekatkan manusia satu sama lain. Ia dapat mendekatkan pikiran dari relasi kita. Pikiran dan relasi kita menjadi lebih terbuka kepada orang lain,bangsa lain,budaya lain,dsb.

■.Teknologi media dapat membuat kita terlibat pada peristiwa di belahan bumi yang lain. Kita terlibat pada gempa bumi di Aljazair,pada SARS di Cina, pada Piala Dunia,dsb.

■.Teknologi media di Cina menyajikan mutu da pola pemberitaan yang semakin menarik. Pemberitaan lewat satelit dan jaringan internet yang makin semarak.

■.Teknologi media dapat menyajikan gambar dan suara yang lebih cangih, seperti music stereo,gambar tiga dimensi, dsb.

 

  1. Pengaruh dari pemilik atau sponsor media

■ Manusia, entah pemilik media,entah pemilik sponsor,entah lembaga Negara,entah masyarakat dan Gereja,dapat menggunakan media untuk menciptakan perhatian dan keprihatinan umum tentang suatu masalah di belahan bumi ini,seperti AIDS,narkotika,pembunahan masal oleh suatu pemerintahan totaliter,dsb. Ia membantu menciptakan keprihatinan.

■   Media dapat digunakan untuk member informasi dan membentuk opini umum yang baik dan juga untuk mendidik. Media dapat digunakan untuk membela keadilan dan kebenaran, dsb.

■ Media dapat digunakan untuk hiburan. Misalnya, hiburan music,tari sinetron,dsb.

 

  1. Pengaruh yang tidak dasadari/dimaksudkan

■ Sadar atau tidak sadar,media sudah membentuk budaya baru. Kaum muda adalah massa yang terlibat penuh dalam budaya baru ini.

■ Sadar atau tidak sadar, media telah mengubah cara piker kita tentang hidup, tentang kebudayaan, dsb. Jendela dunia terbuka lebar bagi kita.

 

  1. Pengaruh Negatif dari Media

Kita dituntut untuk bersikap kritis terhadap pengaruh negative dari media. Pengaruh-pengaruh negatif dari media anatara lain sebagai berikut:

a.  Pengaruh negatif yang disebabkan dari teknologi media sendiri

■. Media telah membangun kerajaan dan kekuasaan yang sangat kuat. Siapa yang memilikimedia dialah yang kuat dan berkuasa. Dengan media dunia utara menguasai dunia selatan.  Kota menguasai desa. Yang kuat dan kaya menguasai yang lemah dan miskin.

■ Media menciptakan budaya baru yang gemerlap, budaya asli dan local perlahan-lahan tersingkir.

b. Pengarauh negatif yang disebabkan oleh pemilik dan  sponsor media.

■ Media adalah bisnis. Supaya bisnis dapat laku, maka digalakan semangat materialism, konsumerisme, dan hedonisme

■ Lewat media dapat dibangun persepsi yang salah tentang kesejahteraan Kesejahteraan berarti memiliki materi sebanyak-banyaknya. Manusia tidak lagi dinilai dari karakter dan dedikasi, tetapi dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, uang dsb) seperti yang dipromosikan pada iklan-iklan di media.

■. Lewat media dapat diciptakan stereotip tentang tokoh kecantikan, mode, dsb, yang akan ditiru oleh khalayak ramai, misalnya mode rambut, mode pakaian, yang begitu cepat ditiru.

■  Lewat media dapat diciptakan sensasi tantangan seks, kekerasan, dan horror yang mungkin sangat disenangi oleh penonton.

■  Pemilik, penguasa, dan sponsor media dapat melakukan berbagai rekayasa dan trik demi kepentingan bisnis dan politiknya.

 

c.  Pengaruh negatif yang tidak disengaja.

Media juga dapat membawa efek samping yang merugikan, misalnya:

■  Jadwal hidup dan kerja kita tidak teratur. Banyak waktu tersedot untuk menonton atau mendengar siaran media. Komunikasi antar pribadi dalam keluarga berkurang.

■ Kecanduan dan keterlibatan pada kekerasan dan seks bebas sering ada hubungannya dengan siaran TV atau chatting di internet atau HP (SMS)

■  Arus urbanisasi sering disebabkan oleh tayangan yang glamour tentang kehidupan kota.

 

Itulah beberapa aspek yang menyangkut pengaruh positif dan negatif dari media. Oleh karena itu, kita harus tetap kritis terhadap media dan pandai-pandai menggunakan media untuk kepentingan kita dan masyarakat/umat.

 

  1. Sikap Kritis Yesus

 

(Baca Mrk 2:23-28: Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat)

 

Pada zaman Yesus belum banyak jenis media. Jenis media yang ada mungkin hanya buku atau kitab. Salah satu kitab yang sangat penting dalam masyarakat Yahudi waktu itu adalah Kitab Taurat. Kitab Taurat adalah Kitab yang mengatur peri hidup beragama bagi orang-orang Yahudi. Kitab itu sangat dihormati dan ditaati oleh masyarakat Yahudi. Kitab Taurat yang antara lain mengatur tentang kewajiban-kewajiban dan peraturan menyangkut hari Sabat, rupanya sudah banyak yang ditambah-tambah dan dimanipulasi oleh para agamawan pada waktu itu. Pada awalnya, hukum Taurat, khususnya tentang hari Sabat, dibuat demi keselamatan umat, tetapi kemudian ditambah-tambah dan dimanipulasi oleh para agamawan sehingga menjadi beban bagi umat. Banyak aturan yang dibuat-buat, misalnya kancing jubah yang terlepas pada hari Sabat, tidak boleh dikancing kembali selama hari Sabat belum berlalu, dsb.

Yesus menyikapi Hukum Taurat mengenai hari Sabat  yang rupanya sudah dimanipulasi itu dengan kritis. Peraturan seperti itulah yang ditolak oleh Yesus. Hari Sabat adalah demi keselamatan umat, bukan sebaliknya, umat untuk hari Sabat.

Apa artinya sikap kritis Yesus itu bagi kita sekarang?

Yesus mengajak kita untuk bersikap kritis. Kita harus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang jahat; mana yang berguna bagi keselamatan manusia dan mana yang tidak berguna. Keselamatan manusia adalah yang menjadi pilihan (opsi) Yesus dalam hidup dan karya-Nya.

 

  1. Membangun sikap kritis.

Bagaimana kita dapat membangun sikap kritis?

  1. Banyak membaca buku tentang media
  2. Mengikuti pelatihan dan pendidikan media, jika ada (memungkinkan)
  3. Melatih diri untuk melihat dan mendengar tayangan berbagai media dengan sikap kritis
  4. Bertanya dan belajar banyak dari orang-orang yang tahu dan berpengalaman tentang media.

 

  1. SAJIAN CONTOH

 

Bacalah artikel di bawah ini!

 

Nonton Video Mesum bisa mengakibatkan penyimpangan seks?

Tempo, Jumat 11 juni 2010

 

Beredarnya video mesum yang diduga dilakukan artis mirip Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari menimbulkan keprihatinan banyak kalangan. Sejumlah pemerintah daerah menghimbau agar dilakukan blokade terhadap peredaran video mesum tersebut. Bahkan beberapa sekolah merasia telpon seluler siswanya. Para orang tua pun tak kalah cemas.

Kecemasan itu terkait dengan dampak negatif video porno (bahan pornografi lain), yang diperkirakan bisa mengakibatkan perilaku seksual menyimpang atau kekerasan seksual. Topik efek negatif bahan-bahan pornografi (termasuk di film, buku, video, internet) telah menjadi bahan kajian pada sejumlah studi. Berikut beberapa contoh:

Sebuah studi di pada 1987 menemukan bahwa wanita yang teraniaya, atau menjadi subyek pelecehan seksual, memiliki pasangan yang kerap melihat pornografi.

Penelitian dengan metode meta-analisis pada tahun 1995 menemukan bahwa pornografi diperkirakan memperkuat perilaku agresif dan sikap negatif terhadap perempuan.

Sebuah studi Amerika Serikat, menyebutkan bahwa remaja yang mengkonsumsi pornografi dua pertiga dari laki-laki dan 40% perempuan ingin mencoba beberapa perilaku yang mereka saksikan.  Dan 31 % dari laki-laki dan 18 % dari perempuan mengaku melakukan beberapa adegan seksual yang mereka lihat di bahan-bahan pornografi dalam beberapa hari setelah melihat.

Sebuah studi 1993, menemukan: eksposur terhadap bahan seksual yang merangsangdapat menyebabkan perilaku agresif pada remaja. Bahan-bahan yang berisi kekerasan seksual menyebabkan perilaku agresif yang lebih besar dan berdampak negatif pada sikap pria terhadap perempuan.

Evaluasi pada tahun 1984 menyebutkan meningkatnya jumlah kasus pemerkosaan di berbagai negara sangat berkolerasi dengan liberalisasi pembatasan pornografi.

 

Canadian Institute for Education on the family, pada tahun 2004, melakukan penelitian mengenai hal ini. Dalam ringkasan penelitian, Peter Stock, penulis studi ini mengatakan bahwa masyarakat Canada telah  menjadi masyarakat yang semakin pornografi dalam beberapa dekade terakhir yang berimplikasi mengganggu anak-anak yang  dibesarkan di dalamnya. Sejumlah studi ilmiah telah menunjukkan korelasi kuat antara paparan pornografi dan perilaku seksual yang menyimpang oleh anak-anak.

Ada pula penelitian yang menyatakan bahwa pornografi merugikan anak-anak. Alasannya perkembangan seksual seorang anak terjadi secara bertahap dari masa kanak-kanak. Paparan terhadap pornografi membentuk perspektif seksual anak dengan menyediakan informasi mengenai aktifitas sosial. Namun jenis informasi yang diberikan oleh pornografi tidak dengan perspektif seksual yang normal.

Mengutif studi pada tahun 2004 yang dilakukan institut kesehatan anak nasional Amerika Serikat, menyatakan bahwa menonton seks di TV diperkirakan bisa mempercepat inisiasi seksual remaja. Kaitanya dengan ledakan pertumbuhan internet peneliti mengatakan pornografi bebas yang tersedia di internet merupakan ancaman bagi keselamatan anak-anak. Mengutip sebuah penelitian lain Peter Stock mengatakan bahwa: satu dari lima berusia antara 10 dan 17 menerima ajakan seksual melalui internet pada tahun 1999. Beberapa penelitian telah menyeimpulkan bahwa banyak industri pornografi, dengan miliaran dollar, memfokuskan sasaran anak-anak usia 12-17 tahun, dengan tujuan menciptakan kecanduan seperti halnya strategi pemasaran yang diduga biasa dilakukan industri rokok.

 

Pertanyaan pendalaman:

  1. Bagaimanan pendapat anda terhadap tayangan video porno yang mudah kita temukan di internet, buku-buku maupun film-film!
  2. Bagaimana pendapat anda terhadap hasil-hasil penelitian dalam artikel diatas?

 

  1. SOAL/LATIHAN

Test Tertulis

  1. Sebutkan pengaruh positif dan negatif dari media!
  2. Bagaimana membangun sikap kritis terhadap media?|
  3. Godaan mana yang paling besar pada saat ini bagi kaum muda?
  4. Bagaimana sikap Yesus terhadap Hukum Taurat (media jaman-Nya) ?
  5. Bagaimana sikap Yesus terhadap aliran/paham dan trend-trend yang berkembang pada zaman-Nya?

 

 

 

 

 

BAB X

BERSIKAP KRITIS TERHADAP IDEOLOGI, ALIRAN/PAHAM

 DAN TREND-TREND YANG BERKEMBANG

  1. KOMPETENSI DAN TUJUAN

 

  1. Standar Kompetensi

Memahami nilai-nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan  mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki yang memiliki rupa-rupa kemampuan dan keterbatasan, sehingga dapat berelasi dengan sesama secara lebih baik.

 

  1. Kompetensi Dasar

Bersikap Kritis terhadap media massa dan aliran/trend yang berkembang, sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

  1. Indikator.
    1. Mengungkapkan tentang Idiologi, paham ,aliran dan trend yang berkembang
    2. Menjelaskan sikap Yesus yang kritis terhadap idiologi,aliran dan trend yang berkembang pada jamannya.

 

  1. Pada akhir pelajaran ini siswa mampu  bersikap Kritis terhadap media massa dan aliran/trend yang berkembang, sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar yang dapat dipertanggungjawabkan

 

  1. ISI MATERI
    1. Ideologi, Aliran dan Sekte Agama
      1. Pengertian ideologi
      2. Macam-macam Ideologi
      3. Macam-macam aliran dan sekte
      4. Trend dan Isu yang muncul pada zaman Globalisasi

 

  1. Sikap Yesus yang kritis terhadap Aliran dan berbagai tawaran Zaman.
    1. Terhadap kelompok Farisi dan Saduki
    2. Terhadap Eseni dan Zelot

 

  1. RINGKASAN MATERI
    1. Ideologi, Aliran dan Sekte Agama

a. Pengertian Ideologi

  •  Secara sederhana Ideologi berarti keseluruhan pemikiran,  cita rasa, dan segala upaya, terutama di bidang politik dan ekonomi. Oleh sebab itu Idiologi sering berkaitan dengan politik dan partai politik.
  • Ideologi dapat berarti sebagai falsafah  hidup dan cara pandang terhadap sesama dan dunia. Negara kita mempunyai falsafah Pancasila sebagai landasan Negara. Jadi, Pancasila dapat dipandang sebagai suatu Ideologi, di mana termuat keseluruhan pemikiran, cita rasa dan perjuangan Bangsa Indonesia.

b. Macam-macam Ideologi.

      • Nasionalisme
      • Marxisme
      • Komunisme
      • Teokrasi
      • Neo-Liberalisme

 

c. Macam-macam Aliran dan Sekte

  • Saksi Yehowa
  • Mormon
  • Chidren of God (sering disebut Gereja Setan)
  • Katolik Liberal, yang menolak beberapa tradisi dan ajaran Katolik
  • Aliran-aliran baru, seperti agama baru, yang akhir-akhir ini muncul.

 

d. Trend dan Isu yang muncul pada zaman Globalisasi

  • Materialisme, konsumerisme, dan hedonisme
  • Individualisme
  • Pluralisme
  • Fundamentalisme
  • Gender
  • Lingkungan Hidup, dsb.

 

Saat ini muncul banyak trend-trend dan isu yang semakin kuat, yang perlu kita sikapi dengan kritis, antara lain:

  • Materialisme, Konsumerisme, Hedonisme

Dogma budaya materislistik dan hedonistik adalah hidup yang betul adalah hidup yang berlimpah materi dan berkesenangan. Manusia diukur dari apa yang dia miliki (rumah, mobil dsb), bukan karakter. Pengorbanan, menanggung penderitaan, askese dan tapa, kesederhanaan dan kerelaan untuk melepaskan nikmat demi cita-cita luhur tidak mempunyai tempat dalam budaya ini.  Budaya Materialistik dan Hedonistik itu antara lain melahirkan sikap materialism. Konsumerisme adalah sikap orang yang terdorong untuk terus menerus menambahkan tingkat konsumsi, bukan karena konsumsi itu dibutuhkan, melainkan lebih demi status yang dikira akan diperolehnya melalui konsumsi tinggi itu.

 

  • Individualisme

Individualisme adalah akibat tak terelak dari suatu perkembangan yang sedang berlangsung dalam hidup orang kota, terutama kelas menengah ke atas. Bagi petani,nelayan,maupun tukang dan saudagar tradisional pekerjaan tak terpisahkan dari kehidupaan dalam keluarga. Gaya hidup modern memisahkan dengan tajam antara dua bidang itu. Hidup dalam keluarga dan pekerjaan semakin tidak ada sangkut pautnya satu sama yang lainnya. Pagi hari ayah secara fisik dan emosional meniggalkan rumah dan keluarganya selama delapan sampai sebelas jam, menyibukan diri dengan pekerjaan di kantor. Apa bila ia pulang malam hari, dan andaikata ia tidak membawa pekerjaan kantoraan, barulah tersedia waktunya bagi keluarganya.

  • Pluralisme

Pluralisme itu berarti bahwa orang dari perbagai suku dan daerah, agama dan keyakinan religius dan politik bercampur-baur di kampung-kampung, di tempat kerja,kandaraan umum,di rumah sakit dan dimana pun juga. Tak aka ada masyarakat tertutup dan tradisional murni.

Dengan kata lain, kontrol social terhadap pelaksanaan keagamaan dan hidup bermasyarakat rakyat makin berkurang.

Linkungan social semakin tidak menentukan lagi dalam hal agama,keyakinan politik atau kepercayaan. Orang menentukan sendiri keterlibatan dalam tiga bidang itu.

Dalam arti ini agama akan menjadi urusan pribadi. Tetangga tidak mesti mengetahui dan tidak memperdulikan kepercayaan tetangganya.

 

  • Tantangan fundamentalisme

Salah satu hal yang sekarang sudah dilihat dalam banyak negara, baik negara-negara bergama Islam maupun negara-negara industri barat, adalah pelarian ke segala macam fundanmentalisme.

Ada fundamentalisme Islam, fundamentalisme Kristen. Celakanya,fundamentalisme agama ini serimg ditunggangi untuk kepentingan politik tertentu, seperti yang kita alami di negri kita saat ini.

Selanjutnya, selain fundamentalisme agama ada juga fundamantalisme-fundamentalisme non agama seperti: sukuisme, nasionalisme,kebatinan, dan sebaginya.

Kita akan mengalami bahwa orang mencari yang metafisik dan adiduniawi. Mereka tidak mencari pada injil yang adalah sumber segala berita keselamatan, tetapi mereka pergi ke dukun, paranormal, dan sebagainya.

 

  • Isu  Gender

Pembebasan kaum perempuan akan menjadi pembebasan umat manusia seluruhnya menuju masyarakat baru, dengan paragdima sosial baru. Dalam proses itu kita pun harus menuju pola hubungan yang sederajat sebagai mitra, dengan sikap solider-partisipatif, polisentrik dan karena itu membentuk jaringan dengan banyak simpul yang saling berhubungan.

Gerakan kaum perempuan akan menjadi gerakan pembebasan yang paling dan paling Terasa dampaknya dalam abad ke-21 nanti. Gerakan ini akan merombak paragdigma sosaial lama dari system patriakal-kiriarkal menuju masyarakat baru yang lebih egalitarian.

 

 

  • Isu Demokrasi, Otonomi, Hak Asasi.

Sikap demokrasi adalah hal yang semakin dibutuhkan pada masa sekarang bukan saja sebagai suatu sikap politik, tetapi terlebih-lebih sebagai suatu sikap budaya. Secara global, demokrasi menjadi penting bukan saja karena sisialisme telah runtuh, melainkan juga karena liberalism politik seakan-akan menjadi satu-satunya paham yang sekarang berlaku. Sikap demokratis dibutuhkan terutama karena munculnya kekuatan-kekuatan baru yang dibawa oleh globalisasi telah menimbulkan berbagai perubahan yang akan menjadi produktif kalau ditanggapi secara demokratis. Isu demokrasi, otonomi dan hak asasi akan semakin kuat dalam millennium ini.

  • Isu Lingkungan Hidup.

Pada tahun-tahun terakhir ini isu Lingkungan hidup menjadi sangat sentral di muka bumi ini. Ternyata lingkungan hidup sangat erat berhubungan dengan mutu dan kelangsungan hidup manusia. Sikap yang acuh tak acuh atau kasar terhadap lingkungan dianggap sebagai perbuatan yang konyol dan mau bunuh diri sendiri dan generasi yang akan dating. Budaya modern yang individualistic, rasionalistik dan eksploitatif mulai sedikit digeser oleh budaya pascamodern yang lebih sosial dan akrab dengan alam.

 

  1. Sikap Yesus yang kritis terhadap Aliran dan berbagai tawaran Zaman.

ü  Yesus kritis terhadap berbagai Idiologi dan aliran pada zaman-Nya.

Pada waktu Yesus hidup di Palestina ada berbagai kelompok dan aliran telah ada, misalnya:

 

 

  • FARISI (dari kata Ibrani Pharesees=terpisah)

Kelompok Farisi adalah kelompok orang-orang Yahudi saleh yang menerima hukum tertulis dan lisan dan dengan amat teliti menaati berbagai macam kewajiban. Mereka mengecam Yesus karena Ia mengampuni dosa, melanggar peraturan Sabat, dan bergaul dengan pendosa. Sebaliknya, Yesus melawan sikap legalisme lahiriah dan formalisme pembenaran diri mereka. Mereka bekerja sama dengan para Saduki (lawan mereka) untuk membunuh Yesus.    (Mateus 23:1-36)

  • Kelompok Saduki merupakan salah satu kelompok politik Palestina zaman Yesus. Mereka mempunyai pengaruh besar dalam bidang politik. Mereka berhubungan erat dengan para imam Agung, kaum ningrat, dan golongan konservatif. Dalam hal agama mereka menolak tradisi lisan, kebangkitan orang mati, dan adanya malaekat.  Mereka menentang Yesus dan bersama para Farisi mengusahakan penyaliban Yesus, karena Yesus dianggap mengancam kedudukan politis dan kepentingan mereka.      (Mateus 22:23-33)
  • ESENI (mungkin berasal dari kata Ibrani Kasidim = orang-orang setia)

Kelompok Eseni ini menganggap diri sebagai orang terpilih dari antara orang-orang saleh. Mereka hidup bermatiraga dan melaksanakan hukum Taurat dengan sangat ketat, hidup berkelompok tanpa milik pribadi, dan sebagian dari mereka tidak menikah. Mereka hidup demikian karena yakin bahwa mereka akan bangkit dan hidup pada akhir zaman, waktu di mana hamper semua orang menjadi murtad termasuk pimpinan bangsa dan imam-imam Yahudi.

 

  • ZELOT

Kelompok Zelot adalah pejuang-pejuang kemerdekaan Yahudi melawan orang-orang Romawi pada awal abad pertama Masehi dan dalam perang yang berakhir dengan kehancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi.

Yesus ternyata tidak memilih salah satu dari kelompok-kelompok atau aliran-aliran tersebut di atas. Yesus memilih aliran dan gerakan-Nya sendiri, yaitu mewartakan dan member kesaksian tentang Kerajaan Allah. Dalam rangka mewartakan dan memberikan kesaksian tentang Kerajaan Allah, Yeus menyapa orang-orang miskin. Walaupun ia berasal dari kelas menengah, Yesus secara sosial bercampur dengan orang-orang yang paling rendah dan menyamakan diri-Nya dengan mereka. Mereka adalah orang miskin, buta, lumpuh, kusta, kerasukan setan (dikuasai oleh roh najis), pendosa, pelacur, pemungut cukai, rakyat gembel yang buta hukum, lintah darat, dan penjudi. Mereka ini dianggap oleh orang Farisi sebagai sampah masyarakat yang harus dibuang, tidak berguna atau najis. Mereka harus disingkirkan dari pergaulan masyarakat, karena menyimpang dari hukum dan warisan adat-istiadat.

 

  • Yesus kritis terhadap tawaran-tawaran keduniaan.

Sesudah Yesus berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun, iblis menawarkan kepada Yesus hal-hal yang menggiurkan

(Lukas 4:1-13)

 

Pertama       : Roti, rezeki, jaminan social ekonomi.

Kedua          : Kedudukan dan kekuasaan

Ketiga         : Kesenangan dan kenikmatan

 

Godaan-godaan iblis bertujuan agar Yesus meninggalkan pilihan (opsi) mewartakan Kerajaan Allah, dan menyibukkan diri dengan jaminan sosial, ekonomi dan kesenangan. Yesus menolaknya, bukan karena hal-hal itu jelek, tetapi karena ada hal yang lebih pokok, yaitu Kerajaan Allah.

 

  1. SAJIAN CONTOH

 

Bacalah Cerita Mistik di bawah ini!

 

IDEOLOGI

Sungguh pedih membaca tentang kebengisan manusia terhadap sesamanya. Inilah sebuah laporan surat kabar tentang penyiksaan yang dilakukan dalam kamp konsentrasi modern.

 

Korban diikat pada kursi besi

Arus listik dialirkan dalam tubuhnya,

Semakin lama semakin kuat sampai akhirnya ia mengaku

 

Algojo mengepalkan tinju dan menghantamkan telinga si korban bertubi-tubi,

Sampai gendang telingannya pecah.

 

Seorang tahanan didudukan di kursi dr. Gigi, kemudian dokter mengebor giginya sampai menyentuh saraf. Pengeboran berjalan terus sampai akhirnya si korban menyerah.

 

Manusia pada hakekatnya bukan makhluk yang bengis. Ia menjadi bengis, kalau ia merasa tidak bahagia atau kalau ia menganut suatu ideologi. Satu idelogi melawan ideologi yang lain, satu sistem melawan sistem yang lain, satu agama melawan agama yang lain. Dan manusia terhimpit diantaranya.

Orang-orang menyalibkan Yesus, itu barangkali bukan orang yang kejam. Mungkin sekali mereka itu suami yang penuh pengertian dan ayah mencintai anak-anaknya. Mereka dapat menjadi kejam demi mempertahankan suatu sistem, ideologi, atau agama. Seandainya orang-orang beragama itu selalu lebih mengikuti suara hati mereka dari pada logika agamannya, kita tidak perlu menyaksikan pengikut-pengikut bidaah dibakar, janda-janda terjun dalam api pembakaran jenasah suaminya dan jutaan manusia yang tidak berdosa dibantai dalam peperangan-pererangan yang dilancarkan atas nama agama dan Allah.

Kesimpulannya: jika engkau harus memilih antara suara hati yang penuh belah kasih dan tuntutan ideologi, tolaklah idelogi tanpa ragu-ragu. Belaskasih tidak bersifat ideologis.

 

(Dari : Burung Berkicau, Anthony de Mello, SJ)

 

Pertanyaan Pendalaman:

  1. Bagaimana pikiran dan perasaan kalian setelah membaca cerita mistik tersebut?
  2. Mengapa orang Yahudi tega membunuh Yesus?

 

  1. SOAL/LATIHAN

 

Test Tertulis

 

  1. Apakah arti ideologi?
  2. Sebutkan macam-macam ideologi yang anda ketahui yang pernah tumbuh di tanah air di Indonesia?
  3. Sebutkan macam-macam aliran dan sekte?
  4. Bagaimana pendapatmu terhadap para pelaku bom yang menewaskan orang-orang tidak bersalah? Mengapa mereka bersedia melakukannya?
  5. Bagaimana sikap Yesus terhadap aliran-aliran dan kelompok-kelompok  yang berkembang pada zaman-Nya?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kitab Suci (Alkitab)
  2. AM. Mangunhardjana, SJ, Mengatasi Hambatan-hambatan Kepribadian, Kanisius Yogyakarta
  3. Team CLC, Tantangan Membina Kepribadian, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1992
  4. Komisi Kateketik KWI, Yesus Teladanku, Obor, Jakarta, 1986
  5. Propinsi Gerejani Ende,  Katekismus Gereja Katolik, Percetakan Arnoldus, 1995
  6. Mingguan Hidup 5 Mei 2002, Kerinduan Masyarakat Ambon, Oleh Beny Susetyo
  7. Dokpen KWI, Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, Obor, Jakarta 1995
  8. Peter Gonsalves, SDB., Excercises Media Education, Don Bosco Comunications.
  9. A. Heuken, SJ, Ensiklopedi 1, Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1991
  10. Dr. S. Reksosusilo, CM., Reksa pastoral Dalam Situasi Dewasa Ini, Penerbit Dioma
  11. Albert Nolan, Yesus Kristus Sebelum Agama Kristen, Penerbit Kanisius, 1996
  12. A. Heuken SJ., Ensiklopedi Politik Pembangunan Pancasila, Yayasan Cipta Loka Caraka
  13. Antony de Mello SJ., Burung  Berkicau, Yayasan Cipta Loka Caraka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIKTAT KELAS XI

DIKTAT

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMA

KELAS XI SEMESTER I

 

 

 

 

 

Oleh : AGUSTINUS DWIYANTO EDY SUSILO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SMA NEGERI 2 WONOSARI GUNUNGKIDUL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Sebagai guru, dalam melaksanakan tugas kependidikan dibutuhkan berbagai upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan dengan melakukan usaha-usaha untuk pengembangan profesi. Salah satu cara untuk pengembangan profaesi guru adalah membuat karya tulis yang salah satunya berbentuk diktat sebagai pendamping dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Diktat sebagai salah satu ringkasan materi pelajaran yang merupakan bantuan bagi siswa agar lebih mudah mencerna pelajaran dibandingkan buku paket atau sumber lain dengan tetap terbuka akan revisi dan pengembangannya.

Diktat sebagai pendamping buku paket, maka isi diktat ini masih sangat sederhana dan ringkas sehingga diperlukan adanya kreatifitas dari guru dan siswa dalam proses pengembangannya.

Namuan demikian semoga diktat ini dapat berguna dan dipergunakan sebagaimana mestinya dan dapat mendatangkan berkat dan manfaat bagi semua pihak, bisa memberikan inspirasi dan kegembiraan bagi para guru/pendamping dan siswa yang menggunakannya.

Segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari pengguna sangat kami butuhkan untuk penyempurnaan diktat ini sangat kami hargai.

“Semoga Ia yang memulai pekerjaan yang baik, Ia akan meyelesaikannya”

 

Wonosari,  Agustus  2011

Penyusun

 

 

Ag. Dwiyanto Edy Susilo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………….            i

HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………..            ii

KATA PENGANTAR ……………………………………………….             iii

DAFTAR ISI …………………………………………………………….             iv

PENDAHULUAN ……………………………………………………..             5

BAB I: ARTI DAN MAKNA GEREJA ……………………….            7

BAB II: HIERARKI DAN AWAM ……………………………..            15

BAB III: SIFAT-SIFAT GEREJA ……………………………..              27

BAB IV: TUGAS-TUGAS GEREJA ………………………….             39

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………….              60

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

  1. A.                LATAR BELAKANG

Pendidkan agama katolik merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah. Sebagaimanan setiap pelajaran memiliki tujunnya berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, sedemikan juga dengan pendidikan agama Katolik. Tujuannya adalah membangun kompetensi anak didik sebagai pribadi yang briman, memekarkan dan menumbuhkembangkan anak-anak menjadi pribadi kristiani yang berlandaskan pada hubungan dengan Yesus Kristus. Sehingga anak-anak karena pengenalan yang lebih mendalam akan Yesus Kristus mampu mengembangakn diri dalam kedewasaan iman, berani bersikap dan berpendapat,berani memperjuangakan nilai-nilai luhur atau nilai-nilai budaya dan karakter bangsa atas dasar kebenaran dan keadailan dalam konteks kehiduapan kongkret dan dengan demikian meneladan Yesus sendiri, mewartakan kabar gembira bagi orang lain. Sebagai guru berharap bahwa anak-anak dalam proses belajar boleh tumbuh berkembang atas dasar pokok-pokok iman katolik.pada saatnya kelak masyarakat boleh merasakan buah-buah kebaikanya melalui pengamalan yang kreatif dan cerdas tentang niali-nilai injili dan kristiani yang direfleksikan,dihayati dan diaktualisaikan oleh anak didik bagi kesejahteraan dan kemajuan masyarakat.

Perkembangan zaman mau tidak mau membuat peran sekolah ikut berubah, seperti SMA. Lembaga Pendidikan zaman sekarang lebih mementingkan kompentensi dan ketrampilan kerja daripada pengembangan pribadi yang utuh. Kompetensi yang diupayakan seringkali lebih ditentukan oleh kebutuhan dunia industri, sehingga sejak dini anak dikembangkan sesuai tuntutan dunia industri.  Di lain pihak Gereja, melalui pelajaran Agama Katolik di sekolah,  punya tugas mulia, yakni: membimbing dan mengantar siswa agar berkembang dalam iman akan Yesus Kristus. Dengan demikian anak didik diharapkan siap dalam menghadapi arus-arus zaman yang begitu cepat menggelinding di muka bumi ini. Maka dengan maksud tersebut di atas dan sekaligus peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran Agama Katolik haruslah mendapat perhatian yang serius, untuk itu diperlukan berbagai usaha. Salah satunya adalah tersedianya buku diktat yang dapat dipakai sebagai acuan / pegangan / pedoman sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

Dalam Diktat Kelas X, siswa mempelajari tentang usaha siswa untuk lebih mengenal diri dan lingkungannya, dan juga tentang usaha siswa untuk lebih mengenal pribadi Yesus Kristus sebagai pribadi yang memberi inspirasi dan peneguhan bagi hidup siswa. Diktat untuk kelas XI berisi materi tentang Gereja, baik Gereja dalam hubungannya dengan dirinya sendiri (intern) maupun Gereja dalam hubungannya dengan dunia (eksternal). Dalam diktat ini, siswa akan mempelajari tentang Gereja sebagai komunitas murid-murid Yesus yang berjuang untuk melanjutkan misi dan karya Yesus, yaitu membangun Kerajaan Allah di bumi.

Dengan disusunnya buku diktat ini diharapkan dapat membantu Guru maupun siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran.

  1. B.  TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai dengan penyusunan diktat ini adalah:

  1. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik di SMA Negeri 2 Wonosari Gunung Kidul
  2. Meningkatkan motivasi siswa Katolik kelas XI SMA Negeri 2 Wonosari Gunung Kidul dalam pelajaran Pendidikan Agama Katolik.
  3. Membantu pengembangan kreatifitas dan profesionalitas guru dalam menjalankan tugas pokok sebagai guru.
  4. C.  MANFAAT

Manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya diktat ini adalah:

  1. Membantu Guru Pendidikan Agama Katolik mempermudah dalam kegiatan proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik
  2. Memudahkan dan membantu anak didik dalam mengikuti proses pembelajaran pendidikan Agama Katolik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

ARTI DAN MAKNA GEREJA

 

  1. A.  KOMPETENSI
  2. 1.    Standar Kompetensi

Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan bergereja sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

  1. 2.    Kompetensi Dasar

Siswa mampu memahami arti dan makna Gereja sebagai Umat Allah dan Persekutuan murid-murid Yesus yang terbuka.

  1. 3.    Indikator

Mengungkapkan Arti dan Makna Gereja sebagai Umat Allah.

  1. Menjelaskan konsekuensi arti Gereja yang meng-Umat
  2. Menjelaskan paham Gereja Hierarki Piramidal dan Gereja sebagai Persekutuan Umat.(Model-model Gereja)
  3. Menyebutkan Keanggotaan dalam Gereja sebagai Persekutuan Umat.
  4. Mengungkapkan pandangan Gereja sebagai Persekutuan Umat dalam terang Kitab Suci.
  5. Mengungkapkan bahwa Gereja sebagai Persekutuan Umat Bersifat Terbuka.

 

  1. 4.    Uraian Tujuan

Dalam bab ini kita mampu memahami arti dan makna Gereja sebagai Umat Allah dan Persekutuan murid-murid Yesus yang terbuka.

 

  1. B.  RINGKASAN MATERI
  2. Arti dan Makna Gereja.
  3. Gereja yang meng-Umat
  4. Gagasan baru dalam Gereja Umat Allah
  5. Ciri Gereja Umat Allah
  6. Model-model Gereja
  7. Paham Gereja Hierarki Piramidal
  8. Paham Gereja sebagai Persekutuan Umat.
  9. Keanggotaan dalam Gereja sebagai Persekutuan Umat.
  10. Pandangan Gereja sebagai Persekutuan Umat dalam terang Kitab Suci.
  11. Gereja sebagai Persekutuan Umat Bersifat Terbuka.

 

C. PENJELASAN MATERI

  1. 1.     Arti dan Makna Gereja.

Sering kali diartikan sebagai rumah/ tempat ibadat umat Kristen-Katolik.  Secara etimologis, gereja berasal dari kata ‘igreja’ (portugis), ‘ecclesia’ (latin), ‘ekklesia’ (yunani) yang berarti persekutuan/ jemaat. Menurut Gaudium et Spes, Gereja adalah “persekutuan umaat yang percaya akan Yesus Kristus di bawah bimbingan Roh Kudus dalam ziarahnya menuju Allah Bapa.”

Sebagai tempat ibadat gereja juga menjadi tempat berkumpul. Kita, aku dan kau, adalah bagian dari perkumpulan/ persekutuan itu. Kita adalah Gereja.

 

  1. 2.    Gereja yang meng-Umat
  2. Ciri Gereja Umat Allah

Pengertian Umat Allah mempunyai ciri khas, sebagai berikut:

1)   Umat Allah merupakan suatu pilihan dan panggilan dari Allah sendiri. Umat Allah adalah bangsa terpilih, bangsa terpanggil.

2)   Umat Allah dipanggil dan dipilih untuk Allah untuk misi tertentu, yaitu menyelamatkan dunia.

3)   Hubungan antara Allah dan umat-Nya dimeteraikan oleh suatu perjanjian. Umat harus mentaati perintah-perintah Allah dan Allah akan selalu menepati janji-janji-Nya.

4)   Umat Allah selalu dalam perjalanan, melewati padang pasir, menuju tanah Terjanji.

 

Demikianlah, Gereja sungguh merupakan UMAT ALLAH YANG SEDANG DALAM PERJALANAN MENUJU KE RUMAH BAPA.

  1. Gagasan baru dalam Gereja Umat Allah

melanjutkan misi dan karya Yesus. Pandangan Gereja sebagai Umat Allah membawa banyak gagasan baru, antara lain:

1)   Memperlihatkan sifat historis Gereja yang hidup :inter tempora”, yakni Gereja dilihat menurut perkembangannya dalam sejarah keselamatan. Hal ini berarti menurut perkembangan di bawah dorongan Roh Kudus. Segi organisatoris Gereja tidak terlalu ditekankan lagi, tetapi sebagai gantinya ditekankan segi kharismatisnya.  Gereja berkembang “dari bawah”, dari kalangan umat sendiri.

2)   Menempatkan hierarki dalam keseluruhan Gereja sebagai suatu fungsi, sehingga sifat pengabdian hierarki menjadi lebih kentara. Hierarki jelas mempunyai fungsi pelayanan. Hierarki tidak lagi ditempatkan di atas umat, tetapi di dalam umat.

3)   Memungkinkan pluriformitas dalam hidup Gereja, termasuk pluriformitas dalam corak hidup, ciri-ciri, dan sifat serta pelayanan dalam Gereja.

  1. 3.    Model-model Gereja

Ada dua Model Gereja yang kiranya dihayati Umat dewasa ini,antara lain:

  1. Model  Gereja institusional, sangat menonjol dalam hal:
  • Organisasi (lahiriah) yang berstruktur pyramidal, Tertata rapi.
  • Kepimpinan tertahbis atau hierarki: Hierarki hampir identik dengan Gereja itu sendiri. Suatu institusi, apalagi institusi besar seperti Gereja Katolik, tentu membutuhkan kepemimpinan yang kuat.
  • Hukum dan peraturan: Untuk menata dan menjaga kelangsungan suatu institusi, apalagi yang berskala besar, tentu saja dibutuhkan hukum dan peraturan yang jelas.
  • Sikap yang agak triumfalistik dan tertutup: Gereja merasa sebagai satu-satunya penjamin kebenaran dan keselamatan. Extra eclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan)

 

  1. Model Gereja sebagai persekutuan umat, mau menonjolkan:
  • Hidup persaudaraan karena iman dan harapan yang sama: Persaudaraan adalah persaudaraan kasih.
  • Keikutsertaan semua umat dalam hidup menggereja: Bukan saja hierarki dan biarawan-biarawati yang harus aktif dalam hidup menggereja, tetapi seluruh umat..
  • Hukum dan peraturan memang perlu, tetapi dibutuhkan pula peranan hati nurani dan tanggung jawab pribadi.
  • Sikap miskin, sederhana, dan terbuka: Rela berdialog dengan pihak manapun, sebab Gereja yakin bahwa di luar Gereja Katolik terdapat pula kebenaran dan keselamatan.

 

  1. 5.    Keanggotaan dalam Gereja sebagai Persekutuan Umat.

Gereja adalah persekutuan Umat Allah untuk membangun Kerajaan Allah di bumi ini. Dalam persekutuan umat ini, semua anggota mempunyai martabat yang sama, namun dari segi fungsinya dapat berbeda.

 

  1. a.     Golongan Hierarki

Hierarki adalah orang-orang yang ditahbiskan untuk tugas kegembalaan. Mereka menjadi pemimpin dan pemersatu umat, sebagai tanda efektif dan nyata dari otoritas Kristus sebagai kepala umat, Hierarki adalah tanda nyata bahwa umat tidak dapat membentuk dan membina diri atas kuasanya sendiri, tetapi bergantung dari Kristus. Otoritas Kristus atas Gereja-Nya ditandai oleh hirarki.

Tugas-tugas Hierarki adalah:

1)   Hirarki menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hirarki mempersatukan umat dalam iman, tidak hanya dengan petunjuk, nasehat, dan teladan, tetapi juga dengan kewibawaan dan kekuasaan kudus. (Lumen Gentium, Art 27)

2)   Hirarki menjalankan tugas-tugas Gerejani, seperti merayakan sakramen, mewartakan sabda, dan sebagainya.

 

  1. 6.    Biarawan-biarawati. 

Seorang biarawan / biarawati adalah anggota umat yang dengan mengucapkan kaul kemiskinan, ketaatan, dan keperawanan selalu bersatu dengan Kristus dan menerima pola nasib hidup Yesus Kristus secara radikal. Dengan demikian, mereka menjadi tanda nyata dari hidup dalam Kerajaan Allah. Jadi, kaul kemiskinan, ketaatan, dan keperawanan adalah sesuatu yang khas dalam kehidupam membiara. Kekhasan itu terletak dalam radikalitetnya menghayati kemiskinan, ketaatan, dan hidup wadat. Harta dan kekayaan, kuasa dan kedudukan, perkawinan dan kehidupan keluarga adalah sesuatu yang baik dan sangat bernilai dalam hidup ini. Namun, semua nilai itu relatif, tidak absolut, dan tidak abadi sifatnya. Dengan menghayati kaul-kaul kebiaraan, para biarawan atau biarawati menjadi “tanda” bahwa:

  1. Kekayaan, kekuasaan, dan hidup keluarga walaupun sangat bernilai, tetapi tidaklah absolut dan abadi. Maka, kita tidak boleh mendewa-dewakannya.
  2. Kaul kebiaraan itu mengarahkan kita pada Kerajaan Allah dalam kepenuhannya kelak. Kita adalah umat musafir.
  3. 7.     Kaum Awam

Yang dimaksud dengan “kaum awam” di sini adalah semua orang beriman Kristen yang tidak termasuk dalam golongan tertahbis dan biarawan / biarawati. Mereka adalah orang-orang yang dengan pembaptisan menjadi anggota Gereja dan dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Dengan demikian, mereka menjalankan perutusan seluruh Gereja dalam umat dan masyarakat. Bagi kaum awam, ciri keduniaan adalah khas dan khusus. Mereka mengemban kerasulan dalam tata dunia.

 

 

 

 

 

 

  1. 8.    Gereja yang meng-Umat.
    1. a.      Dasar dari Gereja yang Meng-Umat.

Kita masing-masing secara pribadi dipanggil untuk melibatkan diri secara penuh dalam kehidupan Umat Allah. Atau secara singkat dapat dikatakan bahwa kita harus MENGUMAT.  Mengapa?

  1. Hidup mengumat pada dasarnya merupakan hakikat Gereja itu sendiri, sebab hakikat Gereja adalah persaudaraan cinta kasih seperti yang dicerminkan oleh hidup Umat Perdana (Kis 2 :41-47)
  2. Dalam hidup mengumat banyak karisma dan rupa-rupa karunia dapat dilihat, diterima, dan digunakan untuk kekayaan seluruh Gereja. Hidup Gereja yang selalu menampilkan segi organisatoris dan struktural dapat mematikan banyak karisma dan karunia yang muncul dari bawah (1 Kor 12: 7-10)
  3. Dalam hidup mengumat, semua orang yang merasa menghayati martabat yang sama akan bertanggungjawab secara akktif dalam fungsinya masing-masing untuk membangun Gereja dan memberi kesaksian kepada dunia (Ef 4:11-13. 1 Kor 12:12-18. 26-27).

 

  1. 9.    Konsekuensi dari Gereja yang Mengumat.

Jika Gereja sungguh Umat Allah, apakah konsekuensi bagi Gereja itu sendiri?

  1. Konsekuensi bagi pimpinan Gereja (hierarki)
  • Menyadari fungsi pimpinan sebagai fungsi pelayanan. Pimpinan bukan di atas umat, tetapi di tengah umat.
  • Harus peka untuk melihat dan mendengar karisma dan karunia-karunia yang tumbuh di kalangan umat.

b.    Konsekuensi bagi setiap anggota umat.

  • Menyadari dan menghayati persatuannya dengan umat lain. Orang tidak dapat menghayati kehidupan imannya secara individu saja.
  • Aktif dalam kehidupan mengumat, menggunakan segala karisma, karunia, dan fungsi yang dipercayakan kepadanya untuk kepentingan dan misi Gereja di tengah masyarakat. Semua bertanggung jawab dalam hidup dan misi Gereja.

c.    Konsekuensi bagi hubungan awam dan hierarki.

Paham Gereja sebagai Umat Allah jelas membawa konsekuensi dalam hubungan antara hierarki dan kaum awam. Kaum awam bukan lagi pelengkap penyerta atau pelengkap penderita, melainkan partner hierarki. Awam dan hierarki memiliki martabat yang sama, hanya berbeda fungsi.

 

 

  1. 10.         Gereja sebagai Persekutuan Umat dalam Terang Kitab Suci.  (Kis 2: 41-47)

Santo Lukas dalam kutipan Kitab Suci, Kis 4:32-37,  memberikan gambaran yang ideal terhadap komunitas persekutuan Jemaat Perdana. Jemaat Perdana memiliki ciri-ciri berikut:

  1. Bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan,
  2. Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
  3. Berkumpul tiap-tiap hari dalam bait Allah

d. Gembira dan tulus hati sambil memuji Allah,

  1. Mereka disukai banyak orang.

 

  1. 11.                        Gereja sebagai Persekutuan Umat Bersifat Terbuka.

Gereja hadir di dunia ini bukan untuk dirinya sendiri. Gereja hadir dan berada untuk dunia. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dari murid-murid Kristus (Gereja). Sebab persekutuan murid-murid Kristus terdiri atas orang-orang yang dipersatukan di dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan menuju Kerajaan Bapa. Semua murid Kristus telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka, persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat dalam berhubungannya dengan umat manusia serta sejarahnya (Gaudium et Spes No. 1)  Singkatnya: Gereja harus menjadi Sakramen (tanda) keselamatan bagi dunia.

Ada banyak cara bagi Gereja untuk menunjukkan keterbukaannya, diantaranya:

  1. Gereja harus selalu siap untuk berdialog dengan agama dan budaya mana pun juga.
  2. Kerja sama atau dialog karya.
  3. Berpartisipasi secara aktif dan mau bekerja sama dengan siapa saja dalam membangun masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera.

 

 

  1. D.  SAJIAN KASUS

Ketika terjadi krisis berkepanjangan di negeri ini, ada seorang yang bertanya kepada bapak Uskup Agung Semarang: ”Mgr, dalam situasi begini apa sikap gereja?” Dengan tenangnya bapak Uskup menjawab ”… GEREJA ITU SIAPA?”

Banyak pendapat menagatakan bahwa Gereja adalah institusi, lembaga, bapak uskup, atau setidaknya Romo. Tetapi, dalam pembicaraan diatas, bapak Uskup mengatakan bahwa gereja adalah kita, adalah ”panjenengan/ anda (kepada yang bertanya)” jadi, apa yang anda lakukan itulah yang dilakukan Gereja. (dikutip dari Dialog Umat Paroki Salam dengan Mgr Ig. Suharyo, 2009)

 

  1. E.  LATIHAN SOAL
  2. Jelaskan definisi Gereja menurut GS.1!
  3. Jelaskan model-model Gereja.!
  4. Jelaskan konsekuensi arti Gereja yang meng-Umat baik bagi Hierarkhi maupun bagi Umat!
  5. Sebutkan Ciri-ciri Gereja menurut Kis. 2 41-47!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

HIERARKI DAN AWAM

  1. A.      KOMPETENSI
  2. 1.    Standar Kompetensi

Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan bergereja sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

 

  1. 2.    Kompetensi Dasar

Siswa memahami fungsi dan peranan Hierarki dan Awam, sehingga bersedia berpartisipasi dan bekerja sama dengan Hierarki (dan pimpinan Gereja yang lain) dalam hidup menggereja.

 

  1. 3.    Indikator
  2. Mengungkapkan pahamnya tentang Hierarki dalam Gereja Katolik.
  3. Menjelaskan pengertian dasar dan susunan Hierarki dalam Gereja Katolik
  4. Menjelaskan fungsi kepemimpinan dalam Gereja Katolik
  5. Menjelaskan corak kepemimpinan dalam Gereja Katolik
  6. Menjelaskan awam dan kerasulan awam
  7. Menjelaskan hubungan awam dan hierarki

 

  1. 4.        Uraian Tujuan

Dengan pelajaran ini kita dapat memahami fungsi dan peranan hierarki dan awam, sehingga bersedia berpartisipasi dan bekerjasama dengan hierarki   ( dan pimpinan Gereja yang lain) dalam hidup menggereja.

  1. B.       RINGKASAN MATERI
  2. 1.      Hierarki dalam Gereja Katolik.
  3. a.      Pengertian dan Dasar Kepemimpinan dalam Gereja (Hierarki)
  4. b.      Susunan Hierarki
  5. c.       Fungsi Hierarki
  6. d.      Peranan Hierarki
  7. e.       Corak Kepemimpinan dalam Gereja
  8. 2.      Kaum Awam dalam Gereja Katolik
  9. a.      Arti kaum Awam
  10. b.      Peranan Kaum Awam
  11. c.       Hubungan Hierarki dan Kaum Awam
  12. d.      Peranan Kaum Muda dalam Hidup Menggereja

 

  1. C.      PENJELASAN TEORI
  2. 1.                  Hierarki dalam Gereja Katolik.
  3. a.    Pengertian dan Dasar Kepemimpinan dalam Gereja (Hierarki)

Gereja sebagai persekutuan umat mempunyai struktur kepemimpinan, yang kita sebut Hierarki. Untuk menggembalakan dan mengembangkan Umat Allah, Kristus dalam Gereja-Nya mengadakan aneka pelayanan yang tujuannya demi kesejahteraan seluruh Umat Allah. Sebab, para pelayan yang mempunyai kekuasaan kudus, melayani saudara-saudara  mereka supaya semua yang termasuk Umat Allah, dengan bebas dan teratur bekerja sama untuk mencapai tujuan tadi, dan dengan demikian mencapai keselamatan.

Yesus Kristus, Gembala kekal, mendirikan Gereja Kudus, dengan mengutus para rasul seperti Dia sendiri diutus oleh Bapa (Yoh 20:21).  Para pengganti mereka, yakni para Uskup, dikehendaki-Nya  untuk menjadi gembala dalam Gereja-Nya hingga akhir zaman. Supaya episkopat itu sendiri tetap satu dan tak terbagi, Yesus mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para rasul lainnya. Dalam diri Petrus, Yesus menetapkan adanya azas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan. (Lumen Gentium, Art. 18)

Perutusan ilahi yang dipercayakan oleh Yesus kepada para rasul akan berlangsung sampai akhir zaman (Mt 28:20), Sebab, Injil yang harus mereka wartakan bagi Gereja merupakan azas seluruh kehidupan untuk selamanya.  Maka dari itu, dalam himpunan yang tersusun secara Hierarkis, para rasul telah berusaha menggangkat para pengganti mereka.

Para Uskup pengganti para rasul yang dipimpin oleh Sri Paus pengganti Petrus bertugas melayani Jemaat bersama para pembantu mereka, yakni para imam dan diakon. Sebagai wakil Kristus, mereka memimpin kawanan yang mereka gembalakan (pimpin), sebagai guru dalam ajaran, imam dalam ibadat suci, dan pelayan dalam bimbingan (Lumen Gentium, Art 20)

 

  1. b.   Susunan Hierarki

Susunan kepemimpinan dalam Gereja sekarang dapat diurutkan sebagai berikut:

1)       Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai kepala

Pada akhir masa Gereja Perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para uskup adalah pengganti para rasul.  Tetapi hal itu tidak berarti bahwa hanya ada dua belas para uskup (karena ada 12 rasul). Bukan rasul satu persatu diganti oleh orang lain, tetapi kalangan para rasul sebagai pemimpin Gereja diganti oleh para Uskup. Tegasnya,  dewan para Uskup menggantikan dewan para rasul. Yang menjadi pimpinan Gereja adalah dewan para uskup. Seseorang menjadi uskup, karena diterima ke dalam dewan itu.

2)       Paus

Konsili Vatican II menegaskan: “Adapun dewan atau badan para uskup hanyalah berwibawa, bila bersatu dengan imam agung di Roma, pengganti Petrus, sebagai kepalanya dan selama kekuasaan primatnya terhadap semua, baik para gembala maupun kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya.” Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan tugasnya, yakni sebagai wakil Kristus dan gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja, dan kuasa itu selalu dapat dijalankan dengan bebas (Lumen Gentium, Art 22).  Penegasan itu didasarkan pada kenyataan bahwa Kristus mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para rasul lainnya. Petrus diangkat menjadi pemimpin para rasul. Paus, pengganti Petrus, adalah pemimpin para uskup.

3)      Uskup

KonsiliVatican II merumuskan dengan jelas: “masing-masing uskup menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gerejanya” (Lumen Gentium, Art.23). Tugas pokok uskup adalam mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas itu selanjutnya dibagi menjadi tiga tugas khusus menurut tiga bidang kehidupan Gereja, yaitu tugas pewartaan, perayaan, dan pelayanan, di mana dimungkinkan komunikasi iman dalam Gereja. Tugas utama dan terpenting bagi para uskup adalah pewartaan Injil (Lumen Gentium, Art. 25)

 

 

4)   Pembantu Uskup: Imam dan Diakon.

  • Para Imam  adalah wakil uskup. Di setiap Jemaat setempat dalam arti tertentu, para imam menghadirkan uskup. Tugas konkret mereka sama seperti uskup. Mereka ditahbiskan untuk mewartakan Injil dan menggembalakan umat beriman.
  • Para Diakon : Pada tingkat hierarki yang lebih rendah terdapat para diakon, yang ditumpangi tangan bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan (Lumen Gentium Art 29). Para diakon adalah pembantu khusus uskup di bidang materi sedangkan imam pembantu umum.

NB. Kardinal bukan jabatan hirarkis dan tidak termasuk dalam struktur hierarki. Kardinal adalah penasehat utama Paus dan membantu Paus terutama dalam reksa harian seluruh Gereja. Para Kardinal membentuk suatu dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak memilih Paus dibatasi 120 orang yang di bawah usia 80 tahun. Seorang Kardinal dipilih oleh Paus dengan bebas.

  1. c.    Fungsi Hierarki

Seluruh umat Allah mengambil bagian di dalam tugas Kristus sebagai nabi, imam, dan raja (tugas: mengajar, menguduskan, dan mengembalakan).  Tetapi umat itu tidak bersifat seragam, maka Gereja mengenal pembagian tugas, tiap komponen umat (hierarki, biarawan, biarawati, awam) menjalankan tugas dengan cara yang berbeda.

Fungsi khusus hierarki adalah:

  • Ø Menjalankan tugas gerejani, yakni tugas-tugas yang secara langsung dan eksplisit menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti melayani sakramen-sakramen, mengajar agama dan sebagainya.
  • Ø Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hierarki mempersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat, dan teladan.

 

  1. d.   Peranan Hierarki

Fungsi kepemimpinan hierarki adalah untuk menggembalakan Gereja sebagai umat Allah.hierarki berada dalam umat Allah oleh karena kehendak Kristus untuk menggembalakan seluruh Gereja-Nya.dengan demikian, hierarki memiliki peran penting dalam penggembalaan Gereja Semesta. Dalam konteks Gereja Semesta (universal) ini, hierarki  memiliki dua peran utama sebagai berikut:

  • Memberikan bimbingan pastoral dan tugas pengajaran. Tugas mengajar dan memberikan bimbingan itu kerap dikenal dengan istilah magisterium Gereja atau kuasa mengajar gereja dalam bidang iman. “Wewenang mengajar” tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hierarki yang aktif, sedangkan yang lain tinggal menerima dengan pasif saja. Hierarki bertugas menjaga dan memajukan kesatuan serta komunikasi di dalam umat Allah.
  • Memperhatikan Gereja-gereja di seluruh dunia. Hierarki Gereja memperhatikan pula situasi-situasi yang dialami oleh Gereja-gereja partikular di seluruh dunia.

 

  1. e.    Corak kepemimpinan dalam Gereja
  2. Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan khusus, di mana campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Oleh sebab itu, kepemimpinan dalam Gereja tidak diangkat oleh manusia berdasarkan suatu bakat, kecakapan, atau prestasi tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh oleh kekuatan manusia sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”. Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperpanjang oleh manusia, tetapi kepemimpinan dalam Gereja tidaklah demikian.
  3. Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang yang berasal dari Kristus sendiri. Kepemimpinan gerejani adalah kepemimpinan untuk melayani, bukan untuk dilayani. Kepemimpinan untuk menjadi orang yang terakhir, bukan yang pertama. Kepemimpinan untuk mencuci kaki sesama saudara. Ia adalah pelayan. (Paus dikatakan sebagai: Servus Servorum Dei=Hamba dari hamba-hamba Allah).
  4. Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan, maka tidak dapat dihapus oleh manusia. Kepemimpinan masyarakat dapat diturunkan oleh manusia, karena ia diangkat dan diteguhkan oleh manusia.

 

2.       Kaum Awam dalam Gereja Katolik

Sesuai dengan ajaran konsili Vatican II, rohaniawan (Hierarki) dan awam memiliki martabat yang sama, hanya berbeda dalam fungsi. Semua fungsi sama luhurnya, asal dilaksanakan dengan motivasi yang baik, demiKerajaan Allah.

  1. a.        Arti kaum Awam

Yang dimaksud dengan kaum awam adalah semua orang beriman Kristiani yang tidak termasuk golongan yang menerima tahbisan suci dan status kebiarawanan yang diakui dalam Gereja (Lumen Gentium Art. 31).

Ada dua macam defenisi awam:

  • Ø Definisi teologis: Awam adalah warga Gereja yang tidak ditahbiskan. Jadi, awam meliputi biarawan seperti suster dan bruder yang tidak menerima tahbisan suci.
  • Ø Definisi tipologis: Awam adalah warga Gereja yang tidak ditahbiskan dan juga bukan biarawan-biarawati. Maka dari itu, awam tidak mencakup para bruder dan suster.

 

  1. b.        Peranan Kaum Awam

Pada zaman ini orang sering berbiacara tentang tugas atau kerasulan internal dan eksternal. Kerasulan internal atau kerasulan “ di dalam Gereja” adalah kerasulan membangun jemaat. Kerasulan ini lebih diperani oleh jajaran Hierarki, walaupun awam dituntut pula untuk mengambil bagian di dalamnya. Kerasulan eksternal atau kerasulan dalam “tata dunia” lebih diperani oleh para awam. Namun harus disadari bahwa kerasulan dalam Gereja bermuara pula ke dunia. Gereja tidak hadir di dunia ini untuk dirinya sendiri, tetapi untuk dunia. Gereja hadir untuk membangun Kerajaan Allah di dunia ini.

1)   Kerasulan dalam tata dunia.

Berdasarkan panggilan khasnya, awam bertugas mencari Kerajaan Allah dengan mengusahakan hal-hal duniawi dan mengaturnya sesuai dengan kehendak Allah.  Mereka hidup dalam dunia, yakni dalam semua dan tiap jabatan serta kegiatan dunia. Mereka dipanggil Allah agar sambil menjalankan tugas khasnya dan dibimbing oleh semangat Injil, mereka dapat menguduskan dunia dari dalam laksana ragi (Lumen Gentium, Art. 31). Kaum awam dapat menjalankan kerasulannya dengan kegiatan penginjilan dan pengudusan manusia serta meresapkan dan memantapkan semangat Injil ke dalam Tata Dunia sedemikian rupa sehingga kegiatan mereka sungguh-sungguh memberikan kesaksian tentang Kristus dan melayani keselamatan manusia.

Dengan kata lain, Tata Dunia adalah medan bakti khas kaum awam. Hidup keluarga dan masyarakat yang bergumul dengan bidang-bidang ipoleksosbudhamkamnas hendaknya menjadi medan bakti mereka.

Cukup lama, bahkan sampai sekarang ini, masih banyak diantara kita yang melihat kerasulan dalam tata dunia bukan sebagai kegiatan kerasulan. Mereka menyangka bahwa kerasulan hanya berurusan dengan hal-hal yang rohani, yang sakral, yang kudus, yang serba keagamaan, dan yang menyangkup kegiatan-kegiatan dalam lingkup Gereja. Dengan paham Gereja sebagai “Tanda dan Sarana Keselamatan Dunia” yang dimunculkan oleh Gaudium et Spes, di mana otonomi dunia dan sifatnya yang sekuler diakui, maka dunia dan lingkungannya mulai diterima sebagai ruang lingkup keberadaan dan kegiatan Gereja, bahkan sebagai partner dialog yang dapat saling memperkaya diri. Orang mulai menyadari bahwa menjalankan tugas-tugas duniawi tidak hanya berdasarkan alasan kewargaan dalam masyarakat atau Negara saja, tetapi juga karena dorongan iman dan tugas kerasulan kita, asalkan dengan motivasi yang baik. Iman tidak hanya menghubungkan kita dengan Tuhan, tetapi sekaligus menghubungkan kita dengan sesama kita di dunia ini.

2)   Kerasulan dalam Gereja (internal)

Karena Gereja ini Umat Allah, maka Gereja harus sungguh-sungguh menjadi Umat Allah. Ia hendaknya mengkonsilidasi diri untuk benar-benar menjadi Umat Allah itu. Ini adalah tugas membangun Gereja. Tugas ini dapat disebut kerasulan internal. Tugas ini pada dasarnya lebih dipercayakan kepada golongan hierarki (kerasulan hierarki), tetapi para awam dituntut pula untuk mengambil bagian di dalamnya. Keterlibatan awam dalam tugas membangun Gereja ini bukanlah karena menjadi perpanjangan tangan dari hierarki atau ditugaskan oleh hierarki, tetapi oleh pembaptisan ia mendapat tugas itu dari Kristus. Awam hendaknya turut berpartisipasi dalam tri-tugas Gereja.

a). Dalam tugas nabiah, pewartaan sabda, seorang awam dapat:

  • Mengajar agama, sebagai katekis atau guru agama
  • Memimpin kegiatan pendalaman Kitab Suci atau pendalaman iman.

b). Dalam tugas imamiah, menguduskan, seorang awam dapat:

  • Memimpin doa dalam pertemuan-peremuan umat
  • Memimpin koor atau nyanyian dalam ibadat
  • Membagi komuni sebagai prodiakon
  • Menjadi pelayan Altar, dsb.

c). Dalam tugas gerejawi, memimpin atau melayani, seorang awam dapat:

  • Menjadi anggota Dewan Paroki
  • Menjadi ketua seksi, ketua lingkungan atau wilayah.

 

  1. c.         Hubungan Hierarki dan Kaum Awam

1). Gereja adalah Umat Allah

Konsili Vatkan II menegaskan bahwa semua anggota Umat Allah (hierarki, biarawan/biarawati, dan awam) memiliki martabat yang sama. Yang berbeda hanya fungsinya. Keyakinan ini dapat menjamin hubungan yang wajar antara semua komponen Gereja. Tidak boleh ada klaim bahwa komponen-komponen tertentu lebih bermartabat dalam Gereja Kristus dan menyepelekan komponen lainnya. Keyakinan ini harus diimplementasikan secara konsekuen dalam hidup dan karya semua anggota Gereja.

2)  Setiap Komponen Gereja memiliki fungsi yang khas.

Setiap Komponen Gereja memiliki fungsi yang khas. Hierarki bertugas memimpin (atau lebih tepat melayani) dan mempersatukan seluruh Umat Allah. Biarawan/biarawati dengan kaul-kaulnya bertugas mengarahkan umat Allah kepada dunia yang akan dating (eskatologis). Para awam bertugas merasul dalam tata dunia. Mereka harus menjadi rasul dalam keluarga-keluarga dan dalam masyarakat di bidang ipoleksosbudhamkamnas. Jika setiap komponen Gereja melaksanakan fungsinya masing-masing dengan baik, maka adanya kerja sama yang baik pasti terjamin

3)      Kerja sama

Walaupun tiap komponen Gereja memiliki fungsinya masing-masing, namun untuk bidang-bidang dan kegiatan tertentu, terlebih dalam kerasulan internal Gereja yaitu membangun hidup menggereja, masih dibutuhkan partisipasi dan kerja sama dari semua komponen. Dalam hal ini hendaknya hierarki tampil sebagai pelayan yang memimpin dan mempersatukan. Pimpinan tertahbis, yaitu dewan diakon, dewan presbyter, dan dewan uskup tidak berfungsi untuk mengumpulkan kekuasaan ke dalam tangan mereka melainkan untuk menyatukan rupa-rupa tipe, jenis, dan fungsi pelayanan (kharisma) yang ada.Hierarki berperan untuk memelihara keseimbangan dan persaudaraan di antara sekian banyak tugas pelayanan. Para pemimpin tertahbis memperhatikan serta memelihara keseluruhan visi, misi, dan reksa pastoral. Karena itu, tidak mengherankan bahwa di antara mereka yang termasuk dalam dewan hierarki ini ada yang bertanggung jawab untuk memelihara ajaran yang benar dan memimpin perayaan sakramen-sakramen.

d. Peranan Kaum Muda dalam Hidup Menggereja

Gereja membutuhkan kaum muda untuk memperkembangkan Gereja itu sendiri. Keterlibatan kaum muda dalam Gereja bisa dalam bentuk kelompok atau pribadi. Gereja memberikan ruang bagi keterlibatan kaum muda untuk tugas-tugas Gereja sesaui dengan fungsi dan potensi masing-masing, entah itu tugas nabiah, rajawi, imamiah. Oleh karena itu kerasulan kita baik didalam Gereja maupun kerasulan di luar Gereja memiliki tujuan yang sama, membangun Kerajaan Allah.

 

  1. D.      SAJIAN CONTOH

Bacalah Cerita Dibawah ini:

DUA BERSAUDARA

Kata sahibul hikayat ada dua orang bersaudara yang hidup bahagia dan puas, sampai kedua-duanya dipanggil Tuhan untuk menjadi murid-Nya. Yang lebih tua menanggapi panggilan menjadi iman dengan sukarela, meskipun ia harus meninggalkan orang tua serta gadis yang dicintainya dan diimpikan menjadi istrinya. Ia lalu  pergi ke sebuah negeri yang jauh. Disana ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang sangat miskin. Penganiayaan timbul di negeri itu. Ia ditangkap atas dasar tuduhan palsu, kemudian disiksa dan dibunuh. Dan Tuhan berkata kepadanya: “Baik, hamba yang jujur dan setia! Engkau memberiku pengabdian seharga seribu talenta. Sekarang akan kuberikan kepadamu semiliar, semiliar talenta sebagai ganjaranmu, masuklah dalam sukacita TuhanMu!”.

Tanggapan adiknya atas panggilan Tuhan berubah. Ia ingin melepaskannya supaya dapat meneruskan rencananya serta menikah dengan gadis yang dicintainya. Ia menikmati kebahagiaan hidup berkeluarga, usahanya berkembang pesat, ia menjadi terkenal dan kaya. Kadangkala ia memberi sedekah kepada pengemis, bersikap ramah terhadap istri dan anak-anaknya. Sesekali ia juga mengirim sedikit uang untuk kakaknya yang menjadi misionaris di negeri yang jauh.”Uang ini mungkin dapat membantu karyamu di tengah orang miskin itu”, tulisnya di dalam surat.

Pada saat ia meninggal, Tuhan berkata kepadanya: “Baik, hamba yang jujur dan setia! Engkau memberiku pelayanan seharga sepuluh talenta. Sekarang akan kuberikan ganjaran kepadamu sebesar semiliar,semiliar talenta, masuklah ke dalam suka cita Tuhanmu!”

Kakaknya tercengang-cengang ketika mendengar bahwa adiknya mendapatkan ganjaran yang sama dengannya. Dan ia senang. Katanya: “Tuhan, setelah melihat semua ini, seandainya saya harus lahir dan hidup kembali, saya masih akan melakukan hal yang persis sama dengan yang telah saya perbuat bagi-Mu”.

  1. Siapakah yang awam?

Jawab:  Yang awam adalah adik

  1. Menurut  pandanganmu, manakah lebih luhur, menjadi iman atau menjalankan suatu profesi dalam  masyarakat seperti guru, camat, polisi, pedagang dsb? Jelaskan?

Jawab : cerita diatas ingin mengungkapkan bahwa awam dan peran seorang awam sama luhurnya dengan rohaniwan (hierarki) dan peran seorang rohaniawan. Sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, rohaniwan (hierarki) dan awam memiliki martabat yang sama, hanya berbeda dalam fungsi. Semua fungsi sama luhurnya, asal dilaksanakan dengan motivasi yang baik, demi Kerajaan Allah.

 

  1. E.       SOAL LATIHAN

 

  1. Apa yang kamu ketahui tentang pengertian hierarki?
  2. Jelaskan dasar ditetapkannya hierarki Gereja?
  3. Sebutkan fungsi kepemimpinan dalam Gereja Katolik?
  4. Jelaskan corak kepemimpinan dalam Gereja Katolik?
  5. Terangkan apa yang dimaksud awam dan peranannya dalam gereja?
  6. Jelaskan hubungan awamdan hierarki?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SIFAT – SIFAT GEREJA

  1. A.  KOMPTENTSI
  2. 1.        Standar Kompetensi

Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan  bergereja sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

 

  1. 2.        Kompetensi Dasar

Siswa memahami sifat-sifat Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik, sehingga menjaga keutuhan serta terpanggil untuk merasul dan memperjuangkan kepentingan umum.

 

  1. 3.        Indikator
  2. Mengungkapkan sifat-sifat Gereja yang satu dan kudus.
  3. Menyebutkan usaha memperjuangkan Kesatuan dan Kekudusan Gereja
  4. Mengungkapkan ciri-ciri Gereja yang katolik dan apostolik
  5. Menyebutkan usaha memperjuangkan Kekatolikan dan Keapostolikan Gereja.
  6. Mengungkapkan ciri-ciri Gereja yang dituntut pada zaman ini.

 

 

 

  1. 4.                                                                                                                            Uraian Tujuan

Dengan pelajaran ini kita dapat memahami sifat-sifat Gereja yang satu, Kudus, Katolik, Apostolik sehingga merasa terpanggil untuk menjaga keutuhan Gereja dan memperjuangkan kepentingan umum.

 

  1. B.  RINGKASAN MATERI
  2. 1.      Gereja yang satu
  3. 2.      Gereja yang kudus
  4. 3.      Gereja yang katolik
  5. 4.      Gereja yang apostolic

 

C. PENJELASAN TEORI

  1. 1.         Gereja yang satu.
  • Kesatuan Gereja pertama-tama adalah kesatuan iman (Ef 4:3-6) yang mungkin dirumuskan dan diungkapkan secara berbeda-beda.
  • Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Kesatuan Gereja dimengerti sebagai Bhinneka Tunggal Ika, baik di dalam Gereja Katolik sendiri maupun dalam persekutuan ekumenis. Kesatuan Gereja bukanlah semacam kekompakkan organisasi atau kerukunan social, bukan soal struktur organisasi yang lebih bersifat lahiriah, tetapi Injil Yesus Kristus yang diwartakan, dirayakan, dan dilaksanakan di dalam hidup sehari-hari.
  • Kristus memang mengangkat Petrus menjadi ketua para rasul, supaya kolegialitas para rasul tetap satu dan tidak terbagi. Di dalam diri Petrus, Kristus meletakkan azas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap kelihatan. Kesatuan ini tidak boleh dilihat pertama-tama secara univfersal. Tidak hanya Paus tetapi masing-masing uskup (pemimpin Gereja lokal) menjadi azas dan dasar yang kelihatan dari kesatuan dalam Gereja.
  • Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi dari pihak lain disadari pula bahwa perwujudan konkret harus diperjuangkan dan dikembangkan serta disempurnakan terus menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Kristen supaya mencari “persekutuan” dengan semua saudara seiman.

Singkat kata, Gereja yang satu itu terungkap dalam:

  1.  Kesatuan iman para anggotanya.

Kesatuan iman ini bukan kesatuan yang statis, tetapi kesatuan yang dinamis. Iman adalah prinsip kesatuan batiniah Gereja.

 

  1.  Kesatuan dalampimpinannya, yaitu hierarki

Hierarki mempunyai tugas untuk mempersatukan umat. Hierarki sering dilihat sebagai prinsip kesatuan lahiriah dari Gereja.

  1.  Kesatuan dalam kebaktian dan kehidupan sacramental.

Kebaktian dan sakramen-sakramen merupakan ekspresi simbolis dari kesatuan Gereja itu (Ef 4:3-6)

 

  1. Gereja yang kudus.
  • Dalam hal kekudusan yang pokok bukan bentuk pelaksanaannya, melainkan sikap dasarnya. Kudus berarti “yang dikhususkan bagi Tuhan”.Jadi, pertama-tama “kudus” (suci) itu menyangkut seluruh bidang keagamaan. Yang “Kudus” bukan hanya orang, tempat, atau barang yang dikhususkan bagi Tuhan, tetapi lingkup kehidupan Tuhan. Semua yang lain, orang, waktu, atau tempat disebut kudus karena masuk lingkup kehidupan Tuhan. Yang kudus itu adalah Allah. Gereja menerima kekudusan sebagai anugerah dari Allah dalam Kristus oleh iman. Kekudusan tidak datang dari Gereja, tetapi dari Allah yang mempersatukan Gereja dengan Kristus dalam Roh Kudus. Jadi, kekudusan Gereja tidak terutama diartikan secara moral, tetapi secara teologikal, menyangkut keberadaan dalam lingkup hidup Allah.
  • Perjanjian Baru melihat proses pengudusan manusia sebagai pengudusan oleh Roh Kudus (1 Ptr 1:2). Dikuduskan karena terpanggil (Roma 1:7). Dari pihak manusia, kekudusan (kesucian) hanya berarti tanggapan atas karya Allah itu, terutama dengan sikap iman dan pengharapan. Sikap iman dinyatakan dalam segala perbuatan dan kegiatan kehidupan yang serba biasa. Kesucian bukan soal bentuk kehidupan (seperti biarawati), melainkan sikap yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari. Kekudusan itu terungkap dengan aneka cara pada setiap orang. Kehidupan Gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, yang sama bentuknya untuk semua, melainkan semua mengambil bagian dalam satu kekudusan Gereja yang berasal dari Kristus. Kesucian ini adalah kekudusan yang harus diperjuangkan terus menerus.

Singkatnya: Gereja itu kudus karena sumber dari mana ia berasal, karena tujuan ke mana ia diarahkan, dan karena unsur-unsur Illahi yang otentik yang ada di dalamnya adalah kudus.

  1. Sumber dari mana Gereja berasal adalah kudus. Gereja didirikan oleh Kristus. Gereja menerima kekudusannya dari Kristus dan doa-Nya: “Ya Bapa yang kudus…. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran….” (Yoh 17:11).
  2. Tujuan dan arah Gereja adalah kudus. Gereja bertujuan untuk kemuliaan Allah dan penyelamatan umat manusia.
  3. Jiwa Gereja adalah kudus, sebab jiwa Gereja adalah Roh Kudus sendiri.
  4. Unsur-unsur Illahi yang berada di dalam Gereja adalah kudus, misalnya ajaran-ajaran dan sakramen-sakramennya.
  5. Anggotanya adalah kudus, karena ditandai oleh Kristus melalui pembaptisan dan diserahkan kepada Kristus serta dipersatukan melalui iman, harapan, dan cinta yang kudus. Semuanya ini tidak berarti bahwa anggotanya selalu kudus (suci), namun ada juga yang mencapai tingkat kekudusan yang heroik. Kita semua dipanggil untuk kekudusan (kesucian).

 

  1. 3.            Usaha memperjuangkan Kesatuan dan Kekudusan Gereja.

Gereja itu Ilahi sekaligus insani, berasal dari Yesus dan berkembang dalam sejarah. Gereja itu bersifat dinamis, tidak sekali jadi dan statis. Oleh karena itu, kesatuan dan kekudusan Gereja harus selalu diperjuangkan.

  1. Memperjuangkan kesatuan Gereja.

Kita menyadari bahwa dalam kenyataannya dalam Gereja sering terjadi perpecahan dan keretakan-keretakan. Perpecahan dan keretakan yang terjadi dalam Gereja itu tentu saja disebabkan perbuatan manusia. Allah memang berkenan menghimpun orang-orang yang beriman akan Kristus menjadi Umat Allah (1 Ptr 2:5-10) dan membuat mereka menjadi satu tubuh (1 Kor 12:12). Tetapi, bagaimana rencana Allah itu dilaksanakan oleh setiap orang Kristen?  Semangat persatuan harus selalu dipupuk dan diperjuangkan oleh setiap orang Kristen itu sendiri.

  • Usaha-usaha apa yang dapat kita galakan untuk menguatkan persatuan kita ke dalam?

† Aktif berpartisipasi dalam kehidupan bergereja

† Setia dan taat kepada persekutuan umat, termasuk hierarki,dsb.

  • Usaha-usaha apa yang dapat kita galakan untuk menguatkan persatuan “antar Gereja?”

† Lebih bersifat jujur dan terbuka kepada satu sama lain. Lebih melihat kesamaan daripada perbedaan.

† Mengadakan berbagai kegiatan social dan peribadatan bersama, dsb.

Kesatuan Gereja tidak identik denganuniformitas. Kesatuan Gereja di luar bidang esensial Injili memungkinkan keanekaragaman. Kesatuan harus lebih tampak dalam keanekaragaman.

  1. Memperjuangkan Kekudusan Gereja.

Kekudusan Gereja adalah kekudusan (kesucian) Kristus. Gereja menerima kekudusan sebagai anugerah dari Allah dalam Kristus oleh iman. Kesucian tidak datang dari Gereja, tetapi dari Allah yang mempersatukan Gereja dengan  dalam Roh Kudus. Apa yang dapat kita lakukan untuk memperjuangkan kekudusan anggota-anggota Gereja?

†  Saling memberi kesaksian untuk hidup sebagai putera-puteri Allah.

†  Memperkenalkan anggota-anggota Gereja yang sudah hidup secara heroik untuk mencapai kekudusan.

†  Merenungkan dan mendalami Kitab Suci., khususnya ajaran dan hidup Yesus, yang merupakan pedoman dan arah hidup kita, dsb

 

  1. 4.                                                                                                           Gereja yang Katolik

Katolik berarti universal atau umum, dapat dilihat secara kwantitatif dan kualitatif.

  • Gereja itu katolik karena dapat hidup di tengah-tengah bangsa dan memperoleh warganya dari semua bangsa. Gereja sebagai sakramen Roh Kudus berpengaruh dan berdaya menguduskan serta tidak terbatas pada anggota Gereja saja, melainkan juga terarah kepada seluruh dunia. Dengan sifat katolik ini dimaksudkan Gereja mampu mengatasi keterbatasannya sendiri untuk berkiprah ke seluruh penjuru dunia.
  • Gereja itu katolik karena ajarannya dapat diwartakan kepada segala bangsa dan segala harta kekayaan bangsa-bangsa sejauh itu baik dan luhur. Gereja terbuka terhadap semua kemampuan, kekayaan, dan adat istiadat yang luhur tanpa kehilangan jati dirinya. Sebenarnya, Gereja bukan saja dapat menerima dan merangkum segala sesuatu, tetapi Gereja dapat menjiwai seluruh dunia dengan semangatnya. Oleh sebab itu, yang Katolik bukan saja Gereja universal, melainkan juga setiap anggotanya, sebab dalam setiap jemaat hadirlah seluruh Gereja. Setiap jemaat adalah Gereja yang lengkap, bukan sekedar “cabang” Gereja universal. Gereja setempat merupakan seluruh Gereja yang bersifat katolik.

Singkatnya: Gereja bersifat katolik bearti terbuka bagi dunia, tidak terbatas pada tempat tertentu, bangsa dan kebudayaan tertentu, waktu atau golongan masyarakat tertentu.

Kekatolikan Gereja tampak dalam:

  • Rahmat dan keselamatan yang diwartakannya
  • Iman dan ajaran Gereja yang bersifat umum, dapat diterima dan dihayati oleh siapapun juga.
  1.  Gereja yang apostolik

Gereja yang apostolik berarti Gereja yang berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka, yang mengalami secara dekat peristiwa Yesus. Kesadaran bahwa Gereja dibangun atas dasar para rasul dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru sudah ada sejak zaman Gereja Perdana. Hubungan historis antara Gereja para rasul dan Gereja sekarang tidak boleh dilihat sebagai semacam “estafet”,  ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut apostolic bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelayanannya.  Gereja yang apostolik mengaku diri sama dengan Gereja Perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis itu jangan dilihat sebagai pergantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.

Gereja yang apostolik tidak terpaku pada Gereja Perdana. Gereja tetap berkembang di bawah bimbingan Roh Kudus dan tetap berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma imannya. Hidup Gereja tidak boleh bersifat rutin, tetapi harus dinamis.

Singkat kata: Gereja disebut apostolic karena Gereja berhubungan dengan para rasul yang diutus oleh Kristus. Hubungan itu tampak dalam:

  • Legitimasi fungsi dan kuasa hierarki dari para rasul. Fungsi dan kuasa hierarki diwariskan dari para rasul
  • Ajaran-ajaran Gerejas diturunkan dan berasal dari kesaksian para rasul
  • Ibadat dan struktur Gereja pada dasarnya dari para rasul.

Gereja sekarang sama dengan Gereja para rasul. Bahkan identitas Gereja sekarang mempunyai kesatuan dan kesamaan fundamental dengan Gereja para rasul.

  1. 6.        Mewujudkan Gereja yang katolik dan apostolik
  2. a.       Mewujudkan kekatolikan Gereja.

Gereja bersifat universal dan umum. Ia bersifat terbuka. Oleh sebab itu perlu diusahakan, antara lain.

  • Sikap terbuka dan menghormati kebudayaan, adat istiadat, bahkan agama bangsa manapun.
  • Bekerja sama dengan pihak mana pun yang berkehendak baik untuk mewujudkan nilai-nilai yang luhur di dunia ini
  • Selalu berusaha untuk memprakasai dan memperjuangkan sesuatu dunia yang lebih baik untuk umat manusia.
  • Untuk setiap orang Kristiani diharapkan memiliki jiwa besar dan keterlibatan penuh dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga kita dapat memberi kesaksian bahwa “katolik” artinya terbuka untuk apa saja yang baik dan siapa yang berkehendak baik.
  1. b.       Mewujudkan keapostolikan Gereja

Keapostolikan Gereja bukan merupakan copy dari Gereja para rasul. Gereja sekarang terarah kepada Gereja para rasul sebagai dasar dan permulaan imannya. Pewartaan para rasul dan pernyataan iman mereka terungkap dalam Kitab Suci, maka sifat keapostolikan Gereja tampak terutama dalam kesetiaan kepada Injil. Kesatuan dengan Gereja Purba adalah kesatuan yang hidup, pusatnya adalah Kitab suci dan Tradisi. Secara konkret, tradisi merupakan konfrontasi terus menerus antara situasi konkret Gereja sepanjang masa dan pewartaan Kitab Suci. Gereja harus senantiasa menafsirkan dan mengevaluasi situasi konkret berpangkal pada sikap iman Gereja para rasul.

Jadi, usaha kita untuk keapostolikan Gereja antara lain:

  • Setia dan mempelajari Injil, sebab Injil merupakan iman Gereja para rasul
  • Menafsirkan dan mengevaluasi situasi konkret kita dengan iman Gereja para rasul
  • Selain memiliki sifat Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik, pada zaman ini Gereja juga dituntut memiliki sifat-sifat yang lain, antara lain: Setia dan loyal kepada hierarki sebagai pengganti para rasul

 

 

  1. 7.        Sifat-sifat atau ciri-ciri Gereja yang dituntut pada zaman ini.

 

  1. a.      Gereja yang lebih merakyat dan mengutamakan yang miskin.

Gereja dituntut  lebih merakyat dan mengutamakan orang-orang sederhana dan miskin dan jangan dikuasai oleh mereka yang punya uang dan berpengaruh saja. Yesus sendiri adalah orang yang sederhana dan miskin. Ia memilih para rasul dari kalangan orang sederhana dan miskin. Oleh karena itu, Gereja harus mengutamakan orang-orang sederhana dan miskin, misalnya kaum tani, nelayan, buruh, penganggur, gelandangan dan sebagainya.

Gereja harus menjadi abdi bagi kaum sederhana dan miskin. Ini bukan bearti bahwa Gereja hanya terdiri dari orang-orang sederhana dan miskin, tetapi Gereja harus memilikisemangat kesederhanaan dan kemiskinan. Jika Gereja ingin bergerak maju dengan cepat, maka Gereja jangan terbebani dengan bermacam-macam kekayaan dan kemegahan yang memberatkan langkahnya.

  1. b.   Gereja yang bersifat kenabian.

Nabi bukanlah dukun peramal atau ahli nujum, tetapi nabi adalah seorang yang berani menyampaikan kehendak Allah kepada umat manusia dalam situasi konkret yang dihadapi pada zamannya. Gereja juga memiliki panggilan yang sama dengan nabi, yaitu menyampaikan kehendak Allah dalam situasi konkret yang dihadapinya. Misalnya, Gereja harus berani mengatakan apa yang benar dan apa yang salah. Gereja harus berani mengecam dan menolak segala kebijakan dan tindakan yang melanggar keadilan dan hak azasi manusia, sekalipun hal itu berasal dari orang yang berkuasa dan berpengaruh, terlebih jika kebijakan dan tindakan orang tersebut menekan dan menyengsarakan orang-orang kecil. Jika Gereja berani berbicara terus terang, maka suara dan kehendak Tuhan akan terdengarkan, sebab Tuhan berbicara dan menyampaikan kehendak-Nya melalui manusia.

  1. c.    Gereja yang membebaskan

Gereja harus menjadi tanda keselamatan bagi umat manusia. Penyelamatan bearti juga pembebasan manusia dari segala penderitaan baik penderitaan rohani maupun jasmani. Dalam hal ini, Gereja diutus untuk menyuarakan dan menjadi pelopor terciptanya dunia yang lebih adil, lebih bersaudara, lebih damai, dan bebas dari ketidakadilan.

  1. d.      Gereja yang merupakan ragi

Gereja masa kini hendaknya laksana ragi yang mengembangkan dunia baru. Gereja yang berada di luar dunia, sama seperti ragi yang ditaruh di luar adonan roti. Setiap kelompok orang Kristen sebagai satu Gereja local harus menjadi ragi di tempatnya masing-masing. Ragi yang membangun dunia baru, merombak tembok-tembok yang memisahkan bangsa / manusia yang satu dan yang lainnya.

 

  1. e.         Gereja yang dinamis

Dunia akan selalu berkembang. Oleh karena itu, Gereja harus dapat terus ber-agrionamento, artinya Gereja harus selalu memperbaharui diri sesuai dengan tuntutan zaman. Air yang tergenang biasanya menjadi sarang nyamuk, tempat dan sumber penyakit. Gereja tidak boleh tergenang di tempat, tetapi tetap maju dan aktual melibatkan dirinta dalam masalah-masalah yang selalu baru.

  1. f.         Gereja yang bersifat karismatis

Gereja yang dijiwai Roh Kudus harus dapat memberi hidup secara bebas dan leluasa kepada semua lapisan umat. Gereja yang penuh sesak dengan bermacam-macam peraturan, struktur organisasi, dan tata upacara liturgi akan menjadi Gereja yang kaku dan beku. Roh Allah telah memberikan karunia-karunia kepada setiap orang demi kebaikan bersama. Roh Allah pulalah yang memberikan kebijaksanaan, bakat-bakat dan kemampuan kepada siapa saja untuk kemajuan Gereja.

 

  1. SAJIAN CONTOH

Bacalah kutipan Kitab Suci berikut dengan baik dan cermat !

CARA HIDUP JEMAAT PERDANA (Kis 4: 32 – 37)

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka, karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Pertanyaan:

  1. Apa yang menarik/mengesan dari cara hidup jemaat perdana berdasarkan Kis 4: 32 – 37 ?

Jawab: Yang menarik dari cara hidup jemaat perdana adalah: ada kebersamaan, persahabatan, kesederhanaan, kesetiaan dan ketekunan, semangat berbagi (kesetiakawanan).

 

  1. Menurut Anda apakah cara hidup jemaat perdana itu dapat kita contoh ? Mengapa ?

Jawab: Dapat, karena kita sebagai anggota Gereja yang hidup di jaman ini juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana hidup yang bersahabat, bersifat hidup sederhana, mau saling berbagi. Memang kita tidak dapat menirunya secara harafiah sebab kebersamaan kita dalam hidup menggereja tidak boleh terbatas pada hal-hal rohani, tetapi harus mampu menyentuh segala aspek kehidupan.

 

 

  1. E.     EVALUASI

Soal – soal

  1. Apa artinya Gereja itu Satu dan Kudus?
  2. Apa artinya Gereja hendaknya menghayati kesatuan, bukan uniformitas?
  3. Apa artinya Gereja itu Katolik dan Apostolik?
  4. Bagaimana cara kita mewujudkan kekatolikan kita?
  5. Bagaimana cara kita melestarikan dan mengembangkan Gereja yang Apostolik sesuai tuntutan jaman ini?
  6. Selain sifat-sifat Gereja : Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik, manakah sifat-sifat Gereja yang sungguh dituntut pada zaman ini?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

TUGAS – TUGAS GEREJA

 

  1. A.      KOMPETENSI
  2. 1.    Standar Kompetensi

Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan  bergereja sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

 

  1. 2.    Kompetensi Dasar

Siswa mengenal dan memahami tugas Gereja yang menguduskan, mewartakan, memberi kesaksian dan melayani, sehingga merasa terpanggil untuk terlibat dalam tugas tersebut sesuai dengan kedudukan dan peranannya.

  1. 3.    Indikator
  2. Menjelaskan arti kata liturgi
  3. Menyebutkan bentuk-bentuk pelayanan gereja dalam bidang liturgi
  4. Menyebutkan bentuk-bentuk pewartaan Gereja
  5. Merumuskan bentuk keterlibatan remaja dalam karya pewartaan gereja
  6. Menceritakan tentang contoh martir dalam  gereja serta teladan hidupnya
  7. Menjelaskan bentuk kesaksian yang relevan dengan situasi masyarakat Indonesia yang pluralis
  8. Menyebutkan dasar-dasar pelayanan gereja,ciri-ciri dan bentuk-bentuk pelayanan gereja pada masa kini
  9. Menyusun rencana satu kegiatan pelayanan secara kelompok yang dapat dilaksanakan.

                                                       

  1. 4.    Uraian Tujuan

Pada bagian ini, kita dapat mengenal dan memahami tugas Gereja yang menguduskan, mewartakan, memberikan kesaksian, dan melayani sehingga terpanggil untuk terlibat dalam tugas tersebut sesuai dengan kedudukan dan peranan kita masing-masing.

 

  1. B.  RINGKASAN MATERI

1.Gereja yang menguduskan (Liturgia)

a. doa dan ibadat

b. sakramen-sakramen gereja

c. sakramentali dan devosi

2. Gereja yang mewartakan kabar gembira (Kerygma)

a. mewartakan Injil

b. tugas mewartakan

c. magisterium dan para pewarta sabda

3. Gereja yang menjadi saksi kristus (Martyria)

a. pewartaan lewat kesaksian hidup

b. kesaksian hidup berdarah

4. Gereja yang melayani (diakonia)

a. mendalami makna melayani

b. gereja yang melayani

 

  1. C.  PENJELASAN TEORI
  2. 1.    Gereja yang menguduskan (Liturgia)
  3. DOA DAN IBADAT

Doa dan ibadat merupakan salah satu tugas Gereja untuk menguduskan umatnya dan umat manusia. Tugas ini disebut tugas imamiah Gereja. Apa artinya?

Kristus Tuhan, Imam Agung, yang dipilih dari antara manusia menjadikan umat baru, “kerajaan imam-imam bagi Allah dan Bapa-Nya” (Why 1:6. 5:9-10)  Mereka yang dibaptis dan diurapi Roh Kudus disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci (sebagai orang Kristiani dengan segala perbuatan mereka) mempersembahkan korban rohani dan untuk mewartakan daya kekuatan-Nya!

Oleh sebab itu, Gereja bertekun dalam doa, memuji Allah, dan mempersembahkan diri sebagai korban yang hidup, suci, berkenan kepada Allah. Gereja memiliki imamat umum dan imamat jabatan dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus.

  • Imamat umum melaksanakan tugas pengudusan antara lain dengan berdoa, menyambut sakramen-sakramen, memberikan kesaksian hidup, pengingkaran diri, melaksanakan cinta kasih secara aktif dan kreatif.
  • Imamat jabatan membentuk dan memimpin umat serta memberikan pelayanan sakramen-sakramen.

Jadi, seluruh Gereja diberi bagian dalam imamat Kristus untuk melakukan suatu ibadat rohani demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia.  Yang dimaksudkan dengan ibadat rohani adalah setiap ibadat yang dilakukan dalam Roh Kudus oleh setiap orang Kristiani.  Dalam urapan Roh, seluruh hidup orang Kristiani dapat dijadikan satu ibadat rohani. “Persembahkan tubuhmu sebagai kurban hidup, suci, dan berkenan kepada Allah. Itulah ibadat rohani yang sejati” (Rm 12:1) Dalam arti ini konstitusi Lumen Gentiurm menandaskan: “Semua kegiatan mereka, doa dan usaha kerasulan hidup suami-isteri dan keluarga, kegiatan sehari-hari, rekreasi jiwa raga, jika dilakukan dalam Roh, bahkan kesulitan hidup, bila diderita dengan sabar, menjadi korban rohani, yang dapat diterima Allah dengan perantaraan Yesus Kristus (1 Ptr 2:5). Dalam Perayaan Ekaristi, kurban ini dipersembahkan dengan sangat hikmat kepada Bapa, bersama dengan persembahan Tubuh Tuhan” (Lumen Gentium Art 34). Pandangan ini dapat mengatasi keterpisahan antara hidup dan ibadat di dalam umat. Pengertian mengenai hidup sebagai persembahan dalam Roh dapat memperkaya perayaan Ekaristi yang mengajak seluruh umat, membiarkan diri diikutsertakan dalam penyerahan Kristus kepada Bapa. Dalam pengertian ini, Perayaan Ekaristi sungguh-sungguh merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani.

  1. 1.    1 Arti doa

Doa bearti berbicara dengan Tuhan secara pribadi, doa juga merupakan ungkapan iman secara pribadi dan bersama-sama. Oleh sebab itu, doa-doa Kristiani biasanya berakar dari kehidupan nyata. Doa selalu merupakan dialog yang bersifat pribadi antara manusia dan Tuhan dalam hidup yang nyata ini. Dalam dialog tersebut, kita dituntut untuk lebih mendengar daripada berbicara, sebab firman Tuhan akan selalu menjadi pedoman yang menyelamatkan. Bagi umat Kristiani, dialog ini terjadi di dalam Yesus Kristus, sebab Dialah satu-satunya jalan dan perantara kita dalam berkomunikasi dengan Allah. Perantara ini tidak mengurangi sifat dialog antar pribadi dengan Allah.

Singkatnya:

  • Doa selalu merupakan bentuk komunikasi antara manusia dan Tuhan
  • Komunikasi ini dapat dalam bentuk batin (meditasi) atau lisan (doa vokal)
  • Dalam doa-doa itu diungkapkan “kebesaran “ (kedaulatan-keabsolutan) Tuhan dan ketergantungan manusia pada Tuhan.

Ada macam-macam isi doa: doa permohonan, doa syukur, doa pujian, dsb.

1.2  Fungsi doa

Peranan dan fungsi doa bagi orang Kristiani antara lain:

*  Mengkomunikasikan diri kita kepada Allah

* Mempersatukan diri kita dengan Tuhan

* Mengungkapkan cinta, kepercayaan, dan harapan kita kepada Tuhan

* Membuat diri kita melihat dimensi baru dari hidup dan karya kita sehingga menyebabkan kita melihat hidup, perjuangan dan karya kita dengan mata iman

*Mengangkat setiap karya kita menjadi karya yang bersifat apostolik atau merasul.

  1. 2.    1Syarat dan cara doa yang baik

*  Syarat-syarat doa yang baik:

■ didoakan dengan hati

■ berakar dan bertolak dari pengalaman hidup

■ diucapkan dengan rendah hati

*  Cara-cara berdoa yang baik:

■ Berdoa secara bathiniah “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke  dalam kamar…”, (Mt 6:5-6)

*  Berdoa dengan cara sederhana dan jujur

“Lagi pula dalam doamu janganlah kamu bertele-tele…”(Mt 6:7)

  1. 2.    DOA RESMI GEREJA

Orang Katolik boleh saja berdoa secara pribadi atas nama pribadi dan berdoa bersama dalam suatu kelompok atas nama kelompok. Doa-doa itu tidak mewakili seluruh Gereja. Tetapi ada doa, di mana suatu kelompok berdoa atas nama dan mewakili Gereja secara resmi. Doa kelompok yang resmi itu disebut Ibadat atau Liturgi. Doa itu doa resmi Gereja. Yang pokok bukan sifat “resmi” atau kebersamaan, melainkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa. Dengan demikian, liturgi adalah “karya Kristus, Imam Agung, serta tubuh-Nya, yaitu Gereja”.  Oleh karena itu, liturgi tidak hanya meupakan “kegiatan suci yang sangat istimewa”, tetapi juga wahana utama untuk mengantar umat Kristiani ke dalam persatuan pribadi dengan Kristus.

Liturgi merupakan Perayaan iman. Pernyataan iman tersebut merupakan pengungkapan iman Gereja, di mana orang yang ikut dalam perayaan iman mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan.  Bukan hanya dengan partisipasi lahiriah, tetapi yang pokok adalah hati yang ikut menghayati apa yang diuangkapkan dalam doa. Kekhasan doa Gereja ini merupakan sifar resminya, sebab justru karena itu Kristus bersatu dengan umat yang berdoa. Dengan bentuk yang resmi, doa umat menjadi doa seluruh Gereja yang sebagai mempelai Kristus, berdoa bersama Kristus, Sang Penyelamat, sekaligus tetap merupakan doa pribadi setiap anggota jemaat.

Doa resmi Gereja tidak sama dengan mendaraskan rumus-rumus hafalan doa-doa resmi, melainkan pertama-tama dan terutama adalah pernyataan iman di hadapan Allah. Doa bearti mengarahkan hati kepada Tuhan. Yang berdoa adalah hati, bukan badan. Tetapi untuk doa bersama membutuhkan sedikit keseragaman demi kesatuan doa dan pengungkapan iman.

Ibadat resmi Gereja tampak dalam ibadat pagi, ibadat siang, ibadat sore, ibadat malam, dan ibadat bacaan. Yang pokok dalam doa bukan sifat “resmi” atau kebersamaan, mealinkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa.

  1. 3.    SAKRAMEN-SAKRAMEN GEREJA

Doa dan ibadat liturgi sebagai sarana pengudusan umat dalam kesatuan dengan Kristus berlaku secara istimewa untuk upacara-upacara liturgi yang disebut sakramen. Boleh dikatakan, tujuh sakramen merupakan liturgi dalam arti yang paling penuh.

  1. 1.    Arti dan Makna Sakramen
  2. a.    Sakramen adalah lambang atau simbol

Dalam hidup sehari-hari kita banyak mengenal benda atau perbuatan yang pada hakikatnya punya makna dan arti yang jauh lebih dalam daripada benda atau perbuatan itu sendiri (arti yang biasa). Misalnya, seorang ditraktir pada hari ulang tahun, tidak pertama-tama hanya sekedar makan dan minum biasa. Perbuatan itu mengandung arti yang jauh lebih dalam daripada sekedar makan dan minum biasa. Makan bersama dalam situasi semacam itu mengungkapkan rasa cinta, penghargaan, dan persahabatan. Dalam arti yang hampir sama dan sejalan, kita perlu mengerti tentang sakramen-sakramen Gereja. Sakramen Gereja Katolik melambangkan dan mengungkapkan karya penyelamatan Allah dan pengalaman dasariah yang terselamatkan.

  1. b.   Sakramen mengungkapkan karya Tuhan yang menyelamatkan.

Jika kita memperhatikan karya Allah dalam sejarah keselamatan akan tampak hal-hal ini: Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan dalam Yesus Kristus. Dalam Yesus Kristus orang dapat melihat, mengenal, mengalami siapa sebenarnya Allah itu. Namun, Yesus sekarang sudah dimuliakan, Ia tidak kelihatan lagi. Ia hadir secara rohani di tengah kita. Melalui Gereja-Nya, Ia menjadi kelihatan. Maka, Gereja adalah alat dan sarana penyelamatan, di mana Kristus tampak untuk menyelamatkan manusia. Gereja menjadi alat dan sarana penyelamatan, justru dalam kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, tindakan dan kata-kata yang disebut sakramen. Sakramen-sakramen adalah “tangan Kristus” yang menjamah kita, merangkul kita, dan menyembuhkan kita. Meskipun yang tampak di mata kita, yang bergaung di telinga kita hanya hal-hal atau tanda-tanda biasa, namun Kristuslah yang berkarya lewat tanda-tanda itu. Dengan perantaraan para pelayan-Nya, Kristus sungguh aktif berkarya dalam umat Allah.

  1. c.    Sakramen meningkatkan dan menjamin mutu hidup kita sebagai orang Kristiani.

Perlu disadari bahwa sakramen-sakramen itu erat sekali hubungannya dengan kenyataan hidup sehari-hari. Dalam hidup sehari-hari orang membutuhkan bantuan. Sementara kualitas dan mutu hidup manusia makin melemah, banyak orang yang jatuh dalam dosa, banyak orang yang butuh peneguhan dan kekuatan. Pada saat itulah kita dapat mendengar suara Kristus yang bergaung di telinga kita: “Aku tidak menghukum engkau, pulanglah dan jangan berdosa lagi….”

Singkatnya, sakramen-sakramen adalah cara dan sarana bagi Kristus untuk menjadi “tampak” dan dengan demikian dapat dialami oleh manusia dewasa ini.  Sakramen-sakramen itu tidak bekerja secara otomatis. Sakramen sebagai “tanda” kehadiran Kristus menantikan sikap pribadi (sikap batin) dari manusia. Sikap batin itu ialah iman dan kehendak baik.

Perayaan sakramen adalah suatu “Pertemuan” antara Kristus dan manusia. Oleh karena itu, meski tidak sama tingkatnya, peran manusia (sikap iman) sangat penting. Walaupun Kristus mahakuasa, Ia tidak akan menyelamatkan orang yang memang tidak mau diselamatkan atau yang tidak percaya.

 

  1. 2.    Ketujuh Sakramen
  2. a.    Sakramen Permandian (tanda iman)

Jika seseorang secara resmi menyatakan tobat dan imannya kepada Yesus Kristus, serta bertekad untuk bersama umat ikut serta dalam tugas panggilan Kristus, maka ia diterima dalam umat dengan upacara, yang disebut sakramen Permandian/Baptis. Kenyataan yang lebih dalam ialah bahwa orang yang menerima sakramen permandian diterima oleh Kristus menjadi anggota tubuh-Nya, Umat Allah (Gereja)

Orang tersebut laksana baru lahir di dalam Gereja. Peristiwa kelahiran baru menjadi putera Bapa dalam Roh Kudus bearti bahwa selanjutnya ia ikut menghayati hidup Kristus sendiri yang ditandai oleh wafat dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, orang yang telah dipermandikan harus bersama Kristus “mati bagi dosa” supaya dalam Kristus, ia hidup bagi Allah. Kebenaran itu diperagakan, dirayakan, dan dilambangkan dalam peristiwa pencurahan air pada dahinya, sementara wakil umat (Imam) mengatakan: “Aku mempermandikan engkau dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus”.  Dengan permandian, mulailah babak baru dalam hidup seseorang. Kristus sendiri menjiwai dia melalui Roh-Nya, maka segala pelanggaran dan dosa yang telah diperbuatnya dihapus.

  1. b.   Sakramen Penguatan (tanda kedewasaan)

Bagi orang dewasa, sakramen penguatan sebetulnya merupakan bagian dari sakramen permandian. Orang yang telah dipermandikan ditandai dengan minyak (krisma), tanda kekuatan Roh Kudus, sebelum diutus untuk memperjuangkan cita-cita Kristus dalam Gereja dan masyarakat. Sakramen Penguatan menjadi tanda kedewasaan, maka orang yang menerima sakramen penguatan turut serta bertanggungjawab atas kehidupan Umat Allah.

  1. c.    Sakramen tobat

Selama hidup di dunia, kita tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Kita hidup dalam “situasi dosa”. Situasi dosa ini merasuki diri kita dan masyarakat kita sedalam-dalamnya.  Perjuangan untuk tetap teguh berdiri, tidak berdosa, memang merupakan proses perjuangan yang tidak kunjung selesai. Oleh karena itu, usaha untuk bangun lagi sesudah jatuh, berbaik lagi dengan Tuhan dan sesama, merupakan unsur yang hakiki dan harus selalu ada dalam hidup kita.

Para pengikut Kristus perlu bertobat dan membaharui diri secara terus menerus di hadapan Tuhan dan sesamae. Tanda pertobatan di hadapan Tuhan dan sesama itu diterima dalam perayaan sakramen tobat. Seseorang yang melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan kehendak Tuhan bearti dia memisahkan diri dari Tuhan dan sesama. Selama kesalahan berat belum diampuni, ia tidak dapat ikut serta dalamibadat umat secara sempurna. Ia ibarat cabang yang mati dari sebuah tanaman. Agar ia diterima kembali menjadi anggota umat yang hidup, dia harus bertobat dan menghadapi wakil umat (pastor) untuk mendapatkan pengampunan.  Tobat sejati menuntut agar kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan itu diperbaiki.

  1. d.   Sakramen Ekaristi/Misa (tanda kesatuan)

Pada malam menjelang sengsara-Nya, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk merayakan hari kemerdekaan bangsanya (Paskah) sesuai dengan adat istiadat Yahudi. Pada Perjamuan Paskah itu, Yesus mengambil roti (makanan sehari-hari orang Yahudi), memecahkannya, dan membagi-bagikan roti itu seraya berkata: “Makanlah roti ini, karena inilah Tubuh-Ku yang dikorbankan bagimu”. (Tubuh adalah tanda kehadiran Yesus yang tersalib yang dikorbankan bagi kita). Kemudian, Yesus mengambil sebuah cawan (piala) berisi air anggur sambil berkata: “Minumlah semua dari cawan ini, karena inilah darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal yang diadakan dengan kalian dan semua manusia demi pengampunan dosa” (Darah menjadi tanda hidup. Jadi, kalau Yesus memberikan darah-Nya bearti Ia menyerahkan diri-Nya seluruhnya untuk kita.

Kata-kata Yesus mengungkapkan wafat-Nya. Injil Mateus dan Markus menambahkan bahwa “darah-Nya ditumpahkan….”, yang bearti Ia dipersembahkan sebagai korban persembahan. Jadi, roti dan anggur menyatakan bagaimana Yesus mati (menumpahkan darah). Kemudian disebut juga, mengapa Ia harus mati, yaitu demi pengampunan dosa-dosa. Yesus kemudian berkata: Kenangkanlah Aku dengan merayakan Perjamuan ini”. Maka sejak zaman para rasul, umat Kristen suka berkumpul untuk bersyukur kepada Allah Bapa yang membangkitkan Yesus dari alam maut dan menjadikannya Tuhan dan Penyelamat.

 

 

 

Berkumpul di sekitar meja Altar untuk menyambut Kristus dalam sabda dan perjamuan-Nya meupakan kehadiran Gereja yang paling nyata dan penuh; ungkapan yang paling konkret dari persatuan umat dan Tuhan serta persatuan para anggotanya.

  1. e.    Sakramen Perminyakan Orang Sakit.

Jika seorang anggota umat sakit keras, keprihatinan Tuhan diungkapkan dengan sakramen perminyakan orang sakit. Kristus menguatkan si sakit dengan Roh Kudus-Nya yang ditandakan dengan minyak suci. Dengan demikian, si sakit dibuat siap dan tabah untuk menerima apa saja dari tangan Allah yang mencintai kita, baik dalam kesembuhan maupun dalam maut. Dengan menderita seperti Kristus, si sakit menjadi lebih serupa dengan Kristus.

  1. f.     Sakramen Pernikahan

Membangun keluarga merupakan kejadian yang sangat penting dalam hidup seseorang. Tentu usaha sepenting ini tidak di luar perhatian Kristus serta umat-Nya. Maka Kristus sendiri hadir dalam cinta mereka antar suami-isteri. Cinta mereka menjadi tanda dari cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Kristus menguduskan cinta insani menjadi alat dan sarana keselamatan abadi. Umat Kristen merestui dan menyertai pengantin dalam keputusan mereka yang sangat penting. Di hadapan umat, kedua mempelai berjanji satu sama lain untuk setia dan cinta, baik dalam suka maupun duka, selama hayat dikandung badan. Allah sendiri menjadi penjamin kesetiaan, maka apa yang disatukan Allah jangan diceraikan oleh manusia. Sakramen Perkawinan berlangsung selama hidup dan mengandung panggilan luhur untuk membina keluarga sebagai tanda kasih setia Allah bagi setiap insan. Kristus mendampingi suami isteri untuk membina cinta yang semakin dalam dan untuk mendidik anak menjadi warga Gereja dan warga masyarakat yang berguna dan untuk membangun keluarga Katolik yang baik pula. Suami-isteri yang hidup dalam perkawinan Katolik dipanggil pula untuk member kesaksian kepada dunia tentang cinta Allah kepada umat manusia melalui cinta suami-isteri. Hidup cinta mereka menjadi tanda (sakramen) cinta Allah kepada manusia.

  1. g.    Sakramen Imamat

Umat membutuhkan pelayan-pelayan yang bertugas menunaikan berbagai tugas pelayanan di tengah umat demi kepentingan dan perkembangan umat dalam hidup beriman dan bermasyarakat. Pelayanan-pelayanan itu juga berfungsi untuk mempersatukan umat, membimbing umat dengan berbagai cara demi penghayatan iman pribadi dan bersama;membantu melancarkan komunikasi iman demi tercapainya persekutuan umat, persekutuan iman. Pelantikan para pelayan ini dirayakan, disahkan dan dinyatakan dalam tahbisan (Sakramen Imamat).

  1. 3.                  Sakramentali dan Devosi dalam Gereja.

Sakramentali dan devosi merupakan bentuk dan kegiatan lain dari bentuk dan kegiatan pengudusan dalam Gereja.

  1. a.    Sakramentali

Selain ketujuh sakramen di atas, Gereja juga mengadakan tanda-tanda suci (berupa ibadat/upacara/pemberkatan) yang mirip dengan sakramen-sakramen yang disebut sakramentali. Berkat tanda-tanda suci ini berbagai buah rohani ditandai dan diperoleh melalui doa-doa permohonan dengan perantaraan Gereja.

  • Pemberkatan , yakni pemberkatan orang, benda/barang rohani, tempat, makanan, dsb. Contoh: pemberkatan ibu hamil atau anak, alat-alat pertanian, mesin pabrik, alat transfortasi, rumah, patung, Rosario, makanan, dsb. Pemberkatan atas orang atau benda/barang tersebut adalah pujian kepada Allah dan doa untuk memohon anugerah-anugerah-Nya.
  • Pemberkatan dalam arti tahbisan rendah, yakni pentahbisan orang dan benda. Contoh: pentahbisan/pemberkatan lektor, akolit, dan katekis, pemberkatan benda atau tempat untuk keperluan liturgi, misalnya pemberkatan gereja/kapel, altar, minyak suci, lonceng, dan sebagainya.
  1. b.   Devosi

Devosi (Latin: devotion=penghormatan) adalah bentuk-bentuk penghormatan/kebaktian khusus orang atau umat beriman kepada rahasia kehidupan Yesus yang tertentu, misalnya kesengsaraan-Nya, hati-Nya Yang Mahakudus, Sakramen Mahakudus, dsb. Atau devosi kepada orang-orang kudus, misalnya devosi kepada santo-santa pelindung, devosi kepada Bunda Maria dengan berdoa Rosario atau mengunjungi tempat-tempat ziarah (mis: Sendangsono) pada bulan Mei atau Oktober dsb.  Segala macam bentuk devosi ini bersifat sukarela (tidak mengikat/tidak wajib) dan harus bertujuan untuk semakin menguatkan iman kita kepada Allah dalam diri Yesus Kristus.

  1. 4.    Gereja yang mewartakan (Kerygma)
  2. TUGAS MEWARTAKAN

Dalam diri Yesus dari Nasareth, sabda Allah tampak secara konkret manusiawi. Penampakan itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan sabda Allah. Tetapi oleh karena sabda itu sudah menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak dapat tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk mempertahankan hasilnya bagi semua orang, sabda itu harus menciptakan bentiuk-bentuk lain, yang di dalamnya sabda itu dapat hadir dan berbiacara.

Ada tiga bentuk sabda Allah dalam Gereja, yaitu:

  1. Sabda/pewartaan para rasul sebagai daya yang membangun Gereja
  2. Sabda Allah dalam Kitab Suci
  3. Sabda Allah dalam pewartaan aktual Gereja sepanjang zaman

Tiga bentuk pewartaan tersebut di atas saling berhubungan satu sama lain. Pewartaan aktual Gereja masa kini berdasarkan dan merupakan kesinambungan dari pewartaan para rasul dan pewartaan Kitab Suci yang diwariskan kepada kita. Ada perbedaan antara sabda Allah dalam ajaran para rasul dan Alkitab dan sabda Allah dalam pewartaan aktual Gereja. Oleh karena wahyu selesai dengan kematian para rasul, maka dasar normatif juga sudah diletakkan. Segala pewartaan selanjutnya tergantung pada norma itu. Tugas pewartaan tidak lain adalah mengaktualisasi  apa yang disampaikan Allah dalam Kristus sebagaimana diwartakan para rasul. Dengan demikian, sabda Allah sungguh datang kepada manusia dan menyelamatkan mereka yang mendengarkan dan melaksanakan pewartaan Gereja.

Pewartaan sabda Allah oleh Gereja bukan hanya sekedar informasi mengenai Allah dan Yesus Kristus, melainkan sungguh-sungguh menghadirkan Kristus yang mulia. Di dalamnya Kristus menyelamatkan, menyembuhkan hati dari setiap orang yang mendengar dan membuka diri terhadap sabda yang disampaikan Itu. Kristus membebaskan kita dari dosa melalui sabda-Ny

  1. 1.    Dua Pola Pewartaan

Dalam mewartakan sabda Allah, kita dapat mewartakannya secara verbal melalui kata-kata (kerygma), tetapi juga dengan tindakan (martyria).

  1. Pewartaan Verbal (kerygma)

Pewartaan Verbal pada dasarnya merupakan tugas Hierarki, tetapi para awam diharapkan untuk berpartisipasi dalam tugas ini, misalnya sebagai katekis, guru agama, fasilitator pendalaman Kitab Suci. Bentuk-bentuk pewartaan ini antara lain: Kotbah atau Homili, Pelajaran Agama, Katekese Umat, Pendalaman Kitab Suci, dsb.

  1. Pewartaan dalam bentuk kesaksian (martyria)

Pewartaan dalam bentuk kesaksian ini pada dasarnya lebih dipercayakan kepada para awam. Setiap orang Kristiani dalam hidupnya diharapkan dapat menjadi garam dan terang dalam masyarakat.

  1. 2.        Dua tuntutan dalam Pewartaan.

Tugas pewartaan adalah mengaktualisasi sabda Tuhan yang disampaikan dalam Kristus sebagaimana diwartakan para rasul. Usaha pengaktualisasi sabda Tuhan itu mengandaikan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi. Tuntutan tersebut antara lain:

  1. Mendalami dan menghayati sabda Tuhan.

Orang tidak dapat mewartakan sabda Allah dengan baik, jika iasendiri tidak mengenal dan menghayatinya. Oleh sebab itu, kita hendaknya cukup mengenal, mengetahui, dan menghayati isi Kitab Suci, ajaran-ajaran resmi Gereja, dan keseluruhan tradisi Gereja, baik Gereja Universal maupun Gereja local. Kita hendaknya membekali diri dengan berbagai bacaan, penataran, dan macam-macam pembekalan lainnya.

  1. Mengenal umat / masyarakat konteksnya

Pengenalan latar belakang dari orang-orang yang kepadanya sabda Allah akan disampaikan tentu sangat penting. Kita harus mengenal jiwa dan budaya mereka. Dengan kata lain, pewartaan kita harus sungguh menyapa para pendengarnya, harus inkulturatif.  Karena itu, pengenalan dan kepekaan terhadap lingkup budaya seseorang atau masyarakat sangat dibutuhkan. Pengenalan akan lingkup budaya dapat kita timba dari berbagai bacaan dan keterlibatan kita yang utuh kepada manusia dan budayanya. Kita hendaknya “menyatu dengan mereka yang kepadanya kita akan mewartakan kabar gembira itu

  1. MAGISTERIUM DAN PARA PEWARTA SABDA
    1. 1.                        Magisterium atau wewenang mengajar.

Di dalam Gereja ada istilah yang berkaitan dengan tugas pewartaan, yaitu magisterium. Kata ini dapat diterjemahkan dengan wewenang mengajar. Magisterium adalah kuasa mengajar dalam Gereja. Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja, sebab pimpinan Gereja inilah yang disebut magisterium. Namun, “wewenang mengajar” tidak bearti bahwa dalam pewartaan hanya hierarki yang aktif,sedangkan yang lain tinggal menerima dengan pasif. Dalam pewartaan, hierarki bertugas menjaga kesatuan iman dan ajaran. Menjaga kesatuan iman dan ajaran tidak bearti indoktrinasi, melainkan konsultasi.

Hierarki adalah pengajar otentik (yang mengemban kewibawaan Kristus) tentang perkara iman dan kesusilaan; mereka memaklumkan ajaran Kristus tanpa dapat sesat. Ciri tidak dapat sesat itu atas kehendak Penebus Ilahi dimiliki oleh Gereja-Nya dalam menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan ada pada imam agung di Roma, kepala Dewan Para Uskup, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, menetapkan ajaran iman atau kesusilaan dengan tindakan defenitif. Sifat tidak dapat sesat itu ada pula pada badan para uskup, bila mereka melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan pengganti Petrus.

Untuk itu ada empat syarat yang harus dipenuhi, yakni:

  • Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan
  • · Ajaran itu harus bersifat ajaran otentik, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawaan Kristus
  • · Ajaran itu dinyatakan dengan tegas atau definitif (tidak dapat diganggu gugat)
  • · Disepakati bersama (sejauh hal ini menyangkut pernyataan para uskup sebagai dewan).
  1. 2.    Para pewarta Sabda

Tugas pewarta itu tidak ringan. Sama seperti para nabi dan Kristus sendiri, tugas mendirikan umat Kristen meminta seluruh eksistensi si pewarta. Sebagai pewarta tentang Yesus ia harus mengambil bagian dalam nasib Yesus. “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2 Kor 4:10).  Jadi, harus ada penyesuaian eksistensi antara pewarta dan Dia yang diwartakan. Dalam penyesuaian itu, Kristus dan sabda Allah dimaklumkan dengan perkataan dan seluruh eksistensi pewarta.

Menjadi pewarta meupakan satu panggilan. Oleh karena itu, seorang pewarta harus:

  • Dekat dengan yang diwartakannya
  • Menjadi senasib dengan yang diwartakannya
  • Berani menanggung derita seperti yang diwartakannya
  • Siap untuk diutus dan “diserahkan” kepada umat yang mendengar pewartaannya
  • Memiliki komitmen utuh kepada umat.

 

Siapakah para pewarta itu?

Kita semua harus menjadi pewarta sabda. Karena sakramen baptis dan pengurapan, kita menjadi anggota Gereja dan sekaligus terlibat dalam misi Gereja. Salah satu misi Gereja yang paling penting adalah mewartakan sabda Allah. Mereka yang secara khusus melibatkan diri secara agak penuh ke dalam tugas pewartaan ini adalah: Para Pengkotbah, para Katekis, para Guru Agama.

  1. 3.    Gereja yang menjadi Saksi (Martyria)
  2. PEWARTAAN LEWAT KESAKSIAN HIDUP

Kata “saksi” sering diartikan:

  1. Orang yang melihat atau mengetahui sendiri suatu peristiwa (kejadian)
  2. Orang yang diminta hadir pada suatu peristiwa untuk mengetahuinya agar suatu ketika apabila diperlukan dapat memberikan keterangan yang membenarkan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi.

 

Dari kedua arti tersebut tampak bahwa “saksi” menunjuk pada personal atau pribadi seseorang. Pribadi yang “mengetahui” atau “mengalami” dan “mampu memberikan keterangan yang benar”.

Menjadi saksi Kristus bearti menyampaikan atau menunjukkan apa yang dialami dan diketahuinya tentang Kristus kepada orang lain. Penyampaian, penghayatan, atau pengalamannya itu dapat dilaksanakan melalui kata-kata, sikap, dan tindakan nyata.

Injil pertama-tama diwartakan dengan kesaksian, yakni diwartakan dengan tingkah laku dan peri hidup. Gereja juga mewartakan Injil kepada dunia dengan kesaksian hidupnya yang setia kepada Tuhan Yesus.  Para murid memang dipanggil supaya mereka menjadi saksi-Nya mulai dari Yerusalem yang kemudian berkembang ke seluruh Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Pada waktu itu yang dimaksud dengan ujung bumi adalah Roma. Dengan sampainya pewartaan Injil di Roma, maka diyakini bahwa pewartaan Injil juga akan sampai ke ujung bumi, seluruh dunia.

Bagi kita sekarang menjadi saksi Kristus mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi bearti menjadi saksi Kristusmulai dari rumah/keluarga, sanak saudara, tetangga, lingkungan sekolah sampai ke ujung di mana hidup kita nanti berakhir. Sabda Yesus itu menunjukkan tugas pokok yang harus dilaksanakan para pengikut-Nya. Dalam sejarah Gereja, kita tahu bahwa banyak orang telah merelakan dirinya menjadi saksi Kristus. Ingat saja sejarah mengenai para misionaris. Pewartaan dalam bentuk kesaksian hidup mungkin sangat relevan bagi kita di Indonesia. Kita hidup di tengah bangsa yang sangat majemuk dalam kepercayaan dan budayanya. Pewartaan verbal mungkin kurang simpatik dibandingkan dengan pewartaan lewat doalog, termasuk dialog hidup, di mana kita mewartakan iman kita melalui kesaksian hidup kita. Kita dapat menunjukkan hidup kita yang penuh cinta kasih dan persaudaraan ditengah situasi yang sarat dengan permusuhan, kekerasan, dan terror. Kita dapat menunjukkan hidup yang bersemangat solider di tengah suasana hidup yang serakah dan korup karena didorong oleh nafsu kepentingan diri atau golongan.

 

 

 

  1. KESAKSIAN HIDUP BERDARAH

Menjadi saksi Kristus ternyata dapat menuai banyak resiko. Yesus telah berkata: “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” (Yoh 16:2). Yesus sendiri telah menjadi martir. Ia menderita dan wafat di salib demi Kerajaan Allah. Dalam sejarah, kita juga tahu banyak orang telah bersedia menumpahkan darahnya demi imannya akan Kristus dan ajaran-Nya. Mereka itulah para martir. Mereka mati demi imannya kepada Kristus. Ada yang bersedia mati daripada harus menghianati imannya akan Kristus. Ada pula martir yang mati karena memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi orang-orang yang tertindas. Contoh yang paling jelas untuk itu adalah para santo / santa (para martir)

  1. 4.    Gereja yang Melayani (Diakonia)

Yesus mengenal struktur masyarakat feudal pada zaman-Nya, yakni adanya kelas-kelas dan tingkat-tingkat dalam masyarakat. Tetapi, Yesus berkata “tidaklah demikian di antara murid-murid-Nya” Mereka harus memiliki sikap yang lain, yakni sikap melayani. Sesudah membasuh kaki murid-murid-Nya pada malam Perjamuan Terakhir, Yesus pernah berkata: “Jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki”. (Yoh 13:13-14). “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. (Mrk 10:45). Iutulah sikap yang diharapkan oleh Kristus terhadap murid-murid-Nya.

Semangat pelyananan itu harus diteruskan di dalam Gereja-Nya. Hal itu ditekankan lagi oleh Konsili Vatikan II. Tugas kegembalaan atau kepemimpinan dalam Gereja adalah tugas pelayanan.

  1. 1.    Dasar Pelayanan dalam Gereja.

Dasar pelayanan dalam Gereja adalah semangat pelayanan Kristus sendiri. Barangsiapa menyatakan diri murid, “ia wajib hidup sama seperti hidup Kristus” (1 Yoh 2:6). Yesus yang “mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:7) tidak ada artinya jika para murid-Nya  mengambil rupa para penguasa. Pelayanan beaerti mengikuti jejak Kristus. Perwujudan iman Kristiani adalah pelayanan. Yesus bersabda: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Lk 17:10)

Pelayanan Kristiani adalah sikap pokok para pengikut Yesus. Dengan kata lain, melayani adalah tanggung jawab setiap orang Kristiani sebagai konsekuen dari imannya. Dengan demikian, orang Kristen tidak hanya bertanggung jawab terhadap Allah dan Putera-Nya, Yesus Kristus, tetapi juga bertanggung jawab terhadap orang lain dengan menjadi sesamanya.

  1. 2.                       Ciri-ciri Pelayanan Gereja.

Ciri pelayanan Gereja dapat disebut antara lain:

 

  1. Bersikap sebagai pelayan

Yesus menyuruh para murid-Nya selalu bersikap sebagai “yang paling rendah dari semua dan sebagai pelayan dari semua” (Mrk 9:35). Yesus sendiri memberi teladan dan menerangkan bahwa demikianlah kehendak Bapa. Menjadi pelayan adalah sikap iman yang radikal.

  1. Kesetiaan kepada Kristus sebagai Tuhan dan Guru

Ciri religius pelayanan Gereja ialah menimba kekuatannya dari sari teladan Yesus Kristus.

 

  1. Orientasi pelayanan Gereja terutama ditujukan kepada kaum miskin.

Dalam usaha pelayanan kepada kaum miskin janganlah mereka menjadi obyek belas kasihan. Pelayanan bearti kerja sama, di dalamnya semua orang merupakan subyek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harkat, martabat, harga diri, bukan kemajuan dan bantuan spiritual ataupun sosial, yang hanyalah sarana. Tentu sarana-sarana adalah juga penting, dan tidak dapat ditinggalkan begitu saja, namun yang pokok adalah sikap pelayanan itu sendiri.

  1. Kerendahan hati

Dalam pelayanan, Gereja (kita) harus tetap bersikap rendah hati. Gereja tidak boleh berbangga diri, tetapi tetap melihat dirinya sebagai “hamba yang tak berguna” (Lk 17:10)

  1. 3.        Bentuk-bentuk Pelayanan Gereja

Pelayanan Gereja dapat bersifat ke dalam, tetapi juga ke luar. Pelayanan ke dalam adalah pelayanan untuk membangun jemaat. Pelayanan ini pada dasarnya dipercayakan kepada hierarki, namun awam pun diharapkan berpartisipasi di dalamnya, misalnya dengan melibatkan diri dalam kepengurusan Dewan Keuskupan, Dewan Paroki, Pengurus Wilayah/Lingkungan, dsb.

Pelayanan keluar yang lebih difokuskan adalah pelayanan demi kepentingan masyarakat luas. Bentuk-bentuk pelayanan Gereja Katolik Indonesia untuk masyarakat luas antara lain:

  1. Pelayanan di bidang kebudayaan dan pendidikan

Di bidang budaya, Gereja berusaha melestarikan budaya asli yang bernilai. Di bidang pendidikan, Gereja berupaya membangun sekolah-sekolah untuk pendidikan formal, tetapi juga membangun kursus-kursus ketrampilan yang berguna.

  1. Pelayanan Gereja di bidang kesejahteraan

Di bidang ekonomi, Gereja mendirikan lembaga-lembaga social ekonomi yang memperhatikan dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil. Di bidang kesehatan, Gereja mendirikan rumah-rumah sakit dan poliklinik untuk memperbaiki dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

  1. Pelayanan Gereja di bidang politik dan hukum

Di bidang politik, Gereja dengan tugas nabiahnya  menyerukan supaya diciptakan situasi politik dan hukum yang berorientasi pada kepentingan rakyat banyak. Gereja mengajak umatnya untuk berpartisipasi dalam politik lewat partai-partai dan oramas yang mengutamakan kepentingan rakyat.

  1. C.  SAJIAN CONTOH

Nyanyikanlah lagu dari madah Bakti no. 455 dan resapkanlah!

JADILAH SAKSI KRISTUS

Sesudah dirimu diselamatkan                         jadilah saksi Kristus

Cahaya hatimu jadi terang                                          jadilah saksi Kristus

Tujuan hidupmu jadi nyata                                         jadilah saksi Kristus

 

Bagi yang ditimpa azab duka                         jadilah saksi Kristus

Bagi yang dilanda putus asa                           jadilah saksi Kristus

Bagi yang didera kegagalan                            jadilah saksi Kristus

 

Dimana tiada perhatian                                               jadilah saksi Kristus

Dimana tiada kejujuran                                               jadilah saksi kristus

Dimana ada sahabat bermusuhan                                jadilah saksi kristus

 

Dalam memaafkan kawan lama                                  jadilah saksi Kristus

Dalam menggagahkan persatuan                                jadilah saksi Kristus

Dalam meluaskan kerja sama                          jadilah saksi Kristus

 

Dalam membangunkan masyarakat                jadilah saksi Kristus

Dalam meningkatkan nasib rakyat                              jadilah saksi Kristus

Dalam membagikan seluruh semangat                        jadilah saksi Kristus

 

Langkah-langkah pembentukan konsep pembentukan kekhasan dan keunikan masing-masing pribadi;

  1. Mengapa dalam setiap kegiatan bermasyarakat kita harus menjadi saksi kristus?

Jawab: karena tugas kita adalah mewartakan kabar gembira pada orang lain.

  1. Apakah ada pesan dari penulis lagu diatas untuk kehidupan anda?

Jawab: ada. Yaitu. Jadilah dirimu sebagai saksi Kristus!

 

 

 

 

  1. D.  EVALUASI
  2. Jelaskan secara singkat arti liturgi1
  3. Sebutkan bentuk-bentuk pelayanan gereja dalam bidang liturgi!
  4. Jelaskan bentuk-bentuk pewartaan Gereja!
  5. Bagaimana menerangkan bentuk keterlibatan remaja dalam karya pewartaan gereja!
  6. Buatlah contoh cerita tentang martir dalam gereja serta teladan hidupnya?
  7. Jalaskan bentuk kesaksian yang relevan dengan situasi bangsa indonesia yang pluralis!
  8. Sebutkan dasar-dasar pelayanan gereja dengan ciri-cirinya pada masa kini!
  9. Buatlah rencana satu kegiatan pelayanan secara kelompok yang dapat dilaksanakan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

Alkitab

Komkat KWI. 1996. Iman Katolik.Yogyakarta: Kanisius

Dokumentasi dan Penerangan KWI. Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium

Dianme Bergant CSA dan Robert J. Karris OFM, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru

Ansel Meo SVD dan Kons Beo SVD. Memahami Awam dan Kerasulannya

Katekismus Gereja Katolik. Ende: Percetakan Arnoldus,

Rm P. Suewito, Pr. 2003. BidangKesaksian.Malang: Penerbit Dioma

Ensiklopedi Orang Kudus.Jakarta: Penerbit CLC

Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes

Tom Jakob, SJ. 1987.Gereja Menurut Vatikan II, Yogyakarta:Kanisius

Michael J. Schultheis SJ,P. de Berri, Peter Henriot SJ. 1988.Pokok-pokok Ajaran Sosial Gereja. Yogyakarta: Kanisius

  1. Heuken SJ. 1998.Sembilan Bulan Pertama Dalam Hidupku, CLC.

K. Bertens. 2002.Aborsi Sebagai Masalah Etika. Jakarta: Gramedia

Yayasan Kasih Mulia. Jangan Biarkan Mereka Terpuruk

Ditjen Bimas Katolik. 2000.Brosur Napza – Narkoba

Syaiful W. Harahap. Kapan Anda Harus Tes HIV

 

 

 

Power Point Pendidikan Agama Katolik

1. RPP Power Point Kelas X Pelajaran 1

2. RPP Power Point Kelas X Pelajaran 2

3. RPP Power Point Kelas X Pelajaran 3

4. RPP Power Point Kelas X Pelajaran 4

5. RPP Power Point Kelas X Pelajaran 6

Bertemu Tuhan dalam keheningan

Ketika hidup kehilangan makna? Siapa yang harus dicari. Tuhan itu jawabnya. Tuhan tak pernah meninggalkan kita umatnya. Tuhan selalu ada untuk kita! Pertanyaannya dimana kita bisa mencari Tuhan?? Dalam doa dan keheningan itu jawabannya. Duduk…… Diam…… dan merenung ke hadiratNya. Mencari Dia dalam keheningan maka damai yang akan kita temukan. Tuhan tidak dapat kita temukan dalam keramaian, dalam hiruk pikut dunia dalam kesibukan kerja kita. Yah hanya dalam doa dan keheningan! God Bless You! I Love you full!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.